Apakah mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya ?

31 01 2008

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Bani ditanya: “Ada sebagian orang yang berkata bahwa apabila terdapat sebuah hadits yang bertentangan dengan ayat Al-Qur’an maka hadits tersebut harus kita tolak walaupun derajatnya shahih.

 

Mereka mencontohkan sebuah hadits: “Sesungguhnya mayit akan disiksa disebabkan tangisan dari keluarganya.”

Mereka berkata bahwa hadits tersebut ditolak oleh Aisyah Radliyallahu ‘anha dengan sebuah ayat dalam Al-Qur’an surat Fathir ayat 18: “Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.

 

Bagaimana kita membantah pendapat mereka ini ?

Jawaban:
Mengatakan ada hadits shahih yang bertentangan dengan Al-Qur’an adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebab tidak mungkin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diutus oleh Allah memberikan keterangan yang bertentangan dengan keterangan Allah yang mengutus beliau (bahkan sangat tidak mungkin hal itu terjadi).

Dari segi riwayat/sanad, hadits di atas sudah tidak terbantahkan lagi ke-shahih-annya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Umar bin Khattab dan Mughirah bin Syu’bah, yang terdapat dalam kitab hadits shahih (Bukhari dan Muslim).

Adapun dari segi tafsir, hadits tersebut sudah ditafsirkan oleh para ulama dengan dua tafsiran sebagai berikut :

 

  • Tafsiran pertama :Hadits tersebut berlaku bagi mayit yang ketika hidupnya dia mengetahui bahwa keluarganya (anak dan istrinya) pasti akan meronta-ronta (nihayah) apabila dia mati. Kemudian dia tidak mau menasihati keluarganya dan tidak berwasiat agar mereka tidak menangisi kematiannya. Orang seperti inilah yang mayitnya akan disiksa apabila ditangisi oleh keluarganya.Adapun orang yang sudah menasihati keluarganya dan berpesan agar tidak
    berbuat nihayah, tapi kemudian ketika dia mati keluarganya masih tetap
    meratapi dan menangisinya (dengan berlebihan), maka orang-orang seperti
    ini tidak terkena ancaman dari hadits tadi.

    Dalam hadits tersebut, kata al-mayyit menggunakan hurul alif lam (isim
    ma’rifat) yang dalam kaiah bahasa Arab kalau ada isim (kata benda) yang di bagian depannya memakai huruf alif lam, maka benda tersebut tidak bersifat umum (bukan arti dari benda yang dimaksud). Oleh karena itu, kata “mayit” dalam hadits di atas adalah tidak semua mayit, tapi mayit tertentu (khusus).

    Yaitu mayit orang yang sewaktu hidupnya tidak mau memberi nasihat kepada keluarganya tentang haramnya nihayah.

    Demikianlah, ketika kita memahami tafsir hadits di atas, maka kini jelaslah bagi kita bahwa hadits shahih tersebut tidak bertentangan dengan bunyi ayat:”Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.”
    Karena pada hakikatnya siksaan yang dia terima adalah akibat kesalahan/dosa dia sendiri yaitu tidak mau menasihati dan berdakwah kepada keluarga.

    Inilah penafsiran dari para ulama terkenal, di antaranya Imam An-Nawawi.

     

  • Adapun tafsiran kedua adalah tafsiran yang dikemukakan oleh Syaikhul
    Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah di beberapa tulisan beliau bahwa yang dimaksuddengan azab (siksaan) dalam hadits tersebut adalah bukan adzab kubur atau azab akhirat melainkan hanyalah rasa sedih dan duka cita. Yaitu rasa sedih dan duka ketika mayit tersebut mendengar ratap tangis dari keluarganya.
    Tapi menurut saya (Syaikh Al-Albani), tafsiran seperti itu bertentangan
    dengan beberapa dalil. Di antaranya adalah hadits shahih riwayat Mughirah bin Syu’bah:”Sesungguhnya mayit itu akan disiksa pada hari kiamat disebabkan tangisan dari keluarganya.”

    Jadi menurut hadits ini, siksa tersebut bukan di alam kubur tapi di akhirat, dan siksaan di akhirat maksudnya adalah siksa neraka, kecuali apabila dia diampuni oleh Allah, karena semua dosa pasti ada kemungkinan diampuni oleh Allah kecuali dosa syirik.

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ : 48).Banyak hadits-hadits shahih dan beberapa ayat Al-Qur’an yang mengatakan
    bahwa seorang mayit itu tidak akan mendengar suara orang yang masih hidup kecuali saat tertentu saja. Di antaranya (saat-saat tertentu itu) adalah hadits riwayat Bukhari dari shahabat Anas bin Malik Radliyallahu’anhu:”Sesungguhnya seorang hamba yang meninggal dan baru saja dikubur, dia mendengar bunyi terompah (sandal) yang dipakai oleh orang-orang yang mengantarnya ketika mereka sedang beranjak pulang, sampai datang kepada dia dua malaikat.”

     

    Kapan seorang mayit itu bisa mendengar suara sandal orang yang masih hidup? Hadits tersebut menegaskan bahwa mayit tersebut hanya bisa mendengar suara sandal ketika baru saja dikubur, yaitu ketika ruhnya baru saja dikembalikan ke badannya dan dia didudukkan oleh dua malaikat

     

    Jadi, tidak setiap hari mayit itu mendengar suara sandal orang-orang yang lalu lalang di atas kuburannya sampai hari kiamat. Sama sekali tidak !

Seandainya penafsiran Ibnu Taimiyyah di atas benar, bahwa seorang mayit itu bisa mendengar tangisan orang yang masih hidup, berarti mayit tersebut bisa merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya, baik ketika dia sedang diusung atau dia dimakamkan, sementara tidak ada satupun dalil yang mendukung pendapat seperti ini.

Hadits selanjutnya adalah:”Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang bertugas menjelajah di seluruh permukaan bumi untuk menyampaikan kepadaku salam yang diucapkan oleh umatku.”


Seandainya mayit itu bisa mendengar, tentu mayit Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih dimungkinkan bisa mendengar. Mayit beliau jauh lebih mulia dibandingkan mayit siapapun, termasuk mayit para nabi dan rasul. Seandainya mayit beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam bisa mendengar, tentu beliau mendengar salam dari umatnya yang ditujukan kepada beliau dan tidak perlu ada malaikat-malaikat khusus yang ditugasi oleh Allah untuk menyampaikan salam yang ditujukan kepada beliau.

Dari sini kita bisa mengetahui betapa salah dan sesatnya orang yang ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada orang yang sudah meninggal, siapapun dia. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia di sisi Allah dan beliau tidak mampu mendengar suara orang yang masih hidup, apalagi selain beliau.

 

Hal ini secara tegas diterangkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 194: “Sesungguhnya yang kalian seru selain Allah adalah hamba juga seperti kalian.”Juga di dalam surat Fathir ayat 14 :”Jika kalian berdo’a kepada mereka, maka mereka tidak akan mendengar do’a kalian.”

Demikianlah, secara umum mayit yang ada di dalam kubur tidak bisa mendengar apa-apa kecuali saat-saat tertentu saja. Sebagaimana yang sudah diterangkan dalam beberapa ayat dan hadits di atas.

(Dikutip dari “Tanya Jawab dalam Memahami Isi Al-Qur’an” Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani rahimahullah)

 


Aksi

Information

13 responses

4 02 2008
ahmad

matamu bidak,ilmu mu sepiro kok kakean pola.dasar anjing lho………..

7 09 2010
aurel

heh jaga omongan mu, Allah pasti tau apa yang kamu katakan dan Dia mempunyai malaikat pencatat amal jelek.,

7 09 2010
wika

husssss hati-hati klo ngomong,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

5 01 2012
ris

Kalo tidak suka islam jangan terlalu mencemooh..
Sungguh sempurna agama islam ini dengan kebenaran2 yg nyata adanya.tidak sperti agama lain

15 04 2008
Ahmad

Bagaimana dengan ziarah kubur?
Apakah berarti kita tidak perlu menziarahi kuburan kerabat / leluhur bila kita ingin mendoakan nya? Cukup kah bila kita hanya mendoakan dari rumah saja tanpa perlu berziarah di kuburan yang akan kita doakan?
Bila demikian, tentu manfaat ziarah kubur untuk mengingatkan kita akan kematian akan kurang terasa.

7 09 2010
aurel

ya terserah anda , enaknya gimana klo menurut anda mana yang baik

7 09 2010
dhit

terserah enak aja loooooooooo

23 05 2008
Jafar Soddik

Tulisan ini kutipan dari Syeikh Al-Albani, dan itu merupakan pendapat pribadi beliau. Yang pasti kalau ingin lebih memperluas khasanah ilmu, cobalah bandingkan dengan pendapat berbagai ulama besar lainnya sehingga cakrawala tentang ajaran Islam terbuka. Apa yang ditulis Syeikh Al-Albani bukan mutlak suatu kebenaran yang hakiki, karena beliau pun manusia.

7 09 2010
wika

berarti yang nangis itu gak boleh sampe’ meraung-raung yaaaaaaa

10 09 2010
agus sunanto

Jazakillah, smg menjadi sumber ilmu bagi saya pribadi dan saudaraku muslim umumnya…. ditunggu artikel2 yg lainnya.

24 09 2010
andy

semua pendapat boleh diterima atau ditolak, kecuali hadits Rasulullah SAW. INGAT KEBENARAN hanya milik Allah maka jika datang suatu kebenaran janganlah kita ragu apa lagi sampai menolaknya karena itu adalah kesombongan yang luar biasa. na’udzu bilah

3 05 2011
Agustriawan

Kebenaran datang bukan untuk kita sendiri”tapi untuk semua orang..benar tidaknya suatu kebeneran tergantung dari sudut mana kita memandang.kalau kita memandang kebeneran dng mata kebencian yg tampak hanyalah kejelekan semua,walaupun itu suatu kebenaran.

24 05 2011
yusuf

siippp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: