Meski Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menganjurkan para pria untuk lebih mengutamakan perawan untuk dinikahi, bukan berarti beliau melarang seorang pria menikahi janda. Bukankah sebagian besar istri beliau juga janda?
Bagi seorang pria, menikahi janda juga bisa dijadikan pilihan. Apalagi jika ia berniat untuk menyantuni seorang wanita yang tidak lagi bersuami dan anak yatim yang kehilangan kasih sayang seorang ayah. Jika dilakukan dengan ikhlas, semua itu insyaallah akan membuahkan pahala yang besar.
Memang harus diakui, gadis perawan tentu memiliki banyak kelebihan dibandingkan seorang janda. Akan tetapi, janda pun punya satu kelebihan dari perawan, yaitu ia lebih berpengalaman ! Ya, karena ia sudah pernah berumah tangga. Dengan begitu, diharapkan dia bisa mengurus rumah tangganya dengan lebih baik.
Jika dulu ia pernah gagal membina keluarga bersama suami pertamanya, maka diharapkan ia bisa belajar dari pengalamannya itu untuk kemudian lebih introspeksi dan memperbaiki diri. Sehingga jika kemudian ia menikah lagi, ia akan berusaha menjaga keutuhan rumah tangganya, agar tidak karam sebagaimana yang pertama.
Pilih yang Shalihah
Jika ingin menikahi janda, seorang lelaki tetap harus memperhatikan rambu-rambu yang telah diberikan Rasululah shalallahu ‘alaihi wassalam untuk memilih calon istri.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعَةٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَلِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
, “Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah agamanya, (kalau tidak) engkau akan celaka.”
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dalam Syarah Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa barangsiapa yang memilih karena pertimbangan agama, maka akan mendapatkan kebaikan dan barakah serta terlindung dari berbagai mafsadat. Ini buah dari mulianya akhlak dan kebaikan wanita pilihannya.
Adapun mengenai gambaran akhlaq wanita shalihah, adalah yang selalu menyenangkan hati suaminya bila dipandang, selalu taat pada suaminya, tidak pernah melanggar perintahnya serta tidak berkhianat dalam mengelola harta suaminya. Wanita seperti inilah sebaik-baik perhiasan dunia, yang layak dimiliki oleh lelaki yang shalih.
Untuk Para Janda
Untuk para saudariku yang saat ini sudah menjanda, jangan biarkan hati kalian terus-menerus dalam kesedihan.
Sungguh, meski sudah tidak punya suami, tetapi kalian masih punya Allah l yang Maha Hidup. Tetaplah menjaga kecintaan dan ketaqwaan kepada Allah l,
karena Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka bersikap istiqamah, maka akan turun malaikat kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’”(Fushshilat:30)
Berusahalah untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, dan jagalah akhlak kalian baik di dalam maupun di luar rumah. Sebisa mungkin, kurangilah aktivitas di luar rumah.
Jika terpaksa harus keluar rumah, jangan lupa untuk senantiasa menutup tubuhmu dengan pakaian yang syar’i. Jika mungkin, mintalah salah seorang mahrammu untuk menemanimu.
Ingatlah bahwa keanggunan dan kesendirianmu bisa menjadi fitnah bagi lelaki. Karena itu, berhati-hatilah dan jangan lupa berdoa dalam memulai setiap langkahmu.
Jika kamu merindukan kasih sayang seorang suami sebagaimana dulu pernah engkau miliki, maka berdoalah kepada Allah agar memberikan yang terbaik untukmu. Sungguh Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya, akan tetapi engkau pun harus bersabar. Yang terpenting, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allahu ta’ala. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.
Tambahan faedah : ( tambahan faedah ini merupakan tulisan dari Ukht Ummu Rumaisha)
Janda adalah status semata yang sama halnya dengan “menikah”, “tidak menikah”, “duda”, “perjaka”, “perawan” dan kata sandang lainnya yang beredar di masyarakat.
Terkadang dalam hidup seseorang harus berhadapan dengan pilihan yang sulit bila masalah akhirnya menyebabkan pernikahannya kandas. Atau ketika kuasa Tuhan bicara lain dari rencana sepasang manusia, dan membuat yang ditinggalkan harus menjalani hidup sendiri.
Kalau dalam ajaran agama Islam posisi janda ini diletakkan sedemikian rupa yang harus kita hormati, rasanya tidak adil menempatkan mereka dalam kenegatifan. Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pun beristrikan para janda yang ditinggal suaminya meninggal di medan perang, karena beliau ingin menjaga kehormatan para wanita tersebut dan menjamin masa depan anak-anaknya. Sedangkan dalam mayarakat beberapa dari kita menempatkan seorang janda layaknya obyek tabloid gosip. Rasanya ganjil kalau kita timpang sebelah memberikan cap yang kurang baik pada seorang janda, sedangkan bagi seorang duda, sepertinya hal yang biasa saja.
Ketika kita memutuskan untuk memberikan cap tertentu pada sebuah status, tengoklah kembali siapa diri kita sebenarnya ini.
Kenapa kita tidak bisa melihat seseorang karena dia adalah pribadi yang menarik, welas-asih, baik hati atau periang?
Kenapa kita tidak bisa mengukur seseorang karena kepandaiannya memasak, merangkai bunga, ilmu dan agamanya?
Apa perlu kita mencampur adukkan status seseorang dengan kemampuannya dalam masyarakat dan memberikan nilai rendah hanya karena dia berbeda?
Status, apapun itu, apalagi seorang janda, mestinya membuat kita berpikir keras. Berpikir bagaimana si wanita itu menghidupi keluarganya, kalau dia memiliki anak . Berpikir bagaimana bisa berlaku profesional di kantor, bukannya menyulut gosip-gosip iseng tentang kawan kerja yang seorang janda. Semestinya kita terus belajar dengan berkaca pada orang lain, karena di beberapa hal bisa jadi kita ini lebih beruntung.
Terlepas dari semua itu, semua janda-muda harus memikul beban yang tidak mudah, apalagi bila mereka sudah dikaruniai keturunan. Selain harus menghidupi dirinya sendiri, sang janda muda juga harus bisa berdiri tegar untuk menghidupi anak-anaknya.
Sedangkan untuk urusan asmara, janda-muda suka dihadapkan oleh kendala penolakan dari keluarga laki-laki.
Saya sendiri suka menemukan kisah-kisah di mana para janda-muda harus rela patah hati karena keluarga pihak laki-laki menolak kehadiran mereka.
Dari berbagai alasan yang disampaikan, penolakan keluarga laki-laki atas kehadiran seorang janda-muda sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat melihat sosok janda-muda itu sendiri.
Sosok seorang janda muda mau tidak mau sering dikaitkan dengan persepsi “bekas” atau “second hand“. Akibatnya, janda-muda seperti mengalami penurunan kualitas sebagai calon pasangan hidup. Terlebih lagi bila jandanya disebabkan oleh perceraian.
Saya pribadi menolak pandangan seperti ini. Karena seorang janda muda hanyalah seseorang yang memang punya jalan hidup seperti itu, terlepas dari ditinggal mati ataupun karena bercerai.
Ketika seorang wanita muda menjanda, tidak serta merta dia jadi turun kualitasnya, dan bukan pula berarti dia jadi kurang cocok untuk jadi pasangan hidup dibanding dengan wanita-wanita yang masih lajang.
Memutuskan untuk meminang seorang janda muda memang punya kendalanya sendiri. Selain penolakan, kita juga harus mau berbesar hati menerima anak-anaknya, dan mungkin suatu saat harus berhadapan dengan mantan suami juga. Hal-hal seperti inilah yang mungkin dipandang sebagai excess baggage nya janda-muda.
Bagi seorang laki-laki, kondisi tersebut tentunya akan berdampak pada ketahanan psikologis, fisik dan ketahanan ekonominya.
Namun semua kembali pada pilihan.
Bila sang janda-muda memang bisa memberikan yang selama ini kita cari dan bisa memberikan kedamaian hati, sudah selayaknyalah kita memperjuangkan dirinya untuk dijadikan pasangan yang akan menemani kita sampai hari tua nanti.
bersabarlah dengan kesabaran yang tinggi……wahai ukhti Muslimah yang mengharapkan wajah NYA ta’ala
Ingatlah firman Allah ta’ala , berikut ini :
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
.” Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. “(QS.AZ ZUMAR :10)
bersabar dan bertaqwalah dengan sebenar benar taqwa, yakinlah Allahu ta’ala akan memberikan yang terbaik wahai ukhti muslimah
وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, (QS Ath Thuur : 48)
sumber materi : Sakinah.Vol 5,no.10 (Ummu Aslam), dengan tambahan Faedah dari Ummu Rumaisha
artikel ini diambil dari blog Ummu Rumaisha di
http://kotakarsip.blog.friendster.com/2009/04/menikahi-janda-mengapa-tidak/










Kalau buat saya, yg penting bukan perawan atau jandanya.
Yang penting cocok, seiman, dan bs merubah saya menjadi lebih baik, bs memperingatkan saya disaat saya salah.
assalamu’alaykum
subhanalllah, walhamdulillah akhy telah menurunkan arikel ini,
*** Ketika kita memutuskan untuk memberikan cap tertentu pada sebuah status, tengoklah kembali siapa diri kita sebenarnya ini. ******
subhanallah !!
sebuah kalimat yang dalam maknanya, mengingatkan ana pada suatu masa,
semoga Allohu ta’ala membalas kebaikan dan memberkahi akhi serta memberikan segala kebaikan kepada ummu yang menulis artikel ini
wassalam
wassalamua’laikum warohmatullahi…
syukron jazakillah khairon katsiero..
semoga Allah merahmati kita semua dengan taufiq dan hidayah_NYA untuk Ummu hanifah….
barokallahu fiki..
smoga “masa” itu telah berlalu menjadi lebih baik
janda…… memang sebuah predikat yg tidak “ramah”,
nanya :
gimana dengan anda maukah anda menikah dengan janda ?
yah… begitulah kalo khilafah tidak tegak berdiri, janda pun harus bekerja keras, coba kalau khilafah berdiri tentu tidak demikian
Tulisan menarik dan mencerahkan. Semoga bermanfaat untuk semuanya.
Alhamdulillah Meskipun berubah nama status insyaAllooh dengan kesabaran akan tetap berbuah manis baik di surga atau di dunia.
hm…
kalo janda masih dibolehkan nikah lagi, jangan lupa kalau target nikahnya juga boleh pria dewasa yang …
- perjaka
- pria beristri kurang dari 4
- pria yang ditinggal istri baik pisah atau meninggal
he he
tapi jaman sekarang poligami di sorot santer, kayaknya para pejuang kesetaraan gender lebih senang melihat kaumnya yg lemah harus berjuang keras untuk menapkahi diri dan anaknya, bahkan maaf hampir 85 % lebih psk dan sejenisnya berstatus janda, cuma sayangnya juga banyak lelaki yg iseng pada status janda, cuma di permainkan untuk kenikmatan sesaat oleh karenanya problematika in yang perlu di benarkan cara memandangnya, mereka adalah kaum wanita lemah yang perlu diayomi dan dilindungi bukan di exploitasi
ya, begitulah pejuang keseteraan gender ‘ala barat adalah orang yang jahil terhadap ad dien, dimana Islam telah mendudukan kaum wanita pada tempat yang mulia, tidak seperti yang selama ini diperjuangkan oleh pejuang feminisme yang dapat kita saksikan sendiri bagaimana kerusakan yang diakibatkannya, …..
janda? hmm..
pilih yang masih gadis aja dulu deh..
Menikah dengan duda, mengapa tidak? :)
Subhanallah…
Jika saat ini (di jaman ini) masih terdapat pemuda sholeh (bujang) yang bersedia menikahi seorang janda…
Menurut ana itu adalah hal yang sangat langka terjadi. Bahkan yang ana tahu sekarang ini banyak Pemuda (ikhwan single) yang mencari akhwat dengan kriteria umur sekian…tidak boleh lebih dari umur sekian…
Padahal di Jaman ini telah nampak sudah tanda-tanda kiamat yaitu semakin banyaknya jumlah wanita dibanding laki-laki.
Para akhwat butuh ikhwan-ikhwan seperti ini…!!!
adakah janda yg lancar membaca al-qur’an & fasih berbahasa arab?
ana seorang penuntut ilmu dan menginginkan pendamping yg bisa mengasah ilmu, hatta itu seorang janda. Lillah, Billah, Fillah
Bismillahirrahmanirrahiem….untuk ummu Sa’id..
akan selalu ada ikhwan-ikhwan (single) yang mau menerima status janda …seperti halnya sahabat abu Talhah terhadap Ummu Sulaim yang beliau berstatus janda anak satu (anas radhiallahu ‘anhu)
akan selalu ada ikhwan-ikhwan..(single)..yang mau mengemban amanah dan bertanggung jawab atas apa dan bagaimanapun si Janda tersebut…
sebab ’status’ hanyalah peran..di dunia yg fana…
sebab ‘ label’ sekedar stempel…yang sesaat di jalani…
Dan Allah yang Maha Mulia dan bertanggung jawab terhadap takdir-NYA…
DIA memiliki Hikmah yg dalam atas semua peristiwa yang telah digariskan-NYA…
karena DIA-lah yg Maha Dermawan dan Maha penyayang kepada Hamba-hamba_NYA yang beriman dan bertaqwa…
dalam sebuah hadits dari Thalhah bin Ubaidillah radhiallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallahu a’laihi wa sallam, bersabda :
“ Sesungguhnya Allah itu Jawwad (Maha Dermawan) mencintai kedermawanan dan mencintai akhlak yang luhur , serta membenci akhlak yang rendah.” ( Shahih, HR. Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dan Asy-Syayi dalam musnad-nya, 1/80, Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu dalam Hilyatul auliya. Asy-Asyaikh Al-Albani rakhimallahu menshahihkannya dalam Shahihul Jami’ Ash-Shaghir no.1744)
Dalam hadits yang lain, hadits qudsi :
“ Dan seandainya yang pertama di antara kalian (hamba-hamba-KU) hingga yang akhir di antara kalian yang hidup dan yang mati di antara kalian, yang basah maupun yang kering di antara kalian, berkumpul dalam satu hamparan. Lantas setiap orang di antara kalian meminta sesuatu hingga akhir yang dia angan-angankan, lalu AKU beri semuanya apa yang dia minta, maka itu tidak akan mengurangi sebagianpun dari kerajaan-KU kecuali seperti jika seseorang di antara kalian melewati sebuah lautan lalu mencelupkan jarumnya ke dalamnya lalu mengangkatnya lagi. Hal itu karena AKU adalah JAWWAD ( Maha Dermawan) Maha Mulia. AKU berbuat semauku, pemberian-KU adalah ucapan dan azab-KU adalah ucapan . Sesungguhnya perintah-KU terhadap sesuatu adalah bila AKU mnghendaki tinggal mengatakan kepadanya : “ JADILAH” , maka akan terjadi.” ( Shahih,HR.At-Tirmidzi dari Abu DZar radhiallahu anhu, Kitab Shifatul Qiyamah bab 48 ,no. 2495)
Ibnul Qoyyim rahimallahu , mengatakan :
DIAlah Yang Maha Dermawan,
Meliputi seluruh alam dengan keutamaan dan kebaikan-NYA
DIAlah Yang Maha Dermawan,
Tidak menelantarkan siap yang memohon kepada-NYA,
sekalipun dari umat yang kafir
AL FAQIR ILLA MAGHFIRATI RABBIHI….
waduh… beginilah jama’ah salafy .. sok tau… kujelasin… khilafah merupakan wasilah untuk kebangkitan dan kejayaan kaum muslimin, dan seperti yang anda lihat tidak hanya masalah janda, masalah dunia islampun seperti krisis gaza dsb, kaum muslimin seperti bola yg ditendang kesana kemari, karena apa ? karena tdk adanya khilafah dimuka bumi !! jadi… khilafah adalah wajib…!
alhamdulillah ada yang mendukung “niat saya”
Nyunah itu mudah, kok mau dipersusah?
barangsiapa menyelesihi sunnah dia akan binasa
belajarlah dari sebaik-baik manusia, Muhammad SAW
termasuk dalam berumah tangga.
Menikah jika tdk dilandasi dng Lillah, Billah & Fillah niscaya tidak akan Berkah
tidak akan ada ma waddah, wa rachmah, wa sakinah !
Nasihat buat ikhwan yg menjadikan tolak ukur usia dan status sebagai pertimbangan menikah : ” Carilah yg agamanya baik, karena dia bakal mendidik anak2mu ! , dan itu bisa saja didapatkan dari seorang janda” , bukankah seorang janda yg memberikan keturunan pada diri Muhammad SAW ?
Intinya, NyunnaH itu mudah ya akhi, jangan banyak bertingkaH, nanti susaH !
Menikah dengan janda……jelas sangat no problem, apalagi janda karena suami meninggal. tapi kalo janda karena cerai dengan alasan….suami penghasilannya dianggap tidak mencukupi atau karena penghasilan suami lebih kecil..cil..timbang istrinya…………..wah..perlu…hati-hati……dan pikir 100 kali….
Siap lillahi ta’ala, karna Allah semata
biasa azaaa….
bikin karya yang bagus lagi yah
subhanallah…
bagus banget…. tapi ane masih mikir2 dulu klo harus nikah ama janda. afwan bwt yg kurang setuju…
Janda/duda bukan jadi masalah semua tergantung niat karena ALLAH SWT karena menikah adalah menyempurnakan iman….
Jadi perawan tua salah, jadi janda pun salah. Terkadang yang tidak bisa menghagai seorang janda itu adalah kaum perempuan sendiri. Kenapa saya bisa berkata seperti itu? itu dari pengalaman yang saya sendiri.
Salah satu teman ibu saya, mengadu dan meminta dicarikan dukun yang bisa memisahkan sang anak yang notabene masih muda dan perjaka dari cinta sang janda beranak dua. Dari dapur saya nguping setelah sang ibu itu pulang, saya langsung bombardir ibu saya dengan tanggapan hasil nguping saya, yaitu ” Mama, gak boleh dukung dia, apa mama juga mau klo suatu saat misalkan salah satu anak mama jadi janda dan dibegitukan tuh sama camer?”. Anak cowo itu lebih bisa menghargai seorang perempuan dengan status yang tidak satupun menginginkannya, kenapa mamanya yang juga seorang perempuan tidak bisa menghargai seorang perempuan?.”
Wah klo bicara masalah status perempuan…siih gue kenceng banget…akhirnya…atas kehendak Allah, aku pun diberi status janda 2 anak.
bapak ustad dan kawan netterku, alkisah temanku seorang mengaku menjadi janda, padahal dia punya suami yang syah (punya surat nikah resmi) dan belum bercerai tetapi sudah pisah ranjang tidak serumah lagi. Anak2 dan suaminya masih sering ketemu, tetapi si istri menikah lagi dengan lelaki lain secara siri (secara agama). dalam pernikahannya tdkada wali syah dari mempelai wanita (dari keluarga wanita) yang menyerahkan ke penghulu, jadi wali pernikahan sirinya tidak ada yang mewakili (menggunakan wali hakim), penghulunya apa sdh memenuhi hukum islam (syareat islam) dalam menikahkan wanita tersebut ( Apa penghulu jadi2an) dan para saksi yang mensyahkan apa cukup soheh dan bisa di terima secara syareat agama. Pertanyaannya apakah hukum tersebut syah secara agama syareat islam (yang katanya untuk menhindari Zina).juga di ragukan.
Begitulah kira2 cara para janda menghalalkan segala cara untuk memenuhi syahwatnya, atau dia jadi korban lelaki musang berjanggut yang berbulu domba. memperdaya janda (wanita) tidak berdaya untuk melampiaskan nafsunya. Gimana nih pak ustad.
Berilah pencerahan supaya semua paham, demi menambah pengetahuan kaum kita sendiri, sehingga tidak lagi menggunakan dalil2 agama untuk menghalalkan nafsu birahinya.
kerena saya benci pada sekaum yang haram di dalilkan dengan halal….
Subhanalloh !
Semoga Alloh membalas kebaikan yang berlipat ganda pada penulis artikel dan pemilik situs ini.
Tidak semua janda itu “gatal” or “negative” tapi dengan predikat itu kemana pun dia melangkah selalu harus extra hati-hati, meskipun dikalangan orang2 yang sudah menisbatkan diri mereka pada manhaj salaf.
Ana cuma bisa menitipkan pesan terutama kepada ikhwan2 dan dai2 bahkan ustad2 salaf. Ilmu selalu menuntut amal, jangan pernah mempermainkan hati / mendekati seorang akhwat dengan status seperti ini hanya karena dia tergolong “cukup” dengan alasan untuk mengajarinya manhaj yang haq. Sebelum antum bertingkah berpikirlah lebih matang. Malu lah pada Alloh, dengan sebab manhaj antum.
Once again, Syukron atas artikel ini, ana membacanya sampai berlinang airmata. Dan kepada akhwat2 senasib ; jangan pernah menyerah untuk selalu menimba ilmu, berdoa dan pasrahkan segala ujian yang menerjang.
Apalagi bila anti memiliki wajah yang tergolong cantik dan manis, berhati-hatilah. Karena Fitnah tidak hanya datang dari kaum adam, dari kaum hawa pun bisa banyak yang salah tafsir.
Insya Alloh, jika kita lebih mencintai Alloh & RasulNya, menimba ilmu karena Alloh, menjaga diri dengan baik, pertolongan Alloh akan selalu ada. Di antara banyaknya kesulitan terdapat pintu2 kemudahan….
Dan fitnah itu akan menyingkir dengan sendirinya….
Di – Cimanggis
akhirnya…terjawab juga seruan “mengapa tidaknya”
ya akhi… barokallahu lak wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khoirin
^_^
HADIRILAH….
KAJIAN ISLAM INTENSIF UNTUK UMUM
Bersama :
Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
Waktu:
Jum’at – Ahad, 23- 25 Oktober 2009
Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai
Termpat :
Masjid Jajar, Surakarta
Materi/Kitab :
1. Haji Bersama Rasulullah
(Kitabul Hajj, dari Bulughul Maram)
2. Identifikasi Total terhadap Pemahaman Firqoh Khawarij
Insya Allah Kajian bisa diikuti secara online/live via :
1. Paltalk : room Salafiyin
2. YM : mahad_ilmi
3. Web : http//jajar.890m.com
4. Radio Al Madinah 101.9 FM (Khusus Surakarta dan sekitarnya)
Kontak Panitia :
Arif Hidayat : 081 2153 8967,
Yasir : 0271-8096065,
Abu ‘Athif : 0271-7576679
http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/10/14/dauroh-3-hari-bersama-al-ustadz-al-fadhil-dzulqornain-solo23-25-oktober-2009/
Alhamdulillah, akhy artikel ini sungguh membantu saya semoga akhy senantiasa diridhoi oleh Allah SWT.
saat ini saya pria yg belum menikah sedang mencari jawaban yang islami dari permasalahan saya. calon istri saya adalah wanita solehah yang dicerai oleh suaminya dia memliki satu org putra yang soleh.
adalah niatan saya untuk menafkahi keduanya tanpa menimbulkan fitnah. tiada keraguan dalam diri saya hanya saja saya mencari penjelasan secara islam atas permasalahan yang saya alami.
Subhanallah.
alhamdulillah, artikel yang berguna sekali….
Saya, pemuda 24 th, insyaAllah tahun depan saya berniat menikahi janda dengan 1 anak yang berumur 3 th. Pertama keluarga saya tidak mendukung, mungkin karena statusnya yang kurang enak didengar, tetapi setelah dengan sabar saya memberikan pemahaman dengan baik, akhirnya semua keluarga saya bisa menerima calon istri saya, bahkan mereka sudah tidak sabar menunggu saya menikah. Sungguh besar peranan Allah dalam membolak-balikkan hati manusia, Subhanallah!.
Sekarang kami tidak pernah bertemu, karena saya sedang menyiapkan maisyah saya, sya sedang merintis usaha saya, karena saya tahu, saya harus menafkahi calon istri saya nanti, anaknya dan juga keluarga calon istri saya (kebetulan Allah menguji keluarga calon istri saya dengan ujian miskin).
Semoga Allah meluaskan rezeki saya, sehingga saya bisa menafkahi mereka ,Amin.
Buat para ikhwan yang hendak menikahi janda dengan 1 atau 2 anak,
janganlah kalian takut ,
takutlah cuma karena Allah, takut dengan adzabNya yang dasyat…
jangan takut kepada anggapan dan persepsi masyarakat
janganlah kalian malu,
malulah cuma karena Allah, malu karena dosa-dosa kita yang demikian banyak….
jangan malu dengan status janda calon istri kita…….
Allah pasti akan mencukupkan rezeki bagi hamba-hambaNya yang senantiasa tawakkal kepadaNya…….
Subhanallah…
asslkm, janda hny status tak ad beda dg gadis…krn nyatanya kualitas seseorg bkn diliat dr statusny…yakinlah,seorg istri yg terpaksa hrs menyandang predikat janda krn sikap dzalim sang suami tak bs dianggap rendah…hidup adl pilihan,….tak selamanya janda dianggap hina,perlindungan dn penghormatan dr ikhwan jd bukti bhw pandangan negatif hny utk segelintir org sj……6bln kusandang “predikat” itu wlo tnyt takdir Allah berkata lain,kami kembali krn rasa sayangku pd anak2..meleburkan segala rasa sakit hati
mengapa di saat aku menyintai dan menyayangi seorang janda muda yg usianya terpaut jauh dari usiaku,justru tidak di restui sama orang tua ku….
aku benar benar mencintai dan menyayangi nya karna Allah dan ibadahku……….
apa aku harus menikahinya tanpa restu dari orang tua ku atau aku harus patuh kepada orang tua ku……..
saudaraku tolong bantu aku dan beri aku masukan apa yagng harus aku lakukan………
Tulisan yang bagus…..excellent! menguatkan apa yang sudah saya niatkan dan jalankan. Menikahi janda bukanlah hal yang salah, menikahi janda juga adalah ibadah. saya semakin yakin bahwa saya tidak salah mengambil langkah (saya sudah menikah denganseorang janda beranak 2). Saya menikahinya karna cinta, karna Allah (takut akan dosa), karna ingin melindunginya….walau tidak mudah melaluinya, tapi insya Allah saya bisa melewatinya sampai akhir hayat kami berdua….tulisan yang inspiratif dan banyak memberi motivasi. terimakasih