Apakah Kebenaran Lebih dari satu…??

1 10 2007

 

Apakah Kebenaran Lebih Dari satu..??!

 

Banyak kalangan yang menisbatkan dirinya kepada Madhzab madzhab fiqh -terutama zaman sekarang- yang bertolak belakang dengan orang orang yang bergantung pada salah satu madzhab tertentu. Mereka berpendapat boleh mengambil setiap madzhab mana saja yang lebih ringan dan sesuai dengan hawa nafsu mereka dan cocok untuk kemaslahatan mereka, walaupun ternyata dalil  Al Quran dan As Sunnah bertentangan dengan pendapat yang mereka pilih.

Dengan alasan bahwa pendapat ini juga dinyatakan sebagian ulama dan bahwa perbedaan ini merupakan keleluasaan yang di berikan kepada ummat ini, seraya berdalil dengan hadits   “Perbedaan pendapat dikalangan ummatku adalah rahmat (dari Allah)”

Syeikh Al-Albani rahimahumullah menjawab syubhat ini dalam Shifat Ash Shalah hal. 59-66 :

Syubhat ini dapat dijawab dari dua sisi…:

Pertama  : hadits tersebut tidak sah, bahkan bathil dan tidak ada sumbernya, Al Allamah As-Subki berkata “Saya tidak temukan hadits ini dengan sanad shahih, dhaif ataupun maudhu

Saya katakan (Al albani) , hadits yang ada sanad nya berbunyi :

perbedaan pendapat dikalangan shahabatku adalah rahmat bagi kalian

dan, “Shahabat – shahabatku laksana bintang. siapapun diantara kalian yang mereka ikuti niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk

Kedua hadits ini tidak sah.Hadits yang pertama sangat lemah, dan hadits yang kedua maudhu (palsu). Hasil analisa kedua hadits ini telah saya cantumkan seluruhnya dalam Silsilah Al Hadits adh-Dhaifah wa Al-Maudhuah (hadits no.58,59,61)

Kedua :, hadits ini -disamping kelemahannya- juga bertentangan dengan Al quran. Sebab ayat ayat yang mensinyalir tentang larangan dalam berikhtilaf dalam masalah agama dan perintah supaya bersepakat mengenainya terlalu mashyur untuk disebutkan.Tapi tidak ada salahnya disebutkan sebaggian ayat tersebut sebagai contoh.

Allah ta’ala berfirman :

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(Al Anfal:46)

وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

إِلاَّ مَن رَّحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأَمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (Hud 118-119)

Jika orang yang mendapat rahmat Allah tidak berselisih, dan yang berselisih hanyalah ahli kebatilan, maka bagaimana mungkin masuk akal jika dikatakan perselisihan merupakan rahmat…??!

Sebagian yang lain mengatakan:

Jika perselisihan atau perbedaan pendapat dalam agama dilarang, lalu bagaimana pendapat anda mengenai perselisihan pendapat dikalangan para shahabat, para imam, dan ulama-ulama sesudahnya..?! apakah ada perbedaan antara perselisihan yang terjadi dikalangan mereka dengan perselisihan yang terjadi dikalangan ulama muta’akhirin..??!

Jawabnya : YA. Ada perbedaan yang sangat besar diantara kedua perselisihan itu. Hal itu terlihat dalam dua hal: pertama : sebab – sebabnya,  kedua : dampaknya.

Perbedaan pendapat dikalangan sahabat terjadi semata mata darurat dan perbedaan yang alamiah dalam memahami seseatu bukan perselisihan yang disengaja. Disamping itu ada faktor lain yang memicu perbedaan tersebut pada masa mereka. Kemudian lenyap setelah itu.

Perbedaan semacam ini tidak mungkin bisa dihindari secara umum dan para pelakunya tidak dapat dikatakan melakukan perbuatan tercela karena menyalahi ayat ayat diatas. Karena mereka melakukan hal tersebut bukan dengan sengaja atau bermaksud mempertahankan perselisihan tersebut.

Adapun perselisihan pendapat yang terjadi dikalangan pelaku taklid pada umumnya adalah perbuatan yang tidak dapat dimaafkan. Sebab diantara mereka ada yang sudah mengetahui adanya dalil dari Al Quran dan As Sunnah yang mendukung madzhab lain yang bukan madzhabnya. Ia meninggalkan dalil tersebut bukan karena apa apa melainkan karena dalil tersebut bertentangan dengan madzhab yang dianutnya.

Seakan akan madzhab tersebut , baginya adalah prinsip atau agama yang di bawa Rasulullah shalalahu ‘alaihi wassalam, sedangkan madzhab lain adalah agama lain yang sudah dihapuskan/ tidak berlaku lagi.   wallahul musta’an

Sebagian yang lain mengatakan ” Tidak ada salahnya mengambil pendapat mana saja yang disukainya dan meninggalkan mana saja yang tidak disukainya, sebab semua adlah syariat”  Mereka tetap melestarikan perselisihan yang terjadi di antara madzhab madzhab itu, berdasarkan hadits  bathil ” Pebedaan pendapat diatara umatku adalah rahmat” seringkali kita dengar hadits ini sebagai dalil dari mereka.

Padahal alasan tersebut bertentangan dengan ayat ayat Alquran yang demikian jelas dan bertentangan dengan pernyataan para imam madzhab yang dianutnya. Sebagian Imam madzhab tersebut menolak hal tersebut dengan tegas.

Ibnu Al Qosim mengatakan “Aku pernah mendengar Malik dan Laits berkata tentang perselisihan para shahabat Rasulullah shalalahu ‘alaihi wassalam, ” Tidak seperti yang dikatakan oleh orang orang bahwa dalam perselisihan itu ada kelonggaran . Bukan demikian, tetapi pendapat yang berbeda itu ada yang salah dan ada yang benar”

Asyhab berkata ” Imam Malik pernah ditanya mengenai seseorang yang berpegang teguh pada hadits yang dituturkan oleh orang yang bisa dipercaya dari para shahabat rasulullah shalalahu ‘alaihi wassalam “apakah menuerut anda, ia mendapatkan kelonggaran dari hal itu.?

Imam Malik menjawab “Tidak,demi Allah, hingga ia mengambil yang benar. Kebenaran itu hanya satu. Dua pendapat yang berbeda tidak mungkin keduanya benar, sekali lagi kebenaran itu hanya satu”

Al-Muzani , murid Imam asy Syafi’i, berkata : “para sahabat rasululllah berbeda pendapat, dan ternyata yang satu mengkoreksi yang lainnya, dan yang satu meneliti pendapat yang lainnya serta memberikan komentarnya. Seandainya semua pendapat sahabat itu benar, tentunya mereka tidak saling mengoreksi dan meneliti mana yang salah dan mana yang benar.Umar bin khotob radyallahu ‘anhu pernah marah kepad Ubay bin Ka’ab dab Ibnu Mas’ud dikarenakan perbedaan pendapat mereka mengenai hukum orang yang shalat mengenakan satu pakaian sampai Umar pun keluar dengan marah seraya berkata ‘ Dua orang sahabat rasulullah shololohu ‘alaihi wassalam berselisih pendapat tentang perkara yang dilihatnya dan dicontohnya dari Nabi shololohu ‘alaihi wassalam, disini yang benar adalah pendapat Ubay bin Ka’ab tetapi Ibnu Mas’ud juga tidak keliru. Tetapi jika aku masih mendengar seseorang berselisih mengenai masalah ini setelah hari ini aku pasti akan ambil tindakan tegas terhadapnya’”

Kemudian sebagian orang mengatakan :

Kutipan yang anda sebutkan bahwa Imam Malik menyatakan kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang bertentangn dengan apa yang telah masyhur dalam kitab kitab bahwa Khalifah Harun Ar Rasyid ingin sekali menjadikan madzhab Imam Malik dan Kitab Al-Muwaththa’ nya sebagai hukum peradilan di Daulah Abbasiyyah. Tetapi Imam Malik menolak keinginan khalifah tersebut seraya mengatakan “Para sahabat rasulullah shalalahu ‘alaihi wassalam memiliki pendapat yang berbeda dalam masalah furu’, dan mereka telah terpencar pencar di berbagai negri, serta semuanya benar.”

Jawabannya : Kisah Imam Malik ini memang sangat terkenal. Namun pernyataan pada bagian terakhir,   “dan semuanya benar” ,  adalah ucapan yang tidak diketahu asal usulnya. Hanya ada satu riwayat, sebagaimana tercantum dalam riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (VI/32). dalam sanad riwayat ini terdapat seorang yang bernama Miqdam bin Daud. Ia termasuk salah seorang perawi yang disebutkan Imam adz-Dzahabi dalam Adh-Dhu’afa’ selain itu kalimat dalam riwayat tersebut berbunyi, “Semua pendapat itu menurut masing masing adalah benar”

Perkataan Imam Malik “ menurut mereka masing masing” menunjukkan bahwa ada sisipan kalimat lain yang tidak tercantum dalam riwayat pertama. Karena bagaimana mungkin ucapan itu muncul darinya padahal riwayat ini  bertentangan dengan riwayat yang lebih terpercaya dari Imam Malik bahwa kebenaran itu hanya satu, tidak bermacam macam. Demikianlah pendapat yang di ikuti oleh semua sahabat, tabi’in, imam madzhab yang empat dan para mujtahid lainnya.

Imam Abdil Barr berkata : “Seandainya kebenaran ada pada dua pihak yang berbeda, tentunya kalangan salaf yang satu tidak akan mengoreksi yang lainnya dalam urusan ijtihad, keputusan hukum , dan fatwa mereka. Akal sehat tidak akan menerima dua hal yang bertentangan dinilai benar seluruhnya. Sungguh sangat indah perkataan seorang seorang penyair berikut ini  

Menetapkan dua hal yang berlawanan sekaligus dalam satu masalah adalah perkara mustahil yang paling tercela

Ini berarti bahwa perselisihan dan perbedaan pendapat itu seluruhnya buruk, bukan suatu rahmat. Oleh karena itu, ada perbedaan pendapat yang menimbulkan dosa seperti perbedaaan pendapat yang timbul karena sikap fanatik madzhab.

Tetapi, ada juga perbedaan pendapat yang tidak menimbulkan dosa seperti yang terjadi dikalangan para sahabat, tabi’in, dan para imam. semoga Allah ta’ala memasukkan kita kedalam golongan mereka dan diberi taufik untuk mengikuti jejak mereka –rahimahumullahu ta’ala

Jadi , jelaslah bahwa perbedaan dan perselisihan pendapat di kalangan para sahabat berbeda dengan perselisihan yang terjadi dikalangan para pelaku taklid.

Ringkasnya, para sahabat berbeda dan berselisih pendapat karena darurat. Namun mereka menolak perbedaan dan perselisihan pendapat itu sendiri dan menghindarkan diri dari hal yang semacam ini selam mereka mendapatkan solusinya.

Adapun golongan pelaku taklid, sekalipun mereka memiliki kesempatan untuk menghindar dari perbedaan dan perselisihan pendapat mereka enggan untuk bersepakat dan menempuh jalan kearah sana, bahkan mereka terus bersikukuh dalam perselisihan itu, oleh karena itu semakin jauh jurang perbedaan diantara dua perselisihan itu.

Adapun dampak dari perselisihan tersebut sangatlah jelas,

Para sahabat radyallahu ‘anhu, meskipun berbeda pendapat dalam masalah furu’, mereka tetap teguh memelihara kesatuan, jauh dari perpecahan dan tidak berpecah belah. Sebagai contoh, membaca basmalah secar jahr (dikeraskan), sebagian sahabat menyatakan bahwa hal itu disyariatkan, sementara yang lain menyatakan tidak disyariatkan. Demikian juga masalah menyentuh wanita setelah wudhu, ada yang berpendapat batal dan ada yang berpendapat tidak batal, sekalipun demikian, mereka tetap shalat berjama’ah dibelakang seorang imam dan tidak mau meninggalkan shalat dibelakang seorang imam dikarenakan perbedaan pendapat.

Adapun para pelaku taklid, maka perselisihan mereka bertolak belakang dengan perselisihan para sahabat. Salah satu dampaknya adalah tercerai berainya kaum muslimin dalam rukun islam terbesar yaitu shalat. Orang yang berbeda madzhabnya tidak mau shalat dibelakang imam yang tidak sama madzhabnya.

Bahkan perselisihan ini mencapai keadaan yang lebih ekstrim lagi pada sebagian pelaku taklid. Misalnya larangan menikah antara pria bermadzhab Hanafi dengan wanita bermadzhab Syafi’i,

Itulah dua contoh perbedaan yang telah nyata berdampak negatif terhadap umat, sebagai akibat dari perselihan penadpat ulama muta’akhirin yang terus dipertahankan. Hal ini berbeda dengan ikhtilaf yang terjadi dikalangan salaf yang tidak mendatangkan pengaruh buruk terhadap umat. Oleh karena itulah golongan salaf saat ini merupakan golongan yang paling selamat, karena mereka mematuhi larangan untuk bercerai berai dalam agama. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan kepada kita semua pada jalan yang lurus.

Allahu ‘alam

 

Disadur dengan penyesuain seperlunya dari Shahih Fiqh Sunnah karya Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim terbitan Pustaka At-Tazkia

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: