Apakah sihir itu hakiki ??

31 07 2008

Sihir itu adalah hakiki (benar benar ada dan terjadi) sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allahu ta’ala :

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (Al Falaq 4)

Jika sihir itu tidak hakiki, maka tentunya Allah ta’ala tidak pernah menyuruh kita untuk memohon perlindungan kepadaNya dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir itu.

Demikian juga firman Allahu ta’ala

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya ( Al Baqarah 102)

Ayat ini menunjukkan bahwa sihir itu adalah hakiki dan bisa menjadi sebab (sarana) yang digunakan untuk menceraikan antara suami dengan istrinya.

Dalil yang menunjukkan bahwa sihir itu hakiki adalah hadits ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha : :

Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam tersihir. Sehingga terkhayallah oleh Beliau bahwa beliau melakukan sesuatu padahal sebenarnya tidak melakukannya. Dan bahwasanya suatu hari beliau pernah berkata kepada ‘Aisyah :

Dua orang malaikat mendatangiku, lalu salah satunya duduk dikepalaku dan satunya lagi duduk dikakiku, lalu ia bertanya : “ Sakit apa orang ini?” Malaikat yang satunya menjawab : “Terkena sihir” Malaikat yang pertama bertanya lagi,: “Siapa yang menyihirnya” Malaikat kedua menjawab “Labid Ibnu Al A’shaam pada sisir dan rambut yang jatuh karena disisir, serta pada seludang mayang kurma yang terdapat di sumur Dzarwan.”

(Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad, Al Bukhari, Muslim dan lainnya)

Ini adalah pendapat ahlus sunnah wal jama’ah dan juga yang dipegangi oleh jumhur ulama islam

Ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa sihir itu tidak hakiki. Ini adalah pendapat kaum Mu’tazilah yang jauh dari kitab dan sunnah. Mereka berdalil dengan firman Allahu ta’ala :

قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى

Berkata Musa :"Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. ( Ath Thaha 66)

Dan Allahu ta’ala tidak mengatakan “bergerak cepat” secara hakiki. Kaum mu’tazilah ini mengatakan :

Sesungguhnya sihir itu hanyalah kamuflase, imajinasi, dan tipuan terhadap keberadaan sesuatu yang tak punya hakekat, namun hanya merupakan bentum sulap atau magic.

Al Allamah Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata :

Pendapat ini bertentangan dengan berbagai atsar yang mutawatir dari para sahabat dan salaf, serta bertentangan dengan yang telah disepakati oleh para fuqaha, ahli hadits, para arbabul qulub (ah;i tashawuf) dan juga dikenal oleh umunya manusia yang berakal. Sihir yang dapat memberikan pengaruh rasa sakit, beban berat, rasa ringan, rasa terikat, kecintaan, kebencian, kepalsuan dan sebagainay dari berbagai macam pengaruh yang bisa ditimbulkan itu memang benar benar ada dan dikenal oleh manusia secara umum” (lihat Badai’ul fawaid II : 227)

Sedangkan Al Qurthubi setelah menyebutkan pendapat kaum mu’atzilah dan dalil mereka mengatakan :

Pendapat ini sebenarnya tidak beralasan . Kami tidak mengingkari bahwa khayalan dan sebagainya itu termasuk dalam kategori sihir, namun dibalik itu terdapat berbagai hal yang pasti dapat diterima oleh akal dan disebutkan oleh nash. Diantaranya adalah terkandung dalam ayat ini tentang sihir dan pengajaran sihir yaitu firman Allahu ta’ala :

وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُو

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangnalah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya . Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al Baqarah : 102)

Seandainya sihir itu tidak hakiki, maka tak mungkin sihir itu diajrakan, dan Allah juga tidak akan memberitahukan bahwa mereka (setan-setan) itu mengajarkannya kepada manusia. Ini semua menunjukkan bahwa sihir itu memang hakiki.

Bukti dari nash lainnya adalah firman Allah ta’ala :

قَالَ أَلْقُوْاْ فَلَمَّا أَلْقَوْاْ سَحَرُواْ أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena’jubkan). (Al A’raf : 116)

Dan juga surat Al Falaq yang telah disepakati oleh para mufassir bahwa sebab nuzulnya adalah berkenaan dengan sihir yang dilakukan oleh Labid bin Al A’sham.

Selanjutnya Al Qurthubi membawakan hadits yang telah kita kedepankan diatas, lalu berkata :

Didalamnya disebutkan bahwa ketika sihir itu telah terlepas dari Nabi shalallahu ‘alahi wassalam, maka beliau kemudian berkata :

Sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku

Yang namanya kesembuhan itu adalah lenyapnya penyakit. Ini menunjukkan bahwa sihir itu memang benar adanya dan hakiki. Adanya sihir ini dapat dipastikan berdasarkan pemberitaan Allah ta’ala dan RasulNya shalallahu ‘alaihi wassalam mengenai adanya sihir dan terjadinya. Inilah pula pendapat yang dipegangi oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi yang mepunyai wewenang untuk ijma’ dan tak perlu dipersoalkan tentang pendapat yang tak bermakna dari kaum mu’tazilah itu serta penyelisihan merka terhadap Ahlul Haq


(disadur dari
Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman hal 88 – 91 karya Al Imam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab, penerjemah Abu Sayyid Sayyaf, penerbit At Tibyan Solo cetakan ke empat, Desember 2000)


Aksi

Information

2 responses

31 07 2008
rivafauziah

Sihir adalah disini..!

6 04 2009
abu farhat354

afwan attibyaan khan penerbit hizbi…????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: