Bermusik tanpa alat musik., bolehkah ??!

24 10 2009


‘Bernyanyi’ tanpa alat musik memang pernah dilakukan para sahabat. Namun apa yang mereka praktikkan amat berbeda dengan cara bernyanyi di masa sekarang.

Pada asalnya, nyanyian itu berasal dari lantunan bait-bait syair yang menerangkan tentang sesuatu.

Sehingga tidak benar jika kita menyebutkan bahwa nyanyian itu haram secara mutlak, tidak pula dinyatakan boleh secara mutlak.

Oleh karenanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً
“Sesungguhnya di antara syair ada hikmahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5793)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tatkala ditanya tentang syair:

Itu adalah ucapan. Yang baiknya adalah baik dan yang jeleknya adalah jelek.”

(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dihasankan Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 1/447)


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memberikan beberapa syarat bolehnya nyanyian/nasyid:

    1. Bait-bait syairnya diperbolehkan dan bukan hal yang terlarang.
    2. Tidak dilantunkan seperti lantunan nyanyian yang rendah dan hina.
    3. Tidak dengan suara yang menimbulkan fitnah.
    4. Tidak dijadikan sebagai kebiasaan siang dan malam.
    5. Tidak menjadikannya sebagai satu-satunya nasihat untuk hatinya, sehingga memalingkannya dari nasihat Al-Qur`an dan As-Sunnah. Jika tidak terpenuhi salah satu dari syarat-syarat ini, maka hendaklah ditinggalkan.

    (Kaset Nur ‘Alad Darb, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, no. 337, side A)


    Oleh karena itu, para ulama membolehkan nyanyian orang-orang yang berangkat haji di saat mereka menghibur perjalanan mereka, nyanyian orang-orang yang berperang untuk memberi semangat jihad, nyanyian para musafir, dan yang semisalnya.

    Namun mereka melantunkan bait syair tersebut tidak dengan cara lantunan lagu yang biasanya disertai musik.
    Asy-Syathibi rahimahullahu menjelaskan apa yang dahulu dilakukan mereka (Al-I’tisham, 1/368):

    Orang-orang Arab dahulu tidak mengenal cara memperindah lantunan seperti apa yang dilakukan manusia pada hari ini. Mereka melantunkan syair secara mutlak, tanpa mempelajari notasi yang muncul setelahnya. Mereka melembutkan suara dan memanjangkannya, sesuai kebiasaan kaum Arab yang ummi yang tidak mengetahui alunan musik.

    Sehingga tidak menimbulkan keterlenaan dan membuat bergoyang yang melenakan. Hal itu hanyalah sesuatu yang membangkitkan semangat.

    Sebagaimana Abdullah bin Rawahah melantunkan bait-bait syairnya di hadapan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga ketika kaum Anshar melantunkannya ketika menggali galian Khandaq:


    نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدًا
    عَلىَ الْجِهَادِ مَا حَيِينَا أَبَدًا


    Kamilah yang membai’at Muhammad
    Untuk berjihad selamanya selama kami masih hidup


    Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawabnya:


    اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُ الْآخِرَةِ
    فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْـمُهَاجِرَةِ


    Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat
    Ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin

    (HR. Al-Bukhari no. 2680)

    Perbedaan Rebana dan Genderang


    Rebana (duf) adalah alat musik yang menyerupai genderang (thabl).

    Hanya saja thabl adalah yang tertutup dengan kulit dari dua arah atau dari satu arah.

    Sedangkan duf terbuat dari kayu yang ditutup dengan kulit dari satu arah, terkadang pada lubang-lubang bagian pinggirnya diberi sesuatu yang mengeluarkan bunyi gemerincing.

    (Al-Qaulur Rasyid fi Hukmil Ma’azif wal Ghina` wan Nasyid, Abu Karimah hal. 19)

    Menabuh Rebana Khusus bagi Wanita


    Al-Hulaimi berkata dalam Syu’abul Iman (4/283):

    Memukul rebana tidak dihalalkan kecuali untuk para wanita, sebab pada asalnya itu termasuk dari amalan mereka. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita.


    Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:

    Hadits-hadits yang kuat menunjukkan diizinkannya untuk para wanita, dan tidak diqiyaskan kepada para lelaki, berdasarkan keumuman larangan dari menyerupai para wanita.” (Fathul Bari, 9/134)


    Hadits Thala’al Badru


    Adapun hadits yang diriwayatkan bahwa tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, lalu anak-anak dan para wanita mendendangkan syair:


    طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
    وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعَا لِلهِ دَاعِ

    Bulan purnama telah nampak di hadapan kami
    dari Tsaniyyatul Wada’
    Wajib bagi kami bersyukur
    pada seorang penyeru yang berseru karena Allah


    Ini adalah hadits yang lemah. Sanadnya mu’dhal, telah terjatuh tiga atau lebih perawinya. Silahkan dilihat rincian bahasannya dalam Silsilah Adh-Dha’ifah, karya Al-Albani (2/598), dan kitab At-Tahrim (hal. 123).

    Musik Sebagai Ringtone !!


    Sebagian kaum muslimin juga tidak menyadari bahwa yang termasuk musik adalah menjadikan nada dan lantunan musik serta lagu sebagai ringtone (nada dering) di ponsel.

    Hal ini termasuk dalam keumuman larangan musik yang telah kita bahas.
    Sebagai gantinya, hendaklah menggunakan bunyi-bunyi yang tidak mengandung unsur musik dan nyanyian, seperti suara burung, ayam berkokok, atau yang semisalnya.

    Juga diperbolehkan menggunakan jenis bel tertentu yang tidak menyerupai bel gereja, seperti bunyi kring kring yang biasa terdapat di telepon rumah (zaman dahulu), atau yang semisalnya yang tidak bernada musik.

    Wallahu a’lam.

    (lihat pembahasan tentang bel dalam kitab Jilbab Al-Mar`ah Al-Muslimah, Al-Albani hal. 169)

    (disalin dari Majalah Asyariah, penulis Al ustadz Abu karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi )


Aksi

Information

11 responses

24 10 2009
rudisony

musik adalah suara jiwa,

24 10 2009
salafiyunpad

msturnuwun mas ats artikelnya…

17 11 2009
personalbisnis

Ana setuju banget!

27 11 2009
Toko Buku Online

Berliku liku sutra
Lurus pun tetap sutra :)
Sekali nyatakan cinta
Selamanya koe ‘kan setia………

6 03 2010
abdurrahman

Ana setuju…….

27 07 2010
Firdaus Herliansyah

Assalamu’alaikum
Jazakallahu khair ya akhi..
terima kasih atas artikel antum ini..

9 12 2010
Bermusik tanpa alat musik., bolehkah ??! « Jihadsabili’s Blog

[…] Bermusik tanpa alat musik., bolehkah ??! […]

29 12 2011
ali

ustadz ,izin share artikelnya

11 01 2012
Ade Malsasa Akbar

Subhanallah, terima kasih, Ustaz.

8 06 2012
Zea Zabrizkie

Syukran informasinya, Ustadz.

27 06 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: