Petunjuk ialah Mengetahui Kebenaran

8 08 2007

Petunjuk ialah Mengetahui Kebenaran

Oleh : Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah

(Buah Ilmu, Cet. II, Pustaka Azzam, Jakarta, 1999, hal. 80)


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda dalam Shahih Muslim,

“Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui alam ghaib dan alam nyata, Engkau memutuskan di antara hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan.  Berilah aku petunjuk kepada kebenaran di dalam apa yang diperselisihkan.  Sesungguhnya Engaku memberi petunjuk ke jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki.” (Diriwayatkan Muslim)

Disebutkan dalam beberapa Sunan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan takbiratul ihram pada shalat malam kemudian berdoa dengan doa di atas.

Petunjuk ialah mengetahui kebenaran dan mendahulukannya daripada yang lain.  Orang yang mendapat petunjuk ialah orang yang berbuat dengan benar dan menginginkan kebenaran.  Itulah nikmat Allah terbesar kepada seorang hamba.  Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita meminta kepada-Nya jalan yang lurus pada setiap hari di shalat lima waktu kita.  Seorang hamba membutuhkan pengenalan kepada kebenaran yang membuat Allah ridha pada setiap gerakannya yang terlihat dan yang tidak terlihat.  Jika ia telah mengenal kebenaran tersebut, kemudian ia membutuhkan pihak yang membimbingnya kearah kebenaran tersebut, kemudian menanamkan keinginan kepada kebenaran ke dalam hatinya dan membuatnya mampu melaksanakan kebenaran tersebut.

Sebagaimana diketahui bahwa apa yang tidak diketahui seorang hamba itu lebih banyak daripada apa yang diketahuinya dan bahwa apa yang diketahuinya sebagai kebenaran itu, maka jiwanya tidak mendukungnya untuk menginginkannya.  Jika ia menginginkannya, maka ia tidak mampu mengerjakan semua kebenaran tersebut.  Oleh karena itu,ia setiap waktu membutuhkan petunjuk untuk masa yang silam, masa kini, dan masa mendatang.

Untuk masa yang silam, ia membutuhkan introspeksi dirinya tentang masa lalunya; apakah masa lalu teralokasikan dalam hal-hal yang benar kemudian ia bersyukur kepada Allah dan meminta kelangsungan nikmat seperti itu?  Ataukah ia keluar dari jalur yang benar kemudian ia bertaubat kepada Allah Ta’ala daripadanya, meminta ampunan kepada-Nya, dan bertekat tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya?

Untuk masa kini, ia tetap membutuhkan petunjuk, karena ia adalah anak waktunya.  Ia perlu mengetahui hukum amal perbuatan-amal perbuatan yang terdapat kesimpangsiuran di dalamnya; apakah benar atau salah?

Untuk masa mendatang, kebutuhannya kepada petunjuk lebih mendesak agar perjalannya kepada Allah semakin lancar.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: