Ruju’nya ustadz Ja’far Umar Tholib (2)

17 05 2010

 

Berita tentang ruju’nya ustd. Ja’far mengundang kontroversi berbagai kalangan, setelah pertemuan dengan syeikh Robi’ tahun lalu (2009) ustd. Ja’far kembali bertemu dengan Syeikh Rabi’ kembali pertengahan bulan lalu ( April 2010)  bagaimana kisah nya,… ?? ikuti penuturan beliau berikut ….

 

Berikut ini hasil transkrip kajian khusus mengenai cerita perjalanan umrah Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib pada bulan yang lalu. Kajian ini diselenggarakan pada tanggal 13 Jumadil Awwal 1431 H bertepatan dengan tanggal 27 April 2010 M bertempat di Masjid ‘Utsman Bin ‘Affan, Jl Kaliurang km.15 Degolan Yogyakarta.

Kita berkumpul di masjid ini untuk bincang-bincang tentang apa yang saya jalani selama umrah. Saya juga tidak mengerti kenapa kalian begitu penasaran dengan perjalanan umrah saya itu, apa mungkin karena informasi yang bersamaan dengan umrah saya itu ada para Ustadz Salafiyyin dalam rangka bertemu dengan para massyaikh (para Ulama) khususnya Syaikh Rabi’ Bin Hadi Al-Madkhali Hafidzhahullah di Makkah. Jadi pemberitaan-pemberitaan itu saya sendiri tidak mengerti, pasalnya saya sempat diundang oleh saudara Wintazon di Semarang guna klarifikasi berkenaan dengan kasus-kasus di masa jihad yang saya pimpin di Maluku dan Poso ketika itu.

 

Sesungguhnya saudara Wintazon meminta kepada saya sudah lama, namun saya tolak dan saya katakan “masa orang kumpul dari jauh-jauh hanya untuk mendengarkan cerita tentang Ja’far!” nah itu saya keberatan, tetapi kemudian saudara Wintazon meyakinkan saya bahwa pentingnya acara itu untuk mengundang Salafiyyin khususnya mantan-mantan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah untuk klarifikasi tersebut. Maka akhirnya dengan taqdir Allah, saya mau memenuhi undangan tersebut, dan acara itu saya minta untuk diadakan dirumah saja. Gambaran saya yaa cuma beberapa orang yang hadir, namun ternyata tidak disangka tidak diduga yang hadir banyak juga. Para hadirin yang berdatangan tidak hanya dari Semarang saja, tapi bahkan dari Jawa Timur, dari Blitar dan dari berbagai kota datang menghadiri acara tersebut, dan itu beberapa bulan yang lalu. Berbagai pembicaraan saya, dan keterangan saya dalam acara tersebut yaitu mengenai kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan di masa jihad dulu itu direkam oleh banyak pihak yang hadir, dan saya tidak tahu siapa saja yang merekam itu. Jadi saya tidak mengerti penyebaran rekaman itu, karena memang penyebaran rekaman itu merupakan inisiatif pribadi yang hadir, dan bukan inisiatif panitia dalam hal ini saudara Wintazon.

 

Ikhwani fiddin ‘azzakumullah, saya menyatakan berbagai kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masa jihad yang lalu itu bukanlah kesalahan dalam bentuk syirik yang dapat menggugurkan amalan jihad itu sendiri, tetapi kesalahan-kesalahan yang terjadi sebagai kelemahan saya sebagai pimpinan Laskar Jihad. Dan saya juga uraikan semua kesalahan yang dilakukan oleh Salafiyyin selama masa jihad tersebut itu adalah tanggung jawab saya sebagai panglima dan saya bertaubat kepada Allah Ta’ala dari kesalahan-kesalahan tersebut.

 

Saya tidak hafal apa pembicaraan saya waktu itu, karena memang saya tidak menghafal omongan yang sudah saya omongkan, namun kemudian timbul reaksi yang tidak disangka dari berbagai pihak kalangan Salafiyyin. Pada umumnya reaksi yang berkembang ialah gembira dengan keterangan-keterangan saya dalam acara itu, dan pernyataan taubat saya kepada Allah dari perbuatan-perbuatan yang telah saya lakukan itu, dan itu reaksi yang saya anggap wajar kalau gembira, yaa namanya saudara kalau mendengar bekas pimpinannya atau bekas gurunya itu bertaubat dari kesalahan-kesalahannya kemudian gembira, maka itu wajar. Tapi yang tidak wajar dan saya merasa aneh, bahkan sampai malam ini saya tidak paham mengapa timbul reaksi itu yakni adanya reaksi dari beberapa gelintir orang yang resah dan khawatir atau takut dengan pernyataan taubat saya itu, sehingga terjadi perdebatan seru antar kelompok dari mantan-mantan Laskar Jihad itu.

 

Disini saya tidak perlu sebut nama anak-anak kemarin yang sedang resah itu, karena memang tidak ada kepentingannya dan bukan ilmu bagi kalian tentang berbagai kelompok yang resah itu. Walhasil reaksi keresahan itu macam-macam, terlebih lagi reaksi kelompok yang gembira dan itu mayoritas, dan sebagian daripada mereka yang gembira itu terang-terangan menyatakan kegembiraannya.

 

Kelompok yang gembira itu antara lain, dan dalam hal ini yang paling terdepan adalah Ustadz Dzul Akmal Abul Mundzir, Riau. Beliau sangat gembira dengan adanya acara di Semarang itu, dan mengumumkan kegembiraannya itu di majlis pengajiannya di Pekanbaru, bahkan hadirin menyambut berita itu dengan kalimat takbir. Dan sebelumnya sempat juga direncanakan untuk segera menyelenggarakan acara daurah akbar di Sumatera guna mengundang Ustadz Ja’far, tandasnya.

 

Kemudian Ustadz Dzul Akmal menelpon saya untuk kali pertama setelah 10 tahun tidak ada komunikasi:

 

Ustadz Ja’far : “Ini siapa…?”

Ustadz Dzul Akmal : “Ini Akmal”

Ustadz Ja’far : “Akmal siapa…?”

Ustadz Dzul Akmal : “Akmal Riau.. Akmal Riau.. Dzul Akmal”

Ustadz Ja’far : “Owh.. Dzul Akmal….”

 

Karena memang kurang lebih sudah 10 tahun tidak mendengar suara beliau, jadi saya perlu tanya siapa ini. Dan sejak itu kesimpangsiuran berita mengenai Ja’far terus terjadi melalui sms dengan begitu seru, sehingga menimbulkan percekcokan diantara mantan-mantan murid ini tadi antara pro dan kontra.

 

Saya heran, padahal tidak ada acara PILKADA atau apa, saya sendiri tidak mengerti, namun kenyataannya memang terjadi pro dan kontra. Baik yang pro maupun yang kontra sama-sama bersitegang, bahkan muncul ide-ide untuk saling mengambil, yakni kebiasaan masa lalu dengan menculik kemudian dihajar. Saya katakan “Innalillah Wa Inna Ilaihi Raji’un!!”, saya tidak menduga kok begitu rupa reaksi dari acara di Semarang tersebut, bahkan sampai beredar sms yang berisi ajakan kepada para Ustadz Salafiyyin seluruh Indonesia, diajak oleh Ustadz Ja’far guna umrah bersama dan bertemu para massyaikh untuk Ishlah….., saya tidak mengerti mengapa kok bisa muncul sms seperti itu.

 

Sesungguhnya yang terjadi itu adalah saya yang ditelpon oleh Ustadz Dzul Akmal untuk diajak umrah bersama, yakni untuk bertemu orang tua kita Syaikh Rabi’ Bin Hadi Al-Madkhali, “ayo kita bikin gembira orang tua kita”, imbuhnya. Yaa saya senang, dan saya pun bilang “kamu saja”, namun Ustadz Dzul Akmal menjawab “Ustadz saja yang mengajak Ustadz Muhammad As-Sewed dan Ustadz Usamah Mahri”.

 

Kemudian saya telpon Ustadz Muhammad As-Sewed guna mengajak beliau untuk bersama-sama bertemu Syaikh Rabi’, Ustadz Muhammad menjawab: “Owh yaa bagus, saya coba nanti lihat keadaan…….., ya nanti setelah acara saja..”. Karena waktu itu bersamaan dengan menjelang datangnya seorang da’i dari Yaman yakni Abdullah Al-Mar’i ke Bandung, karena ada acara disana. Karena mendapatkan jawaban seperti itu, maka saya boking 2 tiket kepada travel terkait yaitu untuk saya dan Ustadz Muhammad As-Sewed. Namun ternyata setelah pertemuan di Bandung, Ustadz Muhammad As-Sewed memberitakan bahwa “…betapa serunya perdebatan dalam pertemuan itu yakni perdebatan antara pro dan kontra mengenai taubatnya Ustadz Ja’far…”, maka saya katakan “..ada apa taubatnya Ustadz Ja’far kok diperdebatkan..!!” benar-benar saya tidak mengerti. Namun dengan melihat serunya perdebatan itu, Ustadz Muhammad telpon saya dan menyatakan bahwa beliau untuk sementara tidak bisa berangkat bersama saya dan Dzul Akmal untuk bertemu Syaikh Rabi’. Dan akhirnya saya pun berangkat bersama istri, dan “Qaddarallahu Maa Sya’a Fa’al” semula saya ingin berangkat bersama Dzul Akmal ternyata dari pengurusan visa menyatakan tidak bisa berangkat bersama, dan ternyata saya berangkat lebih dulu.

 

Setelah selesai menjalankan umrah, seperti biasa saya mampir ke rumah Syaikh Rabi’ bersama jama’ah dari Pekalongan diantaranya Muhammad At-Tamimi dan beberapa orang. Ketika tiba disana, sikap Syaikh Rabi’ waktu kali pertama bertemu saya kemarin itu tampak pada wajah beliau kemarahan, dan pada waktu itu beliau sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para penanya yang hadir di majlis beliau tersebut. Karena banyak orang yang mengajukan pertanyaan kepada Syaikh, maka saya pun ikut bertanya dalam majlis tanya jawab tersebut. Saya katakan “Yaa Syaikh.. saya ingin bertanya..?”, namun saya tidak menyangka ketika itu Syaikh Rabi’ menoleh kepada saya sambil marah dan menyatakan:

 

..Adapun engkau telah sampai kepada saya, fax laporan tentang engkau..! jangan engkau berbuat dalam beragama itu seperti ini..! bertaqwalah kepada Allah.. !”. Kemudian beliau berdiri, dan masuk kedalam rumah beliau.

 

Seketika itu saya terkejut dan merasa heran, tiba-tiba Syaikh marah seperti itu terhadap saya, dan saya berpikir, apa yang terjadi dengan Syaikh?. Saya ingat ketika itu beliau marah sambil menunjukkan fax, dan menyatakan:

 

..Fax ini jika saya bacakan dihadapan hadirin maka ini aib..! tidak pantas saya bacakan dihadapan mereka semua..! dan ini keaibanmu..!”. Dan kemudian beliau bawa masuk fax itu.

 

Setelah melihat sikap Syaikh seperti itu, saya dan rombongan segera pulang, dan saya pun berusaha memadamkan kejengkelan saya kepada orang-orang yang mengirim fax itu. Dan ketika saya thawaf di Ka’bah, saya berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya. Setelah beberapa hari dari peristiwa itu, alhamdulilllah saya merasa lebih tenang. Namun kemudian saya ungkapkan kembali kejengkelan saya itu ketika Dzul Akmal menelpon saya dari Madinah:

 

Ustadz Dzul Akmal : “Sabar Ustadz.., ini kita menghadapi orang tua..”

Ustadz Ja’far : “Alah sudahh! Ente yang nyuruh-nyuruh saya untuk datang..!

Ustadz Dzul Akmal : “Lho ndak.. ini kita harus usaha untuk ketemu lagi..”

Ustadz Ja’far : “Ndak wes..ndak usah..!! (saya jengkel betul waktu itu dengan fax laporan tersebut)

 

(Beberapa hari setelah itu, Dzul Akmal kembali menghubungi saya)

Ustadz Dzul Akmal : “Ustadz.. sebaiknya kita usaha lagi untuk bertemu dengan Syaikh Rabi’, kita ini harus tawaadhu’ (rendah hati) dihadapan Ulama, nanti Allah akan angkat derajat kita, jika kita tawaadhu’ dihadapan Ulama.

Ustadz Ja’far : “Owh ya yaa.. ya sudah kalau begitu..”

 

Dan kemudian saya berusaha menghubungi murid-murid terdekat Syaikh Rabi’, seperti Syaikh Ahmad Al-Ghamidi di Jeddah, dan ternyata Syaikh Ahmad memberikan nasehat yang sama seperti nasehatnya Dzul Akmal. Syaikh mengatakan “..Kita menghadapi orang tua, dan orang tua kita ini umurnya sudah 80 tahun, jadi yaa kita menghadapi orang yang matang dengan ilmu, maka kita harus tawaadhu’”.

 

Kemudian saya pun menghubungi Syaikh Usamah Bin ‘Athaya Al-Utaibi di Madinah, beliau juga menasehatkan agar saya sabar, dan barangkali berbagai kesulitan-kesulitan ini sebagai kaffarah (penggugur) atas dosa-dosa kesalahan saya ketika di masa-masa jihad yang lalu. Dan kemudian saya minta tolong kepada beliau untuk kiranya mendapatkan isi fax tersebut, supaya kita bisa menyikapinya dengan benar. Walhamdulillah fax tersebut berhasil beliau dapat, dan segera dikirim ke Jeddah, karena posisi saya ketika itu di Jeddah, dan fax itu dikirimkan kepada Syaikh Ahmad Al-Ghamidi di Jeddah. Akhirnya Syaikh Usamah Bin ‘Athaya Al-Utaibi dari Madinah datang ke Jeddah dan bergabung bersama kita untuk membicarakan perihal isi fax tersebut.

 

Kesimpulan Syaikh Usamah dari isi fax yang dikirim oleh orang-orang yang resah dengan pernyataan taubat saya itu, beliau menyimpulkan “bahwa itu laporan tempo dulu, yakni masalah lama”. Jadi diungkit-ungkit kembali guna meyakinkan Syaikh Rabi’ kalau Ja’far itu taubatnya dusta. Dan memang kelompok yang resah ini mengirim fax kepada Syaikh Rabi’ karena tidak rela jika Ja’far itu berhubungan dengan Syaikh Rabi’, demikian kesimpulan sementara secara dzhahir berdasarkan indikasi-indikasi yang ada. Syaikh Usamah menyampaikan kepada saya, “..Bahwa Syaikh Rabi’ menyimpulkan kalau Ja’far Umar Thalib itu berusaha menghubungi Syaikh Rabi’ karena ingin kepemimpinan terhadap Salafiyyin. Kesimpulan Syaikh Rabi’ ini tidak mungkin kesimpulan dari beliau sendiri hafidzhahullah, melainkan dari informasi yang sampai kepada beliau tentunya..”. Kemudian saya katakan bagaimana selanjutnya menurut antum?, dan Syaikh Usamah menyatakan “..Baiklah, nanti saya telpon Syaikh..”. Setelah itu Syaikh Usamah menelpon Syaikh Rabi’ dari rumah Syaikh Ahmad Al-Ghamidi, karena beliau (Syaikh Ahmad) yang berinisiatif untuk buat acara kumpul bersama dengan saya dirumah beliau, tepatnya di Jeddah. Syaikh Usamah menghubungi Syaikh Rabi’, dan menyatakan:

 

Syaikh Usamah: “Yaa Syaikh, ini akhina Ja’far mau berkunjung ke antum..bagaimana yaa Syaikh..?

Syaikh Rabi’: “Kalau mau kunjung kemari, Ja’far harus menulis dulu pernyataan taubatnya dia kepada Allah dari berbagai pelanggaran-pelanggaran yang dilaporkan kepada saya..!

 

Kemudian Syaikh Usamah memberitakan kepada saya mengenai pembicaraan beliau melalui telpon dengan Syaikh Rabi’ Hafidzhahullah. Pun akhirnya saya menulis surat pernyataannya sebagai berikut:

 

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 

Kepada Yang Mulia Al Waalid Al ‘Allaamah Rabi’ Bin Hadi Al Madkholi

Semoga Allah selalu menjaganya dan meluruskan langkahnya

 

Sungguh aku menulis dalam baris-baris (kalimat-kalimat) ini dalam rangka melaksanakan perintah antum yang mulia kepadaku agar aku menetapkan kesungguhan taubatku kepada Allah dari kesalahan-kesalahanku (yang telah aku lakukan, yang menurut perkiraanku dalam rangka membela As Sunnah namun ternyata perkiraanku ini telah salah). Dan aku telah bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha dari segala kesalahan-kesalahan itu semua. Juga pengakuanku bahwa kesalahan yang aku lakukan tersebut menyelisihi Manhaj As Salafush Shalih.

Berikut ini kepada antum, aku beritahukan kesalahan-kesalahanku secara terperinci;

 

1.      Aku yakinkan kepada antum wahai Syaikh yang mulia bahwa sesungguhnya aku tidaklah menginginkan kepemimpinan terhadap ikhwan salafiyyin dan juga terhadap orang-orang selainnya, walhamdulillaah.

2.      Kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan pada masa-masa jihad yang lalu yang sudah disebutkan oleh sebagian ikhwan atau yang tidak disebutkan oleh mereka, (maka sebagai panglima) aku menanggung semua akibatnya dan aku bertaubat kepada Allah dari kesalahan-kesalahan tersebut.

3.      Bahwa aku telah bergabung dalam debat yang terjadi antara aku dan orang-orang sekuler dan dihadiri pula oleh kaum wanita tanpa hijab, maka ini semua adalah menyelisihi manhaj As Salaf dan aku bertaubat daripadanya.

4.      Aku telah menghadiri majlis-majlis dzikir yang dikumandangkan secara berjama’ah bersama kaum sufi, maka ini semua adalah menyelisihi manhaj As Salaf dan aku bertaubat kepada Allah dari padanya.

5.      Aku telah bergabung dalam sebuah dauroh (pengajian) yang dihadiri oleh sebagian hizbiyyin dan ini semuanya menyelisihi manhaj As Salaf dan aku bertaubat kepada Allah dari padanya.

6.      Aku telah menggampang-gampangkan pada sebagian ucapan yang di dalamnya didapati semacam pelecehan terhadap Ulama, semua ini adalah menyelisihi manhaj As Salaf dan aku bertaubat kepada Allah dari padanya.

7.      Aku telah menghadiri majlis yang di dalamnya terdapat acara perdebatan bersama para pendeta Nashara, Budha, dan Hindu. Dan semua ini adalah menyelisihi manhaj As Salaf dan aku bertaubat kepada Allah dari padanya.

 

Inilah yang ingin aku tuliskan kepada antum yang mulia dengan sebenar-benarnya dan sejelas-jelasnya dan aku mohon Ampunan Allah untuk ku, kedua orang tuaku, untuk antum dan segenap kaum muslimin.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

 

Saya serahkan surat pernyataan itu diatas setelah dibaca Syaikh Usamah Bin ‘Athaya Al-Utaibi, kemudian juga Syaikh Ahmad Al-Ghamidi dan saya serahkan kepada murid Syaikh Rabi’ yang lainnya yang selalu mendampingi beliau yakni Syaikh Abu Ishaq Al-Jaza’iri untuk kemudian diserahkan kepada Syaikh Rabi’ Hafidzhahullah. Selang sehari setelah saya serahkan kepada Syaikh Abu Ishaq Al-Jaza’iri, kemudian saya telpon Syaikh Abu Ishaq dari Jeddah ke Makkah:

 

Ustadz Ja’far : “Yaa Syaikh.. apa sudah antum serahkan suratnya kepada Syaikh Rabi’? dan apakah Syaikh Rabi’ telah membacanya?”

Syaikh Abu Ishaq : “Alhamdulillah.. Syaikh telah membacanya, dan Syaikh amat gembira dengan surat antum itu..”

Ustadz Ja’far : “Saya ingin pulang tanggal 22 April 2010 jam 12 malam, usahakan supaya saya bisa bertemu Syaikh Rabi’..”

Syaikh Abu Ishaq : “Yaa sudah, kalau begitu nanti saya atur pertemuan itu..”

 

(Satu jam setelah itu, kembali saya hubungi Syaikh Abu Ishaq Al-Jaza’iri)

 

Ustadz Ja’far : “Bagaimana yaa Syaikh..?”

Syaikh Abu Ishaq : “Syaikh Rabi’ menunggu antum shalat maghrib bersama di masjid dekat rumah beliau, nanti bersama-sama kerumah beliau, dan waktu untuk berbicara dengan beliau antara Maghrib dan ‘Isya (yakni tanggal 22 April 2010).

Ustadz Ja’far : “Owh.. yaa sudah..”

 

Siang hari jam 11 saya segera berangkat dari Jeddah menuju ke Masjidil Haram dan bersama istri untuk shalat Dzhuhur dan shalat Ashar, dan Thawaf dan kemudian doa kepada Allah. Setelah selesai Thawaf, saya bersama istri berangkat kerumah Syaikh Rabi’, dan sampai depan pintu gerbang rumah Syaikh Rabi’ bersamaan dengan waktu adzan Maghrib. Saya segera berangkat ke Masjid dan alhamdulillah saya lebih dulu yang masuk ke masjid sebelum Syaikh Rabi’, kemudian saya shalat sunnah di shaf depan belakang imam, dan saya melihat Syaikh Rabi’ sedang shalat sunnah disamping saya. Kemudian setelah itu saya mengucapkan salam kepada Syakh Rabi’ dan Syaikh menjawab:

 

Wa’alaikumussalam… hayyakallah yaa Syaikh Ja’far, bagaimana kabarnya..?”

 

Walhamdulillah wajah Syaikh Rabi’ kembali ceria dan gembira, dan ini harapan saya. Kemudian setelah selesai shalat Maghrib terus kerumah beliau, dan pada waktu itu ada tamu dari ‘Iraq, sehingga pembicaraan terfokus pada apa yang terjadi di ‘Iraq. Namun kemudian Syaikh Rabi’ menyatakan:

 

Sampai disini dulu.. saya ada janji dengan Syaikh Ja’far…”

 

Kemudian saya digandeng oleh Syaikh Rabi’ untuk masuk kedalam rumah beliau. Dan Syaikh sudah membaca surat pernyataan saya, dan Syaikh menasehatkan:

 

Yang terpenting antum beramal dengan apa yang sudah antum tulis, dan berusahalah untuk mengupayakan kembali persatuan diantara kalian Salafiyyin..”

 

Setelah itu saya permisi kepada Syaikh, dan diantar oleh para tamu-tamu lain dan kemudian saya pulang. Jadi kenapa saya ngotot berusaha memperbaiki hubungan dengan Syaikh Rabi’, meskipun upaya untuk menjegal usaha saya itu demikian dahsyat, jawabannya karena berhubung saya da’i ilas salaf, maka harus dibawah bimbingan para Ulama. Jika ada pertanyaan “Kenapa kok baru sekarang berusaha melakukan upaya hubungan itu!?”, jawabannya yaa setelah saya membubarkan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah pada bulan Oktober 2002, saya diberitahu oleh kepala BIN ketika itu Hendropriyono yakni agar saya tidak keluar negeri karena saya tercatat di FBI sebagai teroris internasional. Dan jika saya keluar negeri maka saya akan diperlakukan seperti Agus Dwi Karna, orang Makassar yang ditangkap di Filiphina; yakni tas koper saya disusupi bahan peledak sebagai alasan untuk menangkap saya. Maka saya dalam kondisi seperti itu tidak bisa keluar negeri, saya berusaha menghubungi Ulama melalui telpon pun tidak bisa, sementara informasi kepada para Massyaikh tentang Ja’far Umar Thalib begitu dahsyat, dan saya tidak bisa melawan informasi itu karena memang saya tidak bisa keluar negeri.

 

Sampai pada akhir tahun 2007/2008, saya di informasikan oleh Wakil Kepala BIN saudara beliau menyatakan: “Alhamdulillah nama Ustadz sudah dicoret di FBI, jadi Ustadz sudah bisa keluar negeri, tapi nama Ustadz masih tercantum di Vatikan sebagai teroris internasional, jadi silakan Ustadz keluar negeri namun jangan ke negara-negara dibawah pengaruh Vatikan seperti Filiphina ataupun Singapura..”.

 

Maka pada bulan Mei 2008, saya berangkat umrah bersama istri, dan kesempatan umrah itu saya gunakan untuk bertemu Syaikh Rabi’, dan ketika thawaf saya berdoa kepada Allah kiranya memberikan jalan untuk bertemu dengan Syaikh Rabi’, dan saya berdoa kepada Allah dipintu Ka’bah (yakni Multazam). Setelah saya keluar dari Masjidil Haram, saya bertemu Al-Akh Fariq Anuz, dan sempat berbicara denganya, ternyata Al-Akh Fariq punya nomor telponnya Syaikh Ahmad Al-Ghamidi. Dan kemudian Al-Akh Fariq menghubungi Syaikh Ahmad dan membuat janji bersama, dan akhirnya kita berangkat menuju rumah Syaikh Ahmad Al-Ghamidi. Sesampainya disana saya ceritakan duduk permasalahannya, dan saya katakan kalau saya ingin bertemu Syaikh Rabi’. Walhamdulillah Syaikh Ahmad langsung menghubungi Syaikh Rabi’, dan kita pun berangkat ke Makkah menuju rumah Syaikh Rabi’, dan pada saat itu dimulai kembali pertemuan dengan Syaikh Rabi’.

 

Rupanya pertemuan saya dengan Syaikh Rabi’ itu membuat resah dan geger pada kelompok orang-orang yang resah itu, dan saya tidak mengerti kenapa reaksi mereka seperti itu. Setelah saya kembali ke Indonesia dari Makkah, mereka orang-orang yang resah itu mengutus orang-orang untuk bertemu Syaikh Rabi’ dan memberitakan kepada Syaikh mengenai keabsahan taubatnya Ja’far Umar Thalib yakni mengesankan taubatnya itu dusta. Kemudian beberapa bulan setelah itu yaitu pada bulan Ramadhan, saya kembali bertemu dengan Syaikh Rabi’, namun laporan-laporan tentang Ja’far Umar Thalib sudah lengkap diserahkan kepada Syaikh Rabi’. Demikian yang terjadi, wallahu a’lam.

 

Maka saya nasehatkan kepada antum sekalian, bahwa harga diri itu harus diletakkan lebih murah disbanding dengan harga hubungan kita dengan para Ulama. Karena dakwah Salafiyah itu ciri khasnya dibimbing oleh para Ulama. Meskipun timbul berbagai upaya dari berbagai pihak untuk menggagalkan usaha saya untuk berhubungan dengan para Ulama, maka saya berupaya melawannya dengan doa, sehingga Allah terus memberi kesempatan kepada saya untuk bertemu para Ulama, dengan niat untuk mendulang faidah dan ilmu serta nasehat-nasehat dari para Ulama Hafidzhahumullah. Bahkan Syaikh Usamah Bin ‘Athaya Al-Utaibi sempat bercerita kepada saya tentang kisah para Ulama terdahulu. Yakni ada seseorang yang datang berulang kali kepada Imam Malik guna mendapatkan ilmu, namun Imam Malik tidak mau menerimanya, bahkan beliau sampai memukulinya dengan sandal berulang kali hingga 14 kali. Imam Malik marah karena orang itu selalu membututi kemana Imam Malik pergi. Namun setelah luluh hati Imam Malik karena diikuti terus, beliau pun memberikan ilmunya sebanyak 14 riwayat, berhubung pernah 14 kali dipukul dengan sandal. Dan orang tersebut menyatakan dihadapan Imam Malik untuk rela dipukuli lagi oleh beliau demi mendapatkan riwayat ilmu, akan tetapi Imam Malik tidak mau memenuhi keinginannya.

 

Demikian jalan para Ulama untuk mengambil ilmu, dan itu teladan bagi kita semua, karena ilmu yang disampaikan oleh para Ulama itu lebih mahal dari harga diri kita.

 

http://alghuroba.org/184


Aksi

Information

21 responses

17 05 2010
Rizki Aji

ana udah baca, bahkan waktu walimah fikri kemarin di Bogor ana hadir. dan ustadz ja’far juga hadir. tadinya ana mo ajak antum. cuma karena no antum gak bisa di hubungi lagi. jadinya gak bisa deh akh ngajak antum. yang hadir ada zevian, barkan, dan bahron. di bogor hari ahad kemarin. kita berbincang dengan ustadz jafar tentang banyak hal. alhamdulillah kami semua lega dengan penjelasan beliau. sayangnya kami tak merekamnya

17 05 2010
abu zainab abdullah

Alhamdulillahi Robbil ‘aalamin…ini merupakan kabar yg sangat menggembirakan.

18 05 2010
rahma

alhamdulilah

21 05 2010
w2

alhamdulilah..kabr gembira bagi kita semua..semoga ustadz jafar terus istiqomah

3 06 2010
agung

alhamdulillah, allahu akbar

15 06 2010
abu al faris

Alhamdulillah, Barakallohufikh,,,

18 06 2010
abufifah

Alhamdulillahi Robbil ‘aalamin…
kahabar yang sangat menggembirakan,
dan begitukah seharusnya sikap orang orang yang menisbatkan dirinya sebagai salafiyin, bersatu di dalam kebenaranm bersatu diatas assunah,
mendengar nasehat dan bertaubat ketika kita merasa salah,

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baiknya pemberi ampun.

Wassalam,

6 10 2010
zaki

Mengapa itu dibilang rujuk??? dosa dia terbesar dan bekas orang laskar jihat adalah fitnah yang ia buat untuk ustad ABDUL HAKIM ABDAD DAN USTAD YAZID. KENAPA DIA TIDAK MINTA MAAF KE MEREKA DAN MENGUMUMKANNYA. Saya lihat orang Ex LASKAR JIHAD SAMA SAJA AMBISIUSNYA MENJADI PIMIMPIN DAN SUKA IRI HATI

14 11 2011
abu husein

ana setuju akhi zaki,karena ex laskar jihad (LJ),sampai sekarng suka bikin fitnah,walau tak semua,suka menuduh ikwan yg lain surury,sampai ada yg tak mau,diberi salam sudah mirip paham khawarij,na’uzubillah

27 03 2013
rapstardunk

Ya Zaki Jaga mulut antum klo bicara tabayyun dulu bru cakap. antum tidak tahu apa2 mengenai ustadz ja’far umar thalib klo antum ingin kejelasan silahkan datang ke ma’had ihya’us sunnah klo antum memang berani jangan berani cakap dibelakang saja klo shlus sunnah itu macan yang pemberani bukan ayam yang mengaum terus ganti kotek qila waqola.

3 11 2010
Ibnu Sholeh (Admin)

@zaki : orang yg bingung..

Alhamdulillah..semoga
kabar ini benar adanya..
Untuk salafiyin kabupaten batang jawa tengah ada di http://salafybatang.wordpress.com
jazakumullah khair

8 11 2010
Hasyim Abu Sulaim.

Semoga Allah Ta’ala mempersatukan kembali para Duat Salafiyin,khusus nya yang berada di negri Indonesia..

15 02 2011
abdurrohman

ana masih bingung…
apa iya ustadz ja’far sekarang sudah benar2 ruju’?? ???

12 08 2011
masood

Apa benar kemarin dia hadiri ultah NU?

11 03 2012
Ummu

Bismillahirrohmanirrohim, ini file audionya .. lebih lengkap.

http://www.4shared.com/folder/NiG5hoIF/Klarifikasi.html

barakallahufiikum.

12 03 2012
Harrie Santana Smooth

alhamdullilah

24 06 2012
@333333

adakalanya pengakuan seseorangitu cukup dgn ucapan ,dan alhamdullillah dgn pengakuan ustadtuna ja’farumar tholib

24 09 2012
Helmi Komara

Allahu akbar !!!

24 09 2012
Helmi Komara

bagaimana tidak gembira kalau Beliau adalah wasilah kami mengenal al Haq yakni manhaj Salaf, Allahu Akbar !!!

3 12 2012
Abu Usamah Hanin

Alhamdulillah, Mudah-mudahan Alloh membantu Syaikhuna Ja’far Umar Tholib untuk tetap istiqomah

22 02 2013
Fajar

bismillah… ana ada sedikit kajian dari ust ja’far umar tholib.. semoga ini bisa membantu antum dalam tabayyun terhadap beliau
http://www.4shared.com/mp3/saV-punv/sesi_Tanya_Jawab.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: