Mengapa Para Da’i Menyeru Untuk Kembali Kepada Sunnah ??

30 05 2008

Seringkali dalam berbagai diskusi atau perdebatan atau bahkan dalam diri kita timbul pertanyaan apa sebenarnya motivasi atau hal yang mendorong para da’i untuk menyeru kembali kepada As Sunnah..??

berikut adalah sebuah makalah ilmiyah dari Al Imam Muhaditsin Muhammad Nashirudin Al Albani rahimahullah dalam Maqalaat Al Albani

Berikut adalah sebab sebab yang mendorong para da’i untuk menyeru untuk kembali kepada Sunnah serta meninggalkan seluruh yang bertentangan dengan sunnah, maka disini saya ( Albani) katakan :

Pertama :

Sunnah adalah referensi kedua setelah Al qur’an. Banyak ayat yang menjelaskan tentang hal itu sehingga menjadi salah satu ijma’ (kesepakatan) umat ini.

Kedua :

Sunnah merupakan pelindung seseorang agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan jaminan untuk tidak terseret dalam kesesatan sebagaimana yang disabdakan Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam ketika haji Wada’ :

Wahai manusia sekalian, sungguh aku telah meninggalkan dianatara kamu sesuatu yang jika kamu berpegang tegh dengannya maka kamu tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah and Sunnah Nabi-Nya”

Berbeda dengan pendapat dan ijtihad para ulama, maka Imam Malik berkata :

Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa yang kadnag benar dan kadang salah. Telitilah pendaptku, semua yang sesuai dengan Al Kitab dan sunnah maka ambillah, sedang semua yang tidak sesuai dengan Al kitab dan As Sunnah maka tinggalkanlah”

Diriwayatkan oleh lbnu Abdul Barr (2-32).

Syuraih Al Qadhi berkata,

Sesungguhnya sunnah lehih dahulu daripada analogi kamu maka ikutilah sunnah itu dan jangan menjauhinya, karena sesungguhnya kamu tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan atsar (hadits).” Lihat Ibnu Abdil Barr (2-34,35)

Ketiga,

sunnah adalah huijah yang barus diikuti berdasarkan kesepakatan seluruh kaum muslimin, berbeda dengan pendapat para ulama, karena sesungguhnya pendapat mereka tidaklah mengikat seorang pun menurut kaum salaf serta para peneliti selain mereka.

Imam Ahmad berkata,

Pendapat Auza’i, pendapat Malik atau pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pandangan semata, dan bagiku semuanya adalah sama. Hanya saja, yang menjadi hujjah adalah

atsar (hadits)” Lihat Ibnu Abdil Barr 2-149

Keempat,

Seorang penuntut ilmu tidak mungkin menjadi seorang ahli fikih, kecuali setelah mendalami hadits. Sunnah adalah satu-satunya sumber setelah Al Qur’an yang akan memudahkan jalan bagi seseorang untuk menggali hukum serta melakukan qiyas (analogi) secara benar di saat ia tidak menemukan nash.

Dengan demikian seseorang tidak akan tejebak dalam kesalahan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengerti Sunnah, seperti orang yang menganalogikan cabang dengan cabang atau sesuatu dengan lawannya maupun meng-qiyaskan pada sesuatu yang ada nashnya. Untuk itu,

Ibnu Qayyim berkata,

Sesungguhnya orang yang paling benar dalam melakukan qiyas (analogi) adalah para ahli hadits. Semakin dekat seseorang dengan hadits, semakin benar pula qiyas yang dilakukannya, semakin jauh seseorang dari ahli hadits, maka semakin besar pula kesalahan qiyas yang dilakukan “

Lihat I’laamul Muwaqqi’in 2-410

Kelima,

Tidak mungkin menghilangkan segala bentuk penyimpangan yang terjadi dikalangan kaum muslimin baik berupa bid’ah maupun sikap menurut hawa nafsu kecuali melalui jalur sunnah, sebagaimana ia juga merupakan benteng yang kokoh di hadapan aliran-aliran yang merusak serta pandangan-pandangan aneh yang dihiasi oleh para pengikutnya. Pandangan-pandangan itu dijadikan dasar oleh para pendukungnya atas nama pembaharuan, reformasi maupun istilah-istilah yang serupa.

Keenam,

Kaum muslimin dari berbagai madzhab kini telah menyadari bahwa tidak ada jalan keluar bagi mereka untuk bersatu serta menghilangkan perselisihan sehingga dapat berdiri dalam satu barisan menghadapi musuh, kecuali dengan kembali kepada sunnah, sebagaimana sebab-sebab yang telah kami sebutkan pada poin (1,2 dan 3).

Ketujuh,

sunnah senantiasa menjelaskan secara bersamaan antara hukum dan motivasi untuk melakukan sesuatu dengan ancamannya agar seseorang tidak meremehkan hukum itu dan meninggalkannya. Demikian itu adalah metode Nabawiyah serta ruh syariat, yang mana hal ini mampu menjadikan mereka yang mengerti hadits begitu antusias untuk melaksanakan hukum dibanding mereka yang menerima hukum fikih tanpa dalil. Ini adalah fakta, dimana saya tidak menduga bahwa ada orang di kalangan orang-orang fanatik yang akan mengingkarinya.

Kedelapan,

orang yang berpegang teguh dengan hadits berada di atas keyakinan yang mantap terhadap hukum-hukum yang mereka dapatkan dari hadits secara langsung. Ini berbeda dengan para ahli taklid serta tidak mengerti tentang hadits, di mana mereka akan tersesat di antara sekian pendapat yang saling kontroversi dalam kitab-kitab para imam.

Mereka tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah di antara sekian pendapat yang ada. Oleh sebab itu. terkadang salah seorang di antara mereka memberi fatwa dalam suatu perkara dengan dua jawaban yang kontradiksi, seperti ia mengatakan,

"Yang demikian itu diperbolehkan menurut Abu Hanifah, dan tidak boleh menurut kedua sahabat beliau." Padahal Sunnah yang shahih pasti berada pada salah satu dari dua pendapat itu. Akan tetapi oleh karena ketidaktahuannya tentang sunnah (hadits), maka ia menukil pendapat yang bertentangan dengan sunnah tersebut tanpa mengingkari sedikit pun. Akhimya orang yang diberi fatwa itu berada dalam kebingungan. Bahkan di antara mereka ada yang menjadikan dua pendapat yang kontradlksi itu laksana dua syaiat yang diakui, dimana boleh bagi seorang muslim untuk memilih mana yang ia kehendaki hingga sebagian pengikut madzhab Syafi’i memperbolehkan bagi seseomg untuk memberi fatwa dengan pendapat yang dapat mendatangkan imbalan yang lebih besar

Kesembilan,

sunnah (hadits) menutup jalan bagi mereka yang ingin melepaskan diri dan Islam dengan mengatas namakan madzhab atau aliran.Mereka berdalih dengan maslahat untuk memperkuat hujjah mereka, lalu tidak henti-hentinya mencari-cari pendapat untuk mendukung maslahat mereka yang bertentangan dengan sunnah dalam setiap pernasalahan. Pada saat yang sama mereka memerangi segala usaha untuk kembali kepada sunnah, karena hal ini dapat menutup jalan bagi mereka seperti yang telah kami kemukakan

Usaha kembali kepada sunnah dapat menyingkap jati diri mereka yang bersembunyi di balik madzhab dan slogan "Keluasan syariat Islam tergambar pada banyaknya pendapat yang ada serta ijtihad-ijtiad yang demikian luas, ditambah lagi dengan kekayaan fikih yang besar sehingga jarang sekali ada persoalan yang keluar darinya". Hanya Allah yang tahu apa yang mereka maksud.

Inilah sebagian sebab-sebab yang dapat saya (syeikh Albani) kemukakan saat ini, yang telah memotivasi para pembela sunnah untuk mengajak manusia agar kembali kepada sunnah, serta lebih mengedepankan sunnah dari apa yang menyalahinya.

Bagaimana mungkin mereka tidak mengajak manusia kepada sunnah serta memotivasi manusia untuk mengambil petunjuk darinya, atau bagaimana mungkin mereka tidak mengorbankan ruh-ruh mereka di atas jalan itu?

Maka, sungguh mengherankan orang yang mencoba menghalangi mereka dari jalan itu serta berusaha untuk mengajak mereka meninggalkan sunnah lalu berpedoman pada madzhab, sementara imam yang menjadi panutannya justeru menyerukan untuk kembali kepada sunnah dan komitmen kepadanya

(disalin dari Maqalaat Al Albani, edisi indonesia Risalah Ilmiah Albani , hal 34-37 , penerjemah Abu Musyrifah dan Ummu Afifah, Penerbit Pustaka Azzam Jakarta, Cetakan pertama April 2002)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: