Jangan Meributkan Masalah Sepele !!??

12 01 2010

Bila anda mengingkari sebuah bid’ah, sebagian orang berkata kepadamu :

“Masalah sepele saja diributkan”

Atau berkata :

“ Masih ada masalah yang lebih besar dari itu”

Dan lain sebagainya.

Cobalah kita renungkan perkataan Al Imam Barbahari dalam kitab beliau yang agung “ Syarhussunnah” : Baca entri selengkapnya »

Iklan




Meminta Kekuasaan, bolehkah…??

5 06 2008

Al Bukhari didalam “Shahih” nya meriwayatkan dan An Nasai didalam “As Sunan” meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhyallahu ‘anhu bahwa Rasululullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ علي الإِمَارَةِ وَ سَتَكُوْنُ نَدَامَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148)

Didalam hadits Ini terdapat satu tanda dari tanda tanda kenabian yaitu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengkabarkan tentang sesuatu yang belum terjadi kemudian terjadi sebagaimana disebutkan oleh beliau shalallahu ‘alaihi wassalam .

Sabdanya, “Kalian akan berambisi”, ditujukan kepada kita semua. Tidak keluar dari pengertian ini kecuali orang yang dijaga oleh Allahu ta’ala. Dan sabda Beliau . “padahal kekuasaan tersebut akan menjadi penyesalan dihari kiamat” maknanya seorang muslim seharusnya tidak hanya melihat pada jabatan yang diharapkan saja. Tetapi harus melihat pada apa yang akan dia dapati kelak ketika berjumpa dengan Allahu ta’ala.

Telah datang riwayat dalam Shahih Muslim bahwa Abu Dzar radhyallahu ‘anhu berkata

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَ إِنَّها أَمَانَةٌ وَ إِنَّها يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَ نَدامَةٌ إِلاَّ من أَخَذَها بِحَقِّها وَ أَدَّى الَّذِي عَلَيْه فِيْها

Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Shahih, HR. Muslim no. 1825)

Maka, renungkanlah sikap sikap Rasululullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada sekelompok sahabat beliau, padahal mereka adalah orang yang baik, bertakwa, shalih, berilmu, zuhud dan wara’. Dalam keadaan yang seperti ini semua Rasululullah shalallahu ‘alaihi wassalam melarang mereka semua untuk mencapai kekuasaan apapun bentuknya.

Baca entri selengkapnya »





Apakah tabdi’ sama dengan takfir ?

22 02 2008

Sebagian orang berpendapat bahwa tabdi’ (menyatakan seseorang sebagai ahli bid’ah) tidaklah sama dengan takfir (mengkafirkan seseorang). Seseorang yang terjatuh dalam tindak kekufuran karena ta’wil maka mendapat udzur dan tidak bisa dikafirkan, berbeda halnya dengan orang yang melakukan bid’ah, meskipun ia melakukannya karena ta’wil tetap tidak bisa mendapat udzur dan dikatakan sebagai ahli bid’ah.

Pendapat seperti ini tidak benar dan telah disanggah oleh Syeikh Al-Albani rahimahullah

Beliau pernah ditanya,

‘Bagaimana pendapat anda tentang ungkapan berikut: Ta’wil menghalangi takfir nemun tidak menghalangi tabdi’ ? Dengan kata lain pelaku ta’wil adalah ahli bid’ah, namun tidak setiap muta-awwil adalah kafir.Apakah ungkapan ini secara mutlak benar ataukah ada perinciannya? Semoga Allah memberi keberkahan pada anda.”

 

Syaikh al-Albani rahimahullah menjawab : Baca entri selengkapnya »





Meminta Fatwa pada hati…??!

10 02 2008

 

Mungkin saja ada yang mengatakan : Bukankah ada hadits yang mengarahkan kita agar berpedoman dengan apa yang terbetik dadalam hati dan jiwa, meskipun disana tidak ada dalil yang menunjukkan suatu hukum diantara hukum hukum syari’at ??

 

Imam Muslim rahimahullah telah meriwayatkan hadits dari An Nawwas bin Sam’an Radhyallahu ‘anhu ia berkata :

Saya pernah bertanya kepada rasulullah shalalallahu ‘alaihi wassalam tentang kebajikan dan dosa, lalu beliau shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab :

kebajikan itu adalah akhlak yang mulia dan dosa itu adalah apa yang bertengger didadamu sementara kamu tidak senang orang orang mengetahuinya” (HR Muslim no 2553)

 

Dari Anas bin Malik Radhyallahu ‘anhu, ia berkata:

Saya pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

Tinggalkanlah apa yang meragu ragukanmu, dan peganglah apa yang tidak meragu ragukan” (diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad III/53)

 

Dari wabishah Radhyallahu ‘anhu ia berkata :

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tentang kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab :

Hai, Wabishah, minta fatwalah kepada hatimu, dan mintalah fatwa kepada dirimu. Kebajikan adalah ap yang menjadikan jiwa dan hati merasa tenang, sedangkan dosa adalah apa yang terombang ambing dalam jiwa dan dada meskipun orang orang memberimu fatwa” (diriwayatkan oleh Imam Ahmad IV/227)

Baca entri selengkapnya »





Apakah mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya ?

31 01 2008

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Bani ditanya: “Ada sebagian orang yang berkata bahwa apabila terdapat sebuah hadits yang bertentangan dengan ayat Al-Qur’an maka hadits tersebut harus kita tolak walaupun derajatnya shahih.

 

Mereka mencontohkan sebuah hadits: “Sesungguhnya mayit akan disiksa disebabkan tangisan dari keluarganya.”

Mereka berkata bahwa hadits tersebut ditolak oleh Aisyah Radliyallahu ‘anha dengan sebuah ayat dalam Al-Qur’an surat Fathir ayat 18: “Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.

 

Bagaimana kita membantah pendapat mereka ini ?

Baca entri selengkapnya »





Berhujjah dengan Mimpi-mimpi

26 01 2008

Hujjah yang paling lemah adalah hujjah suatu kaum yang menyandarkan diri kepada mimpi mimpi untuk melaksanakan atau meninggalkan suatu amalan. Mereka biasanya berkata “Kami bermimpi bertemu si fulan –biasanya seorang yang shalih– lalu dia berkata kepada kami ‘Tinggalkan amalan itu dan lakukan amalan ini”

 

Sebagian yang lain berkata “ Aku bermimpi bertemu Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam diwaktu tidur lalu beliau berkata begini danmemerintahkan begitu” kemudian dia mengamalkan atau meninggalkan suatu amalan berdasarkan mimpinya itu, berpaling dari batasan batasan yang telah dibuat oleh syari’at.

 

Jelas itu suatu kesalahan. Baca entri selengkapnya »





Mengkompromikan Antara Hadits Hadits yang Dianggap Kontradiksi

17 01 2008

Imam asy Syathibi rahimahullah berkata : “ Dalil dalil yang menjadi dasar syari’at tidak mungkin satu dengan yang lainnya saling kontradiktif/ bertentangan, maka siapapun yang meneliti kaidah hukum dengan seksama pasti tidak mendapati kesamaran sama sekali didalamnya, sebab tidak mungkin terjadi pertentangan antara ajaran agama, sehingga kita tidak menemukan adanya dua dalil yang disepakati umat islam saling bertentangan yang mewajibkan seorang tawaqquf (tidak bisa mengamalkan), namun karena seorang mujtahid tidak ma’shum boleh jadi yang terjadi pertentangan bukan dalam nash nya tetapi dalam pemahamannya” (Al Muwafaqaat 4/244)

 

Faktor yang menjadi sebab adanya anggapan kontradiksi antara nash yang satu dengan yang lainnya secara zhahir antara lain : Baca entri selengkapnya »