Mengikuti Dalil bukan Berarti Memboikot Para Imam

24 10 2007

Mengikuti Dalil Bukan Berarti Memboikot Para Imam

 

Sebagian orang yang bertaklid kepada madzhab mengira bahwa ajakan untuk mengikuti dalil dari Al Quran dan As sunnah serta tidak mengambil pendapat para imam yang bertentangan dengan keduanya, berarti tidak mengambil pendapat mereka secara mutlak dan dama sekali tidak mengambil manfaat dari hasil ijtihad mereka.

 

Al-Allamah Al-Albani rahimahummulah berkata dalam muqaddimah Shifat Shalat Nabi hal 69-70 berkata :

Anggapan semacam ini sangat tidak benar bahkan jelas kebathilannya, sebagaimana tampak dengan jelas dari keterangan sebelumnya. Semua keterangan yang lalu bertentangan dengan anggapan ini. Kami hanya menyerukan agar tidak menjadikan madzhab sebagai agama dan mensejajarkannya dengan Al Quran dan As Sunnah. Yakni menjadikan madzhab sebagai rujukan jika terjadi perbedaan pendapat atau ketika hendak mengambil hukum baru untuk permasalahan-permasalahan yang sedang berkembang sebagai mana dilakukan oleh sebagian orang yang dianggap faqih pada jaman ini. Mereka menetapkan hukum hukum baru mengenai Ahwal Syakshiyyah (masalah-masalah perdata), nikah, cerai, dan lainnya, tanpa merujuk kepada Al Quran dan As Sunnah untuk mengetahui yang benar dari yang salah, yang hak dari yang bathil. Tetapi hanya berdasarkan semboyan “perbedaan pendapat itu rahmat” Mereka mencari cari dispensasi hukum (rukshah), memilih yang mudah atau maslahat menurut anggapan mereka. Alangkah indahnya ungkapan yang dikemukakan oleh Sulaiman At-Taimi rahimahumullahJika anda hanya mengambil semua dispensasi dari setiap ulama berarti anda telah mengumpulkan semua kejelekan untuk diri anda

 

Pernyataan tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr (II/91-92), lantas ia memberikan komentarnya “Setahuku ini merupaka ijma’ yang tidak diperselisihkan dikalangan para ulama”

 

Sikap hanya mengambil “keringanan” inilah yang kami tolak dan pendapat kami ini sesuai dengan ijma’ ulama. Adapaun mengambil pendapat para imam untuk mendapatkan faidah dari pendapat tersebut, dan untuk membantu dalam memahami aspek kebenaran dalam masalah yang diperselisihkan yang tidak ada ketetapannya dari Al quran dan As sunnah, atau untuk memperoleh penjelasan, maka hal ini tidak kami pingkiri. Bahkan kami memerintahkan dan mendorong untuk melakukannya karena faidahnya bisa diharapkan oleh orang -orang yang menempuh jalan untuk mendapatkan petunjuk dari Al Quran dan As Sunnah.”

 

Al-Allamah Ibnu Abdil Barr rahimahumullah (II/172) berkata :

Wahai saudaraku, hendaknya anda menghapal dan memperhatikan sumber-sumber pokok agama. Ketahuilah bahwa orang yang bersungguh sungguh menhapalkan Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dan hukum yang termaktub dalam Al quran serta pendapat pendapat ahli fiqih, lalu menjadikannya sebagai sarana untuk melakukan ijtihad, membuka langkah untuk berfikir dan mantafsirkan kalimat-kalimat umum yang mengandung beberapa pengertian dalam Sunnah, tidak mebeo kepada seseorang pun, tidak menganggap dirinya sebagai orang yang layak bersikap sebagai ulama dalam menganalisa Sunnah, mengikuti pola mereka dalam melakukan kajian, pemahaman, dan menghargai usaha mereka yang bermanfaat, memuji mereka karena kebenaran kebanyakan pendapat mereka, tidak menyatakan dirinya selamat dari kesalahan, seperti para ulama terdahulu, berarti ia seorang penuntut ilmu yang berpegang teguh pada trdisi salafush shalih. Orang yang semacam ini benar dalam langkahnya, terbantu dalam meluruskan cara berpikirnya dan dialah yang layak disebut sebagai pengikut Sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dan petunjuk para sahabatnya.

Sebaliknya orang yang enggan untuk mengkaji, menyimpang dari hal-hal yang kami sebutkan diatas, menentang hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dengan ra’yunya, dan mengaku sudah mencapai kemampuan untuk ber ijtihad sendiri adalah orang yangs esat lagi menyesatkan. Orang yang tidak mengetahui semua itumemberikan fatwa tanpa ilmu, maka ia lebih buta dan lebih sesat lagi.”

Inilah kebenaran yang tidak tersembunyi lagi

Biarkanlah aku mengikuti rambu-rambu jalan ini

 

Peringatan peringatan ini sudah cukup bagi kita untuk berhukum kepada Al Quran dan As Sunnah serta membuangs egala pendapat yang bertentangan dengan keduanya, dan membantah segala perilaku taklid yang tidak ada dasar argumentasinya. Jika masih ada juga yang ngotot untuk melakukan taklid, maka kita katakan kepadanya :

Ibnu Abdil Barr dan ulama selainnya menukil suatu ijma’ bahwa orang yang bertaklid tidak tergolong ulama. Orang yang bertaklid tidak boleh menentang seorang mujtahid. Jika ia mengatakan “Tapi anda bukanlah seorang mujtahid” kita jawab, “ Sebagaimana disebutkan para ulama bahwa ijtihad itu bermacam macam. Seorang mujtahid tidak harus berijtihad dalam setiap permasalahan. Dengan demikian penentangan yang anda lakukan tidak dapat diterima. Sebab tidak mungkin orang buta menghitung dirham”

 

Wallahu a’lam

 

(disalin dari Shahih fiqh Sunnah jilid I karya Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim, hal 85-86, terbitan Pustaka At-Tazkia)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: