Feeds:
Tulisan
Komentar

Diantara anugerah Allahu ta’ala yang wajib disyukuri oleh setiap muslim adalah tersebarnya dakwah yang haq, dakwah salafiyyah, diseluruh penjuru dunia dengan begitu pesat pada dekade terakhir ini.

Tatkala Dakwah salafiyyah diemban oleh para da’i yang berilmu, memiliki hikmah dan memiliki sikap santun, mereka melaksanakan manhaj Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan mereka praktekan sesuai dengan kemampuan, maka Allah ta’ala mendatangkan manfaat dengan sebab mereka , dan tersebarlah dakwah Salafiyyah diseluruh penjuru dunia, dengan akhlak, keilmuan, dan hikmah mereka.

Hanya saja pada hari hari ini dakwah salafiyyah mengalami kendala didalam perjalanannya, yang sangat disayangkan bahwa kendala ini tidak datang dari faktor eksternal , justru datang dari dalam, yaitu dari sebagian orang-orang yang memiliki semangat tinggi didalam dakwah tetapi miskin dalam segi akhlak, keilmuan dan hikmah dalam dakwah.

Dan berikut ini sebuah pengalaman, pelajaran dan nasehat dari Asy Syaikh al Allamah Rabi’ bin Hadi al Madhkali hafidzhahullah sewaktu berdakwah di Sudan, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua…..

Lanjut Baca »

Pernyataan Al Ustadz Ja’far Umar Thalib mengenai ruju’nya beliau dari kesalahannya mengundang berbagai komentar, tanggapan, dan harapan dari kalangan penuntut ilmu, ada yang meragukan, ada yang mempercayai, ada juga yang benar benar tidak mempercayainya, berikut ini sedikit penjelasan dari Al Akh Fikri Abul Hasan pengelola situs http://alghuroba.org/ yang merupakan murid dari Al ustadz Ja’far Umar Thalib. Penjelasan atau tanggapan ini disampaikan kepada saya melalui chat via Yahoo Masenger, dan melalui offline massage YM! (dimana akh Fikri sudah memberikan idzin kepada saya untuk memuatnya di blog saya ) Dan tanggapan ini dengan sepengetahuan Al ustadz Ja’far Umar Thalib

Berikut sedikit penjelasan dari Al Akh Fikri Abul Hasan…

Benarkah Al Ustadz Ja’far Umar Thalib menipu Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madhkali..??

Lanjut Baca »

Alhamdulillah…… setelah sekian lama perselisihan antara Al ustadz ja’far Umar Thalib dengan kalangan salafiyin, akhirnya beliau menyatakan ruju’ atas beberapa kesalahan beliau, dan berikut beberapa perkataan beliau…..

Dalam hal dzikir jama’ah yang mengundang kontroversi dikalangan Salafiyyin beliau berkata…

Maka dalam hal pandangan mafsadah (kerusakan) yang ditimbulkan oleh kehadiran saya di majlis itu, saya setuju dengan segenap yang hadir di rumah As-Syaikh Muhammad, dan saya nyatakan bahwa Ja’far Umar Thalib tidak sepantasnya untuk mendatangi majlis dzikir Arifin Ilham meskipun untuk berceramah padanya. Maka dengan tulisan ini sekaligus saya nyatakan bahwa mulai sekarang Ja’far Umar Thalib tidak akan hadir di majlis dzikir Arifin Ilham dan sekaligus juga Ja’far Umar Thalib menyatakan keluar dari Dewan Syari’ah Majlis Adz-Dzikra Arifin Ilham.

Kemudian dalam hal penghalalan musik beliau berkata….

Lanjut Baca »

Sihir itu adalah hakiki (benar benar ada dan terjadi) sebagaimana ditunjukkan oleh firman Allahu ta’ala :

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul (Al Falaq 4)

Jika sihir itu tidak hakiki, maka tentunya Allah ta’ala tidak pernah menyuruh kita untuk memohon perlindungan kepadaNya dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir itu.

Demikian juga firman Allahu ta’ala

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya ( Al Baqarah 102)

Ayat ini menunjukkan bahwa sihir itu adalah hakiki dan bisa menjadi sebab (sarana) yang digunakan untuk menceraikan antara suami dengan istrinya.

Dalil yang menunjukkan bahwa sihir itu hakiki adalah hadits ‘Aisyah Radiyallahu ‘anha : :

Lanjut Baca »

Syirik Cinta

Benarkah cinta dapat menjerumuskan seorang hamba kepada kesyirikan?? Ternyata memang demikian, cinta yang salah dapat menjerumuskan seseorang kedalam kesyirikan yang merupakan dosa paling besar yang diperbuat untuk mendurhakai Allah,.

Cinta yang bagaimana yang menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan ??

Allah ta’ala berfirman :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)  (Al Baqarah 165)

Lanjut Baca »

Sebagian kelompok Ahli Filsafat dan golongan tasawwuf yang melampaui batas berpendapat bahwa doa itu sama sekali tak membawa manfaat !! Mereka menyatakan bahwa apabila sudah seharusnya sesuatu itu terjadi karena kehendak Allah ta’ala maka ia tak membutuhkan lagi doa. Kalau memang seharusnya untuk tidak terjadi maka apa gunanya lagi berdoa ??

Untuk menjawab syubhat yang mereka lontarkan itu terlebih dahulu kita sanggah dulu dua pangkal persepsi mereka. Sesungguhnya pernyataan mereka dalam persoalan kehendak Allah adalah bahwa sesuatu itu terjadi atau tidak terjadi. Dan (ada lagi) sebagai sanggahan yang lain, sesuatu itu terjadi dengan persyaratan, di mana tanpa persyaratan itu sesuatu tak akan terjadi. Dan doa itu termasuk di antara persyaratannya. Hal itu sebagaimana halnya pahala yang diberikan dengan persyaratan adanya amal shalih Ia tak akan ada tanpa amal shalih. Demikian iuga halnya rasa kenyang dan puas seusai makan dan minum yang itu tak akan teriadi tanpa ada keduanya Lahirnya anak sebagai hasil persengsamaan, tumbuhnya tanaman dari bibitnya, juga termasuk dalam hal itu. Kalau ditakdirkan bahwa sesuatu itu terjadi dengan adanya doa, tidak bisa dikatakan bahwa doa itu tidak membawa manfaat.

Lanjut Baca »

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (2697),Muslim (1718),Abu Dawud (4506) dan lbnu Majah( 14), dari hadits ‘Aisyah Radhiallahua’nha)


Tidak ada jalan selain jalan yang dilalui Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam, tidak ada hakekat selain hakekat yang dibawa olehnya, dan tidak ada syari’at selain syari’atnya. Begitu juga tidak ada keyakinan, merainkan keyakinan yang beliau yakini. Tak seorangpun yang dapat menemui Allah, mencapai keridhaan, Jannah dan kehormatan dari-Nva, melainkan hanya dengan mengikuti Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam baik lahir maupun batin.


Barangsiapa yang belum membenarkan apa yang beliau kabarkan, dan tidak konsekuen dalam mentaati apa yang beliau perintahkan, baik itu berkaitan dengan amalan batin yang terdapat di hati, ataupun amalan lahir yang dilakukan oleh tubuh, maka dia belum menjadi seorang mukmin apalagi menjadi wali Allah; meskipun dia memiliki kemampuan luar biasa bagaimanapun wujudnya !!

Lanjut Baca »

Al Bukhari didalam “Shahih” nya meriwayatkan dan An Nasai didalam “As Sunan” meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhyallahu ‘anhu bahwa Rasululullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُوْنَ علي الإِمَارَةِ وَ سَتَكُوْنُ نَدَامَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148)

Didalam hadits Ini terdapat satu tanda dari tanda tanda kenabian yaitu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengkabarkan tentang sesuatu yang belum terjadi kemudian terjadi sebagaimana disebutkan oleh beliau shalallahu ‘alaihi wassalam .

Sabdanya, “Kalian akan berambisi”, ditujukan kepada kita semua. Tidak keluar dari pengertian ini kecuali orang yang dijaga oleh Allahu ta’ala. Dan sabda Beliau . “padahal kekuasaan tersebut akan menjadi penyesalan dihari kiamat” maknanya seorang muslim seharusnya tidak hanya melihat pada jabatan yang diharapkan saja. Tetapi harus melihat pada apa yang akan dia dapati kelak ketika berjumpa dengan Allahu ta’ala.

Telah datang riwayat dalam Shahih Muslim bahwa Abu Dzar radhyallahu ‘anhu berkata

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَ إِنَّها أَمَانَةٌ وَ إِنَّها يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَ نَدامَةٌ إِلاَّ من أَخَذَها بِحَقِّها وَ أَدَّى الَّذِي عَلَيْه فِيْها

Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Shahih, HR. Muslim no. 1825)

Maka, renungkanlah sikap sikap Rasululullah shalallahu ‘alaihi wassalam kepada sekelompok sahabat beliau, padahal mereka adalah orang yang baik, bertakwa, shalih, berilmu, zuhud dan wara’. Dalam keadaan yang seperti ini semua Rasululullah shalallahu ‘alaihi wassalam melarang mereka semua untuk mencapai kekuasaan apapun bentuknya.

Lanjut Baca »

Seringkali dalam berbagai diskusi atau perdebatan atau bahkan dalam diri kita timbul pertanyaan apa sebenarnya motivasi atau hal yang mendorong para da’i untuk menyeru kembali kepada As Sunnah..??

berikut adalah sebuah makalah ilmiyah dari Al Imam Muhaditsin Muhammad Nashirudin Al Albani rahimahullah dalam Maqalaat Al Albani

Berikut adalah sebab sebab yang mendorong para da’i untuk menyeru untuk kembali kepada Sunnah serta meninggalkan seluruh yang bertentangan dengan sunnah, maka disini saya ( Albani) katakan :

Pertama :

Sunnah adalah referensi kedua setelah Al qur’an. Banyak ayat yang menjelaskan tentang hal itu sehingga menjadi salah satu ijma’ (kesepakatan) umat ini.

Lanjut Baca »

Muhammad Nashiruddin Albani

Termasuk hal yang disepakati oleh ulama bahwa taqlid adalah,

Mengambil suatu pendapat tanpa mengetahui dalil (landasannya)”

artinya, taqlid bukanlah berdasarkan ilmu pengetahuan. Maka atas dasar ini, para ulama menetapkan bahwa orang yang melakukan taqlid tidak dinamakan orang yang berilmu (‘alim) (Lihat Al Muwafaqat oleh Imam Syatibi (4/293)). Bahkan Ibnu Abdil Barr telah menukil kesepakatan tentang hal ini dalam kitab Jami’ Bayan Al Ilmi (2/37 dan 117), Ibnu Qoyim dalam kitab A’laamul Muwaqqi’in (3/293) dan Suyuthi maupun para peneliti yang lain, hingga sebagian mereka secara berlebihan mengatakan “ Tidak ada perbedaan antara taqlid terhadap hewan dengan taqlid terhadap manusia”

Penulis kitab Al Hidayah berkata sehubungan dengan seorang ahli taqlid yang memegang jabatan hakim :

Adapun taqlid yang dilakukan oleh orang awam menurut kami adalah boleh, berbeda dengan pendapat imam Syafi’i” ( ket: dalam pandangannya ini imam Syafi’i didukung oleh mayoritas ulama seperti Imam Malik dan Imam Ahmad )

Oleh sebab itu, para ulama berkata bahwa orang yang bertaqlid tidak diperkenankan memberikan fatwa.

Dengan mengetahui hal itu, maka jelaslah bagi kita sebab yang mendorong kaum salaf mencela dan mengharamkan taqlid, (lihat kitab Jami’ul Bayan Al Ilmi (2/109-120), karena perbuatan taqlid dapat menyeret seseorang untuk berpaling dari Al kitab dan Sunnah dalam rangka berpegang teguh dan taqlid terhadap pendapat para imam sebagaimana yang sering terjadi dikalangan para ahli taqlid. Bahkan, larangan melakukan taqlid seperti ini telah dinyatakan secara transparan oleh para imam generasi baru dalam madzhab Abu Hanifah. Syaikh Muhammad Al Khudari dalam pembahasannya tentang taqlid dan pelakunya berkata :

Lanjut Baca »

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »