Siapakah yang Berhak Mengemban Dakwah ?

10 11 2008

Medan dakwah itu begitu berat terjal dan menantang, karena itu pahala yang dijanjikan pun begitu besar, sehingga tidak mengherankan banyak yang tertarik untuk terjun ke medan dakwah.

Saking banyaknya tidak sedikit yang memaksakan diri untuk menangani permasalahan yang sebenarnya tidak layak diemban. Sekedar berbekal semangat dan percaya diri berusaha menyelesaikan persoalan-persoalan umat. Akhirnya bukan kebaikan dan perbaikan, justru kemunduran dan kesemrawutan.

Dakwah tetap harus ditegakkan,

Tetapi siapa yang berhak untuk mengembannya ??

berikut fatwa dari Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam Al – Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih al Fauzan jilid 1.

Tanya :

Belakangan ini banyak orang yang menyerukan dakwah, karena itu perlu untuk mengetahui siapakah ahli ilmu yang diakui dapat memberi arahan kepada umat terutama para pemuda agar menempuh jalan kebenaran.

Siapakah ulama yang anda nasehatkan agar para pemuda mengambil faedah darinya, mengikuti pelajaran-pelajarannya, mendengar kaset-kasetnya, mengambil ilmunya dan merujuk kepadanya dalam setiap perkara penting dan rumit, serta pada saat-saat fitnah ?

Jawab :

Dakwah ilallah adalah suatu keharusan, karena agama ini hanya bisa tegak dengan dakwah dan jihad, tentunya setelah ilmu yang bermanfaat. Allah ta’ala berfirman :

إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al Ashr : 3)

Yang dimaksud keimanan dalam ayat ini adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala , nama-nama dan sifat sifatNya, dan bagaimana beribadah kepadaNya. Sedangkan amal shalih merupakan cabang dari ilmu yang bermanfaat, karena amal harus dilandasi dengan ilmu.

Dakwah Ilalllah, memerintahkan yang ma’ruf dan saling menasehati sesama muslim merupakan suatu tuntutan. Namun, tidak semua orang bisa melakukan tugas-tugas tersebut. Tugas-tugas tersebut hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang berilmu lagi memiliki kematangan berpikir, karena semua itu merupakan perkara yang berat dan penting. Jadi tugas tugas diatas tidak bisa dilakukan kecuali oleh para ahlinya.

Bencana yang muncul saat ini adalah pintu dakwah dibuka selebar-lebarnya lalu setiap orang memasukinya dan menamakannya dakwah, padahal bisa jadi ada sebagian yang jahil dan tidak laik berdakwah, sehingga kemafsadatan yang ditimbulkannya lebih banyak daripada kemaslahatannya. Atau ada dari mereka yang hanya bermodal semangat lalu memutuskan setiap perkara secara terburu-buru dan gegabah.

Akibat dari perbuatannya ini lahirlah berbagai keburukan yang lebih banyak, bukannya mengobati dan memperbaiki. Bahkan ada orang yang menyerukan dakwah sementara dibalik itu mereka punya kepentingan-kepentingan dan maksud-maksud yang ingin mereka raih dengan mengatasnamakan dakwah, merusak pemikiran para pemuda atas nama dakwah dan semangat keagamaan, padahal mungkin maksudnya bukan itu (bukan dakwah maupun semangat keagamaan), seperti menyimpangkan para pemuda menjauhkan mereka dari masyarakat, para pemimpin dan ulama mereka. Orang orang itu mendatangi para pemuda dengan berlagak menasehati dan mendakwahi, seperti halnya orang orang munafik dalam tubuh umat ini yang menginginkan keburukan terhadap manusia dengan topeng kebaikan.

Sebagai contohnya adalah orang-orang munafik dahulu yang membangun masjid, disebut masjid dhirar, yang tampak lahirnya adalah amal shalih. Mereka meminta Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam shalat dimasjid tersebut agar manusia senang dan mengakuinya. Tetapi Allah ta’ala mengetahui niat hati mereka yang ingin merusak kaum muslimin dan masjid Quba, masjid pertama yang dibangun diatas landasan taqwa. Mereka ingin mencerai beraikan barisan kaum muslimin. Akhirnya Allah ta’ala menjelaskan kepada RasulNya shalallahu ‘alaihi wassalam tentang rencana jahat mereka dengan menurunkan firmanNya :

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.
Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang lalim.
( At Taubah 107-108)

Dari kisah yang agung ini menjadi jelaslah bagi kita bahwa tidak setiap orang yang menampakkan kebaikan dan amal shalih betul-betul jujur dalam perbuatannya, karena bisa jadi dibalik itu ada keinginan yang berlawanan dengan apa yang dia tampakkan.

Jadi, orang-orang yang menyerukan dakwah pada saat ini diantara mereka ada orang-orang yang ingin menyesatkan, ingin menyimpangkan para pemuda dan memalingkan manusia pada umumnya dari agama yang haq, memecah belah jama’ah kaum muslimin serta menyalakan api fitnah ditengah tengah mereka, Allah ta’ala telah memperingatkan kita agar menjauhi mereka dalam firmanNya :

لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلا خَبَالا وَلأوْضَعُوا خِلالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.

( At Taubah 47)

Dengan demikian, yang menjadi patokan bukanlah propaganda atau apa yang ditampakkan, yang menjadi patokan adalah hakekat sebenarnya dan akibat yang ditimbulkannya.

Adapun orang-orang yang menyerukan dakwah maka harus dilihat terlebih dahulu, dimana mereka belajar ? Darimana mereka mengambil ilmu ? Dimana mereka tumbuh ? Bagaimana aqidah mereka ?

Dilihat pula apa yang mereka kerjakan dan pengaruhnya ditengah tengah manusia, kebaikan apa yang telah mereka hasilkan ? Perbaikan apa yang telah dicapai ? Harus dipelajari juga mengenai keadaan mereka sebelum terpedaya oleh ucapan dan penampilan lahiriyah mereka,

Hal ini merupakan suatu keharusan apalagi dizaman sekarang ini yang penuh dengan penyeru fitnah. Sementara Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam telah menyifati para penyeru fitnah itu bahwa mereka adalah suatu kaum dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita. Dan Beliau shalallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang fitnah-fitnah menjawab bahwa mereka adalah

دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

Para penyeru diatas pintu pintu jahannam, barangsiapa mentaati mereka niscaya mereka akan melemparkannya kedalam jahannam tersebut (HR Al Bukhari dan Muslim)

Beliau menamakan mereka sebagai para penyeru ( dai ) Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap hal ini dan jangan terburu buru memenuhi seruan dakwah sembarang orang. Setiap orang yang mengatakan “Saya menyeru kepada Allah” , “Ini adalah jama’ah yang menyeru kepada Allah”, harus diteliti dahulu kenyataan setiap pribadi maupun jama’ah. Hal itu karena allah ta’ala telah mengaitkan dakwah kapada Allahu ta’ala dengan dakwah kepada jalanNya, FirmanNya ta’ala :

……. قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ

Katakanlah : ini adalah jalan (agamaku), aku mengajak (menyeru) kepada Allah….. (Yusuf 108)

Artinya ada pihak-pihak yang juga menyeru kepada selain Allah ta’ala, Allah ta’ala memberitakan bahwa orang-orang kafir menyeru kepada neraka. Jadi, para penyeru itu harus diteliti tentang hakekat (keadaan) mereka

Syaikhul islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkomentar tentang ayat :

……. قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ

Katakanlah : ini adalah jalan (agamaku), aku mengajak (menyeru) kepada Allah….. (Yusuf 108)

Didalamnya terkandung makna ikhlas, karena banyak orang menyeru kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala “

 

( disalin dari Majalah Fatawa Vol III/No.8, Juli 2007/Jumadits Tsani 1428, hal 23 – 24 )


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: