Jangan Meributkan Masalah Sepele !!??

12 01 2010

Bila anda mengingkari sebuah bid’ah, sebagian orang berkata kepadamu :

“Masalah sepele saja diributkan”

Atau berkata :

“ Masih ada masalah yang lebih besar dari itu”

Dan lain sebagainya.

Cobalah kita renungkan perkataan Al Imam Barbahari dalam kitab beliau yang agung “ Syarhussunnah” : Baca entri selengkapnya »





Syirik Cinta

22 07 2008

Benarkah cinta dapat menjerumuskan seorang hamba kepada kesyirikan?? Ternyata memang demikian, cinta yang salah dapat menjerumuskan seseorang kedalam kesyirikan yang merupakan dosa paling besar yang diperbuat untuk mendurhakai Allah,.

Cinta yang bagaimana yang menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan ??

Allah ta’ala berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)  (Al Baqarah 165)

Baca entri selengkapnya »





Penjelasan Haram dan Wajibnya Taqlid

24 05 2008

Muhammad Nashiruddin Albani

Termasuk hal yang disepakati oleh ulama bahwa taqlid adalah,

Mengambil suatu pendapat tanpa mengetahui dalil (landasannya)”

artinya, taqlid bukanlah berdasarkan ilmu pengetahuan. Maka atas dasar ini, para ulama menetapkan bahwa orang yang melakukan taqlid tidak dinamakan orang yang berilmu (‘alim) (Lihat Al Muwafaqat oleh Imam Syatibi (4/293)). Bahkan Ibnu Abdil Barr telah menukil kesepakatan tentang hal ini dalam kitab Jami’ Bayan Al Ilmi (2/37 dan 117), Ibnu Qoyim dalam kitab A’laamul Muwaqqi’in (3/293) dan Suyuthi maupun para peneliti yang lain, hingga sebagian mereka secara berlebihan mengatakan “ Tidak ada perbedaan antara taqlid terhadap hewan dengan taqlid terhadap manusia”

Penulis kitab Al Hidayah berkata sehubungan dengan seorang ahli taqlid yang memegang jabatan hakim :

Adapun taqlid yang dilakukan oleh orang awam menurut kami adalah boleh, berbeda dengan pendapat imam Syafi’i” ( ket: dalam pandangannya ini imam Syafi’i didukung oleh mayoritas ulama seperti Imam Malik dan Imam Ahmad )

Oleh sebab itu, para ulama berkata bahwa orang yang bertaqlid tidak diperkenankan memberikan fatwa.

Dengan mengetahui hal itu, maka jelaslah bagi kita sebab yang mendorong kaum salaf mencela dan mengharamkan taqlid, (lihat kitab Jami’ul Bayan Al Ilmi (2/109-120), karena perbuatan taqlid dapat menyeret seseorang untuk berpaling dari Al kitab dan Sunnah dalam rangka berpegang teguh dan taqlid terhadap pendapat para imam sebagaimana yang sering terjadi dikalangan para ahli taqlid. Bahkan, larangan melakukan taqlid seperti ini telah dinyatakan secara transparan oleh para imam generasi baru dalam madzhab Abu Hanifah. Syaikh Muhammad Al Khudari dalam pembahasannya tentang taqlid dan pelakunya berkata :

Baca entri selengkapnya »





Tenteram,…Indikasi Kebenaran ??!

12 05 2008

Perkembangan tehnologi semakin canggih menghiasi keberadaan dunia ini. Dari yang sederhana hingga yang rumit, seolah terjawab oleh arus tehnologi terkini. Jarak yang dulu dianggapnya jauh kini bisa ditempuh dengan hitungan jam. Peristiwa di belahan dunia lain bisa langsug diketahui oleh lainnya dalam sekejap. Pekerjaan yag memerlukan banyak tenaga manusia, dengan perlengkapan teknologi dapat diselesaikan secara cepat oleh satu atau dua orang saja. Bahkan kini keperluan rumah tangga pun diupayakan bisa dilayani robot. Apa yang diinginkan hanya dengan bicara, robot bisa menyediakan. Seolah, apapun yang diinginkan manusia dengan mudah memenuhinya.

Meski begitu , apakah segala pemenuhan ini dapat memberikan kepuasan dan ketentraman.? Apakah peradaban ini bisa memberi ketenangan ? Dalam banyak kasus tak sedikit manusia kemudian lari dari dunia. Perkembangan global tak bisa menjawab kebutuhan ruhiyah. Hingga kemudian, manusia mencari jalan alternatif, sarana yang bisa mendatangkan ketenangan, ketentraman, semisal olah nafas, kontemplasi atau lainnya. Bahkan aktifitas semacam ini diklaim mampu menyembuhkan bukan saja pemenuhan kepuasan bathiniyyah, tetapi konon mampu menyembuhkan penyakit pada umumnya. Orang menyebutnya sebagai pengobatan alternatif. Dengan hasilnya yang nampak, kemudian menjadi justifikasi kebenaran kandungan aktifitas dan substansi amaliyah tersebut. Bagaimana kita memahami persoalan ini ?

Berikut kami angkat sebuah naskah yang ditulis oleh Al Ustadz Ahmas Fais Asifudin, semoga kita dapat mengambil manfaatnya.

Baca entri selengkapnya »





Sebab yang Melapangkan Dada

9 04 2008

 

Sebab yang paling agung yang melapangkan dada adalah TAUHID. Sifat lapang dada seseorang sangat bergantung sejauh mana kesempurnaan, kekuatan, dan pertambahan tauhid dalam dirinya. Allahu ta’ala berfirman:

 

Maka apakah orang orang yang dilapangkan Allah hatinya untuk (menerima)agama islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya” (Az Zumar 22)

 

Hidayah dan Tauhid merupakan sebab terbesar yang melapangkan dada. Syirik dan kesesatan adalah sebab paling utama yang menyesakkan dan menyempitkan dada.

 

Diantara sebab yang melapangkan dada adalah cahaya yang dicampakan Allah dalam hati seorang hamba yaitu cahaya keimanan.Sesungguhnya ia melapangkan dada dan meluaskan serta menggembirakan hati. Jika cahaya ini hilang dari hati seorang hamba maka hatinya menjadi sempit dan sesak, Jadilah ia berada pada penjara sangat sempit dan sulit.

 

Perkara lain yang melapangkan dada adalah ilmu. Sesungguhnya ilmu dapat melapangkan dada dan meluaskannya hingga lebih luas daripada dunia. Baca entri selengkapnya »





Sifat nifaq…!!

29 02 2008

 

Nifaq ialah menampakkan perbuatan yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Orang yang melakukan perbuatan nifaq disebut munafiq. Nifaq terbagi menjadi dua, yaitu nifaq besar dan nifaq kecil.

 

  1. Nifaq Besar
    Nifaq besar yaitu menampakkan keislaman dengan lisannya, tetapi sebenarnya hati dan jiwanya mengingkari. Yang termasuk perbuatan nifaq besar di antaranya:

    • Mendustakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (dan ajaran beliau sama sekali), atau mendustakan sebagian dari seluruh ajaran yang beliau sampaikan. Baca entri selengkapnya »





Meminta Fatwa pada hati…??!

10 02 2008

 

Mungkin saja ada yang mengatakan : Bukankah ada hadits yang mengarahkan kita agar berpedoman dengan apa yang terbetik dadalam hati dan jiwa, meskipun disana tidak ada dalil yang menunjukkan suatu hukum diantara hukum hukum syari’at ??

 

Imam Muslim rahimahullah telah meriwayatkan hadits dari An Nawwas bin Sam’an Radhyallahu ‘anhu ia berkata :

Saya pernah bertanya kepada rasulullah shalalallahu ‘alaihi wassalam tentang kebajikan dan dosa, lalu beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab :

kebajikan itu adalah akhlak yang mulia dan dosa itu adalah apa yang bertengger didadamu sementara kamu tidak senang orang orang mengetahuinya” (HR Muslim no 2553)

 

Dari Anas bin Malik Radhyallahu ‘anhu, ia berkata:

Saya pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

Tinggalkanlah apa yang meragu ragukanmu, dan peganglah apa yang tidak meragu ragukan” (diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad III/53)

 

Dari wabishah Radhyallahu ‘anhu ia berkata :

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tentang kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab :

Hai, Wabishah, minta fatwalah kepada hatimu, dan mintalah fatwa kepada dirimu. Kebajikan adalah ap yang menjadikan jiwa dan hati merasa tenang, sedangkan dosa adalah apa yang terombang ambing dalam jiwa dan dada meskipun orang orang memberimu fatwa” (diriwayatkan oleh Imam Ahmad IV/227)

Baca entri selengkapnya »