Makanan Pada Acara Tahlilan dan Yasinan

4 04 2008

 

A.Asal Hukum segala sesuatu di bumi adalah halal bagi manusia

 

Agama islam yang sempurana telah menjelaskan perkara perkara yang diharamkan dengan terperinci, begitu juga dengan makanan-makanan, segala makanan yang diharamkan diterangkan dalam Al Quran dan As Sunnah, sehingga makanan apa saja yang tidak termasuk kategori sebagai barang haram dikembalikan kedalam hukum makanan yaitu halal dan mubah, karena semua yang ada didunia ini diciptakan Allah ta’ala untuk kebutuhan manusia, kecuali yang diharamkan Allah ta’ala :

 

Dialah Alah yang telah menciptakan segala sesuatu dimuka bumi buat kalian” (AL Baqarah 29)

Dan Allah ta’ala mengingkari orang orang yang mengharamkan sesuatu tanpa disertai dalil yang sah sebagaimana firman Nya…

 

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui (Al A’raf 32)

 

B. Makanan yang Haram Telah di jelaskan secara terperinci.

 

Begitu banyaknya makanan yang halal bagi manusia sehingga Allah Yang Maha Bijaksana menjelaskan apa saja yang halal secara global saja (sebagaimana firmannya dalam QS. Al-Arof 157) atau melalui sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dalam hadits hadits nya yang shohih (sebagimana dalam riwayat bukhari dan Muslim yang dinyatakan bahwa setiap binatang buas yang bertaring, burung yang menggnakan cakarnya untuk memangsa makanannya, keledai jinak, hewan pemakan kotoran/bangkai, semuanya dijelaskan oleh Rasulullah hukum keharamannya),

Sehingga apa saja yang tidak termasuk dalam kategori makanan yang diharamkan , atau tidak ada dalil haram dan halalnya, maka kembali kepada asal hukum makanan adalah halal, (perkataan Imam Syafii dinukil dari at Ta’liqatur Radhiyah ‘alar Roudhotiin Nadiyah (3/36) )

 

Maka kita harus mengetahui makanan apa saja yang diharamkan oleh Allah ta’ala dan RasulNya shalallahu ‘alaihi wassalam sebagaimana yang telah dijelaskan dalam semua kitab-kitab fiqh dalam berbagai madzhabnya, supaya kita selamat dari makanan makanan yang diharamkan sedangkan kita tidak mengetahuinya.

 

Adapun tentang sembelihan, maka telah dijelaskan sembelihan yang halal dan yang haram dalam Al Quran dan As Sunnah , dan sembelihan yang haram adalah yang ditujukan untuk selain Allah ta’ala atau disebut nama selain Allah ta’ala atau yang disembelih dihadapan berhala berhala.

Dan sembelihan yang halal adalah sembelihan yang memenuhi syarat dalam syariat islam, diantara syarat syarat itu adalah :

Satu : Berniat menyembelih, baik seorang laki laki atau perempuan, baik seorang muslim atau ahli kitab, (lihat surat Al Maidah 5 ) karena segala malan tergantung pada niatnya.

 

Dua : Dengan alat yang tajam seperti pisau dan sebagainya bukan dengan kuk dan gigi, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam (lihat Adh Dhakatus Syar’iyah wa Ahkamuha oleh Syaikh Sholih bin Fauzan al Fauzan)

Hewan yang (disembelih dengan alat yang tajam) sampai mengeluarkan darah, maka makanlah asalkan bukan dengan gigi dan kuku” (HR. Bukhari no. 5498)

 

Tiga : Dengan menyebut nama Allah ta’ala dan tidak disertai menyebut nama selain Allah ta’ala sebagaimana Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam :

Hewan yang disembelih sampai mengalirkan darah, dan disebut nama Allah ta’ala maka makanlah” (HR. Bukhari 5/155)

 

Empat : Tidak dipersembahkan untuk berhala, sebagaimana firman Allah ta’ala yang maknanya :

(termasukyang diharamkan) adalah apa apa yang disembelih (dipersembahkan) untuk berhala” Al Maidah 3

 

C. Hukum Makanan Acara Tahlilan dan Yasinan

 

Dari penjelasan diatas , bisa kita ketahui bahwa makanan dan semebelihan yang diadakan pada acara acara seperti tahlilan dan yasinan hukum asalnya adalah halal, karena sembelihan dan makanan kaum muslimin walaupun berbeda madzhabnya adalah halal.

 

Kecuali apabila seorang yang menyembelih adalah ahli bid’ah dengan kebid’ahan yang sampai derajat kepada derajat kekufuran, maka sembelihannya haram hukumnya (karena ahli bid’ah yang telah dihukumi kafir telah menjadi murtad, sedangkan sembelihan yang halal buat kaum muslimin adalah sembelihan seorang muslim dan ahli kitab saja -lihat Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa ‘ wal bida’ 1/339)

 

Begitu Juga yang termasuk diharamkan adalah sembelihan yang tidak disebut nama Allah a’ala (lihat Ta’liqatur Radhiyah ‘alar Roudhotiin Nadiyah 3/67-68).

Sebagai misal , seseorang yang yang menganggap dirinya sebagai wali, meyakini bahwa dirinya tahu tentang ghoib padahal yang tahu tentang ghaib hanyalah Allah ta’ala, dan kemudioan telah ditegakkan hujjah atasnya, dijelaskan kepadanya dalil dalil dari al quran dan As Sunnah, dan dia telah mengetahui bahwa keyakinannya adalah suatu kebid’ahan dan kekufuran, akan tetapi dia tetap pada keyakinannya, bahkan menda’wahkan kesesatannya, sehingga para ulama menghukumi orang tersebut telah keluar dari Islam disebabkan bid’ahnya, maka sembelihan orang ini haram hukumnya.

 

Sedangkan orang orang yang membuat aneka ragam makanan atau menyembelih binatang pada waktu tahlilan dan yasinan, apabila mereka bermaksud untuk bersedekah kepada masyarakat, dan tidak ditujukan kepada berhala berhala, juga disebut nama Allah ta’ala ketika menyembelih , dan menggunakan alat yang tajam, hanya saja mereka menghadiahkan pahala bacaan Al Quran atau selainnya dalam acara tersebut kepada orang yang telah mati dan ini tidak mempengaruhi kehalalan binatang yang disembelih kecuali apabila benar benar diyakini bahwa mereka menyembelih untuk berhala atau tidak disebut nama Allah ta’ala atau semisal mereka yang menyembelih binatang dengan keyakinan bahwa menyembelih pada acara kematian hari ketiga, tujuh atau empat puluh dan seterusnya kalu diperuntukkan jin- jin, arwah-arwah, atau penghuni-penghuni yang ditakutkan atau menyelamatkan mereka -dan ini termasuk sembelihan/ibadah kepada selain Allah ta’ala- maka hukumnya menjadi haram.

 

Akan tetapi apabila dalam penerimaan makanan acara acara bid’ah terdapat mafsadat, seperti anggapan orang bahwa apabila menerima makanannya berarti mendukung dan memperbolehkan acara tersebut, maka haram bagi kita untuk menerima makanan tersebut. Atau seandainya dengan menolak makanan tersebut menyebabkan orang menjadi tahu bid’ahnya tahlilan, maka menerimanya adalah haram dan menolaknya adlah wajib, karena ini termasuk mengingkari sebuah kemungkaran . Wallahu ‘alam   

(disalin dengan penyesuain dari Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan dan Selamatan oleh Al Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali bin A. Mutholib, Penerbit Pustaka Al Ummat Surakarta, cetakan keempat 2006)

 


Aksi

Information

21 responses

4 04 2008
Sutopo

Pertanyaan saya:
a. Yasinan, Tahlilan pada 1,3,7,40 hari dst apa dituntunkan/disyariatkan oleh Rasulullah SAW, kalau tidak maaf jangan mengaku golongan Ahlush-shunnah wal jama’ah

saya jawab….sedangkal pengetahuan ana….TIDAK disyariatkan bahkan merupakan bid’ah…..
ahlus sunnah wal jama’ah bukanlah sekedar pengakuan dan perlu bukti dengan ittibaus sunnah…..

b. Pahala yang mengalir setelah manusia mati: Ilmu yang bermanfaat, Amal Jariyah dan anak yang sholeh

ya…memang demikian…Allahu ‘alam

4 04 2008
Abubakar bin Abdurrahman

Mohon diinformasikan ciri-ciri ahlul bid’ah yang sembelihannya haram dimakan.

sebagai misal…, seseorang yang yang menganggap dirinya sebagai wali, meyakini bahwa dirinya tahu tentang ghoib padahal yang tahu tentang ghaib hanyalah Allah ta’ala, dan kemudioan telah ditegakkan hujjah atasnya, dijelaskan kepadanya dalil dalil dari al quran dan As Sunnah, dan dia telah mengetahui bahwa keyakinannya adalah suatu kebid’ahan dan kekufuran, akan tetapi dia tetap pada keyakinannya, bahkan menda’wahkan kesesatannya, sehingga para ulama menghukumi orang tersebut telah keluar dari Islam disebabkan bid’ahnya, maka sembelihan orang ini haram hukumnya. Allahu ‘alam…

Bagaimana dalil yang benar atau sekedar jawaban lepas saja, tentang suatu bacaannya saya sudah lupa nama bukunya, tetapi ini jawaban seorang ulama besar: Bahwa Allah maha baik tentu semua yang baik datang dari Allah, kenapa ada halal ada haram, seorang ulama menjawab Allahlah yang menentukan rizki kepada seluruh makhluknya termasuk hewan dan makhluk hidup lainnya. Karena itu, jika makanan itu haram, maka itu jatah hewan (babi, ayam, lembu, dll.) diberikan kepada manusia. Jadi jika manusia mendapatkan rizki yang tidak halal sama artinya dengan rumput untuk lembu, atau bangkai yang di makan oleh binatang buas. Walla a’lam bissawaf.

jawab :

tidaklah Allahu ta’ala mengharamkan sesuatu pasti ada hikmah dibaliknya baik kita ketahui atau tidak….
kemudian jika kita berusaha mencari cari kenapa ada halal ada haram maka pastilah kita akan “mencari cari” jawabnya….
sebuah contoh….
ada yg bertanya kenapa babi diharamkan..??
sebagian dari kita akan menjawab karena babi itu kotor, menyebabkan penyakit bila memakannya dsb…
kemudian…bila suatu saat kemajuan tehnologi mampu menghilangkan semua perkara yang disebutkan, apakah daging babi menjadi halal…?? tentu tidak bukan…??

maka ketahuilah, bahwa seorang hamba, jika telah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari akhir, maka kewajibannya ialah berserah diri terhadapa apa yang telah datang dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hal itu merupakan kewajiban dari al-haq. Jika telah pasti bagi antum bahwa Allah telah mensyariatkannya lewat Rasul-Nya, maka kita mengatakan : “Sami’na wa atha na” (kami telah mendengar dan kami mentaati).

Allahu ta’ala ‘alam….

5 04 2008
insyaflahsalafy

tanya:
Sebelum ada tulisan dari Ustadz Abu Ibrahim ini (tahun 2006? ), sejak kapan warga salafy (baru) tahu kalau kebid’ahan itu ada yang ringan dan ada yang sudah sampai pada derajat kekufuran ?

lihat penjelasannya di https://adiabdullah.wordpress.com/2007/12/01/apakah-bidah-memiliki-beberapa-tingkatan/

13 04 2008
insyaflahsalafy

Yang saya itu, SEJAK KAPAN warga salafy baru tahu kalau bid’ah itu bertingkat-tingkat ?

25 04 2008
ibutasya

Tanya:
saya tinggal diluar negeri untuk mendapatkan daging sembelihan halal agak sulit dan kalaupun ada jauh dari rumah saya bisa memakan waktu 1jam ke toko halal tersebut, yg saya mau tanyakan adalah, bagaimana hukum kehalalan seperti ayam daging yang dijual disupermarket itu, karena yang saya dengar cara mereka menyembelih hewan tidak dengan dipotong tapi di suntik dahulu setelah mati baru dipotong lehernya? mohon penjelasan

beriku saya nukilkan fatwa dari syaikh Utsaimin rahimahullah dalam fatawa ulama biladul haram.

Pertanyaan :

Pada sautu hari saya mengundang teman-teman sekantor untuk menghadiri makan siang. Setelah mereka datang, saya menyuguhkan kepada mereka sajian makanan, di antara makanan yang disuguhkan itu adalah daging ayam panggang yang kami panggang sendiri di rumah. Lalu salah seorang mereka bertanya kepadaku – orang ini dikenal dengan fanatik dengan agama- tentang daging ayam ini, apakah ayam ini ayam dalam negri atau import dari luar? Maka saya katakan kepadanya bahwa daging import, kalau nggak salah dari Prancis. Lantas orang tadi enggan untuk makan daging itu. Lalu saya bertanya kepadanya, kenapa ? maka iapun menjawab, sesungguhnya daging itu haram. Lalu saya berkata kepadanya, Apa dalilmu ? dia menjawab, saya mendengar sebagian masyayekh mengatakan hal yang demikian. Maka pada kesempatan ini, saya mengharapkan kepada Syeikh yang mulia untuk bisa menjelaskan kepada kami hukum agama yang benar (dalam masalah ini) semoga Allah menjaga Syeikh.

Jawab :

Alhamdulillah washalatu wassalamu ‘alaa rasulillah wa ba’du :

Barang-barang yang datang dari negeri asing yang bukan negara islam, jika seandainya orang yang melakukan penyembelihannya dari kalangan ahli kitab yaitu Yahudi atau Nasrani, maka boleh memakannya, dan tidaklah pantas ditanya akan cara penyembelihannya, apakah dibaca bismillah waktu menyebelihnya atau tidak. Karena disebabkan nabi telah memakan daging kambing yang dihadiahkan oleh seorang wanita Yahudi di Khubar. Dan Beliau juga telah memakan makanan (daging) yang diundang oleh seorang yahudi. Tahunya dalam makan itu terdapat lemak yang sudah berubah (rasanya), dan beliau tidak pernah bertanya akan cara penyemblihannya, apakah dibacakan bismillah atau tidak.

Di dalam shohih Bukhari, ada sekelompok kaum datang kepada rasulullah wahai rasulullah sesungguhnya ada suatu kaum yang memberi kami daging, dan kami tidak mengetahui apakah dibacakan bismillah atau tidak. Rasulullah bersabda : bacalah oleh kalian (bismillah) dan makanlah. Aisyah berkata : adalah mereka itu orang yang baru masuk islam.

Dalam hadits – hadits ini menunjukkan bahwasanya tidaklah pantas bertanya tentang cara (penyemblihan) apa yang telah terjadi. Jika seandainya orang yang lansung melakukan penyeblihan itu adalah diakui (disahkan oleh agama) perbuatan mereka. Dan ini merupakan dari hikmah dan kemudahan dari ajaran agama. Karena kalau seandainya manusia dituntut untuk meneliti syarat-syarat pada apa yang mereka dapatkan dari orang yang perbuatan (tindakannya) disahkan, tentunya perbuatan ini akah menjadi kesulitan dan keberatan jiwa yang menjadikan syariat ini sebagai syariat yang menyulitkan dan memberatkan.

Adapun kalau sandainya daging sembelihan itu didatangkan dari negara asing, dan yang melakukan penyembelihannya adalah orang yang tidak halal hasil sembelihannya seperti Majusi (Hindu, Buda) atau pengibadat berhala dan orang-orang yang tidak memiliki agama, maka tidak halal untuk memakannya, karena Allah tidak menghalalkan makanan (daging) dari selain muslimin, kecuali makanan dari orang-orang yang diturunkan kitab kepada mereka yaitu Yahudi dan Nasrani.

Tapi kalau kita ragu, siapakah yang menyembelihnya apakah orang yang halal hasil sembelihannya atau tidak, maka tidak mengapa (untuk menanyakan hal yang demikian- pent).

Ahli fikih telah berkata -semoga Allah merahmati mereka : jika didapatkan daging sembelihan terbuang di tempat yang hasil sembelihan kebanyakan penduduk tempat itu halal, maka daging itu adalah halal. Hanya saja pada kondisi seperti ini seyogyanya untuk menjauhi daging itu dan pindah kepada yang tidak ada keraguan di dalamnya. Maka contoh untuk ini adalah, kalau seandainya daging didatangkan dari orang yang sembelihannya halal. Sebagian mereka menyembelih dangan cara syar’I, yaitu dengan mengeluarkan darah dengan benda tajam, bukan dengan gigi atau kuku, dan sebagain yang lain meyembelih dengan cara yang tidak syar’I, tahunya yang terbanyak dilakukan adalah cara pertama yang syar’I, maka tidak mengapa memakan daging yang didatangkan dari daerah itu, demi mengambil perbuatan yang terbanyak. Akan tetapi yang lebih baik dilakukan adalah untuk menjauhi makanan tersebut karena wara’ (bersih dari hal-hal syubhat).

Allahu ‘alam

3 11 2008
FUAD

Dalil Al Qur’annya benar, demikian juga dengan hadits-nya.. tapi penafsiran, alur pemikiran dan modal keilmuan yang kurang pas dan payah. Semangat islamnya patut diacungi jempol.. belajar terus, cari guru yg jelas ilmunya.. saya kasian dengan Anda….

jazakallah atas nasehatnya,…. afwan,….kalau boleh tau yang kurang pas dan payahnya dimana. ??, barakallahu fiik

20 01 2009
abu fathon

Syukron sy jadi banyak tahu tentang makanan ahli bid’ah yg d haramkan.

15 04 2009
IWAN ABU NAUFAL

semoga alloh memberkahi akhi, menghindari yg syubhat lebih diutamakan dari pada dikerjakan krn syubhat adalah jurang kepada yg haram.. maka demikianlah dg masalah makanan… mungkin ada fatwa ulama salaf dari para masyaikh dalam hal ini akh?.. Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat pun menyarankan kami untuk bertanya kepada mereka agar lebih menenangkan hati..

13 05 2009
sandhi

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa selamatan kenduri kematian setelah hari wafat, hari ketiga, ketujuh dll adalah : MAKRUH, RATAPAN TERLARANG, BID’AH TERCELA (BID’AH MADZMUMAH), OCEHAN ORANG-ORANG BODOH.
Berikut apa yang tertulis pada keputusan itu :

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926
TENTANG
KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU)
KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

TANYA :
Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

JAWAB :
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

KETERANGAN :
Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
“MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN ( YANG DILARANG ).”

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
“Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”
Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).
Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi  terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.
Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

SELESAI, KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926

 REFERENSI : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

 CATATAN : Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa bacaan atau amalan yang pahalanya dikirimkan/dihadiahkan kepada mayit adalah tidak dapat sampai kepada si mayit. Lihat: Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim 1 : 90 dan Takmilatul Majmu’ Syarah Muhadzab 10:426, Fatawa al-Kubro (al-Haitsami) 2:9, Hamisy al-Umm (Imam Muzani) 7:269, al-Jamal (Imam al-Khozin) 4:236, Tafsir Jalalain 2:19 Tafsir Ibnu Katsir ttg QS. An-Najm : 39, dll.

5 06 2009
agus

jalan yang paling baik adalah jalan rasulullah dan para sahabatnya, apabila ada yang mengaggap jalan para wali atau ulama lebih baik dari rasulullah adalah dusta bahkan batil. Maka marilah kita beribadah sesuai dengan tuntunan rasulullah dan tinggalkan yang tidak sesuai tuntunan, insyaallah kita akan selamat dunia akhirat.

12 10 2009
Makanan Pada Acara Tahlilan dan Yasinan « Pustaka Abi Aqila

[…] Dari : https://adiabdullah.wordpress.com/2008/04/04/makanan-pada-acara-tahlilan-dan-yasinan/ (disalin dengan penyesuain dari Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan dan Selamatan […]

28 12 2009
wirson fadhillah

Memang kadang saodara-saodara kita bila dikasihtau bahwa acara tahlilan dan yasinan yg mengiringi hari kematian itu BID,AH yg munkar mereka menjawab tidak enak sama tetangga dan masyarakat sekitarnya, mbok ya sekali-kali ngga enak sama Alloh dan Rossul nya gituh lho ?

24 12 2012
Uswatun Chasanah

Betul-betul umumnya begitu

4 09 2010
abu_rokhis

demi ALLOHA kisah ini terjdi bapak yg dah tua sakit sakitan berkata kepada anaknya yg br msk salafy apakah nanti klo bpk mati kamu tak mentahlil yasinan dihadiahkan kepadaku ndo’,anaknya jawab tidak!!! org tua ini strees kepikiran terus,….

…dan …..Demi Alloh… ini juga terjadi… ketika bapak yang sudah tua mengetahui gimana hukum tahlilan dan yasinan yang sebenarnya, dia berwasiat agar ketika meninggal nanti tidak usah diadakan yasinan dan tahlilan 3 atau 7 atau 40 harinya….

11 10 2010
Makanan Pada Acara Tahlilan dan Yasinan « Learn something by Tomy gnt

[…] Makanan Pada Acara Tahlilan dan Yasinan […]

9 12 2010
Makanan Pada Acara Tahlilan dan Yasinan « Jihadsabili’s Blog

[…] Makanan Pada Acara Tahlilan dan Yasinan […]

19 12 2010
abu Rahayu Purwatiyuli atau ibnu Supardi

Mohon ustadz betulkan pendapat saya dibawah ini jika salah.
Saya ingin mengingatkan kepada anak-anak dan para cucu serta cicit
bahwa saya sudah beberapa kali dibeberapa kesempatan berwasiat kepada kalian yaitu:
1. jika kalian menguburkan aku “jangan kalian adzankan diliang kubur” krn adzan hanya dikumandangkan unt manggil mns agar “shalat”,
2. setelah aku mati “do’akan” saja setiap saat kalian ingat akan beratnya kehidupan dialam barzah
3. jangan sekali-kali ada diantara kalian atau kerabat kalian yang mengirim pahala bacaan apapun kepada siapapun yang mati seperti yasinan, tahlilan dan semacamnya
4. dan masih banyak lagi perbuatan tata cara berdo’a yag dilakukan oleh kebanyakan orang yang tidak ada tuntunannya dari syari’at serta tidak ada contoh yg dilakukan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam maupun para shahabatnya (para pendahulu kita yang shalih-shalih). Yg mana perbuatan tsb dapat menambah adzab bagi si mati.
Jika kalian belun paham maksud saya ini, maka hendaknya kalian pelajari dan jangan kalian anggap buruk Manhaj Salaf karena orang yang masuk islam tidak melalui cara yang dipahami oleh para shahabat (Manhaj Salaf) maka yang ia dapati hanyalah kesalahan (kesesatan).
Kembalilah, wahai anak-anaku kpd manhaj salaf sebagaimana semula pernah kalian pelajari, jika kalian ingin membahagiakan saya dan tinggalkan cara yang kalian lakukan setelah itu karena meninggalkan adalah perbuatan mudah.

13 04 2011
ahmad rodan

assalamualaikum….saya mau tanya ….dia non muslim…tapi dia memberi manfaat yang luar biasa terhadap peradaban dunia… (Thomas Alfa Edison, Bill Gates dll) apakah dia akan mendapat ridha Allah SWT ?….

wa’alaykumussalam warohmatulloh,… jasa jasanya sudah dibalas dunia, berupa kekayaan, ketenaran dsb, Allahu ‘alam

5 09 2011
De' DuNye

http://muslim.or.id/manhaj/menjadi-salafi-mengapa-tidak.html/comment-page-1

“Aku tinggalkan kepada kamu semua dua perkara, jika kamu semua berpegang teguh dengannya maka selamanya tidak akan tersesat: Kitab Allah Al-Quran, dan Sunnah Rasulullah” (HR. Hakim, shahih).
menurutu saya sangat jelas isi pesan dari hadist di atas. bila memang suatu ibadah itu tidak terdapat pada Al-qur’an dan Hadist maka sebaiknya tinggalkan saja. simple kan
dari pada udah capek2 menjalankan dapat pahala belum tentu, dikategorikan menentang sunnah Nabi iya, bisa celaka kan.
semoga kita semua bisa termasuk orang2 yg tergolong ingin MEMURNIKAN AQIDAH DAN MENEBARKAN SUNNAH, AMIN

25 08 2014
hmjn wan

Ass. Wr. Wb.
Dengan mempertajam perbedaan, tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ?
Kalau perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %. Terhadap angka itu Anda ikut perperan, yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT.
Wass. Wr. Wb.
hmjn wan@gmail.com

16 05 2016
Wida Widodo

Bismillah

Afwan pak, di bagian paragraf di bawah ini ada bagian yang membingungkan (barangkali karena kalimatnya terlalu panjang, jadi malah tidak ada kesimpulannya untuk orang-orang yang membuat aneka ragam makanan atau menyembelih binatang pada waktu Tahlilan dan Yasinan:

Sedangkan orang-orang yang membuat aneka ragam makanan atau menyembelih binatang pada waktu Tahlilan dan Yasinan, apabila mereka bermaksud untuk bersedekah kepada masyarakat, dan tidak ditujukan kepada berhala-berhala, juga disebut nama Allah ta’ala ketika menyembelih, dan menggunakan alat yang tajam, hanya saja mereka menghadiahkan pahala bacaan Alquran atau selainnya dalam acara tersebut kepada orang yang telah mati dan ini tidak memengaruhi kehalalan binatang yang disembelih …… (seharusnya dipenggal di sini. Ini hukumnya apa? Bolehka?)

Baru kemudian dilanjutkan dengan kalimat berikutnya:

kecuali apabila benar-benar diyakini, bahwa mereka menyembelih untuk berhala atau tidak disebut nama Allah ta’ala atau semisal mereka yang menyembelih binatang dengan keyakinan, bahwa menyembelih pada acara kematian hari ketiga, tujuh atau empat puluh dan seterusnya lalu diperuntukkan jin- jin, arwah-arwah, atau penghuni-penghuni yang ditakutkan atau menyelamatkan mereka -dan ini termasuk sembelihan/ibadah kepada selain Allah ta’ala- maka hukumnya menjadi haram

[I] terimakasih atas koreksinya… [/i]
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: