Seringkali dalam perdebatan muncul syubhat tentang Al Quran, kenapa kadang kadang memakai kata Aku (tunggal) dan kadang kadang memakai kata Kami (jamak), hal ini selalu digunakan oleh kaum nashrani dan kaum kufar lainnya untuk menyerang dan menyebarkan syubhat (kerancuan), serta keraguan atas kebenaran Kitabullah pada kaum muslimin, lalu….sebenarnya bagaimanakah jawaban atas syubhat tersebut ?? berikut adalah jawaban dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullahu ta’ala- :
……………….. salah satu sebab turunnya ayat tersebut adalah perdebatan orang-orang nashrani
mengenai yang kabur bagi mereka. Seperti FirmanNya أنا (Ana = Aku) dan نحن (Nahnu = Kami).
Para Ulama mengetahui bahwa makna نحن (Nahnu = Kami) disini adalah salah satu yang diagungkan dan memiliki pembantu-pembantu. Dia tidak memaksudkannya dengan makna tiga illah. Takwil kata ini yang merupakan penafsiran yang sebenarnya, hanya diketahui oleh orang-orang yang mantap keilmuannya, yang bisa membedakan antara siapa yang dimaksud dalam kata
إِيَّا (iyya = hanya kepada) dan siapa yang dimaksud dengan kata إِنَّ (inna = sesungguhnya kami ), karena ikut sertanya para malaikat dalam tugas yang mereka diutus untuk menyampaikannya, sebab mereka adalah para utusanNya.
Adapun berkenaan dengan satu-satunya illah yang berhak di ibadahi, maka berlaku bagi-Nya saja.
Karena itu Allahu ta’ala tidak pernah berfirman فإىّن فعبد ( faiyyana fa’budu = hanya kepada kami, maka beribadahlah).
Setiap kali memerintahkan ibadah, takwa, takut dan tawakal, Dia menyebut diri Nya sendiri dengan nama khususNya. Adapun bila menyebut perbuatan perbuatan yang dia mengutus para malaikat untuk melakukannya maka Dia berfirman :
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata (Al Fath : 1)
dan…
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaanya itu (Al Qiyamah : 18)
dan ayat ayat semisalnya
Ini, meskipun hakekat makna yang dikandungnya yaitu para malaikat, sifat-sifat mereka dan cara cara Rabb mengutus mereka tidak diketahui kecuali oleh Allah ta’ala sebagaimana telah dijelaskan ditempat lain………….
Wallahu ‘alam
Bahan bacaan :
Al Furqon Baina ‘l Haq wa ‘l Bathil, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah , penerbit Dar Ihyai’t Turotsi ‘l Arabi









Jadi kalo Allah menciptkan manusia, kata Kami menunjuk Allah beserta siapa? kalo malaikat tentu hal itu salah, karna malaikat tidak bisa menciptakan
kalau Allah SWT menciptakan manusia dan menggunakan kata “kami” ialah tidak hanya Allah yang ikut serta menciptakan manusia. Yakni Ayah dan Ibu kita yang melakukannya, jadi ikut peran serta Ayah & Ibu (OrangTua) kita, sehingga terciptanya kita..
Wallahualam. :)
yang dimaksudkan penciptaan tu ADAM kan?? emang ada orang tuanya??
assalamualaikum wr wb
jazakumullah khairan katsiran
jadi merefresh materi yg pernah disampaikan seorang ustadz…
[...] dikutip dari sini [...]
asswrwb..
iya, jazakallah…
dulu waktu an masih kecil, pernah dengar juga waktu nonton ceramah agama di TV.
syukran sudah menuliskannya…
jadi bisa an copy n sebar ke kawan-kawan yang lain, atau di tempel di mading mushala? hmmm… bulih jua tuh!
makasih infonya, karena saya lagi mencari perbedaan kata kami dan aku….karena terkadang kata kata ini dijadikan senjata oleh kaum yang mencoba obok-obok agama kita…semoga Allah senantiasa memberikan Rahmat bagi kita dan seluruh Umat Muslim yang menjaga kesucian Agama Islam…
salam hangat selalu mas
Assalamu’alaikum, mas adi, zaki nih mas..! Hbs baca artikel ni jadi inget masa lalu ana ,..Hehe ! Dulu ana jg sering pakai snjata ni tuk nyerang muslim.., tp ya ntu kalah mulu… Wong yg diserang ikhwan salafiyin,. Yg ga mempan ya…! Islam is the truth,.The way of light..! The way to worship Alloh almighty,..! Peace be upon “islam”…! Mas…Ana uhibbuka fillah..,
ini ana dah baca ternyata tp lom ninggalin jejak
Jazakallah Khoir atas pengingatannya di tulisan ana. Mohon koreksi lagi jk mendatang ada yg perlu diperbaiki. Maklum masih belajar….
Wah… thanks dengan penjelasanya. Sangat membantu saya, karena baru2 ini ada missionary yang ngajakin berdebat.
Bolehkan saya menghubungi anda kalau ada sesuatu yang saya belum pahami.
Terima Kasih
mang bnr kami tu antara allah dan malaikat.
tu anda tau malaikat tidak bisa menciptakan.
tp malaikat membantu proses peniupan roh kdalam raga.
oleh krna itulah d pakai kami.
“”"”"dan anda berkata lagi knp g tuhan langsung yg meniupkan roh tu?
itulah kekuasan allah.dia ingin memeperlihatkan kekuasaan nya.tanpa anda,saya nabi2 dan para malaikatpun.allah bisa mengurus smuanya sendiri.karna dialah yg maha sgla galanya.
nb.yang w kasih tanda “”"”" itu biasa prtanyaan brikutnya yg akan kluar.
Terima kasih banyak. Semoga Allah meninggikan derajat anda sebagaimana Allah meninggikan derajat orang yang berilmu (lalu mengajarkan ilmunya) beberapa derajat.
jazakumullah khairan katsiran
alhamdulillah sudah terjawabkan jawaban yg saya cari2 slama ini:)
Al-Qur’an menggunakan perkataan ‘Kami’ untuk Allah.
Soalan
Mengapakah Al-Quran menggunakan perkataan ‘Kami’ untuk Allah?
Jawapan
Islam adalah satu agama yang tegas menyatakan tentang monoteistik- iaitu Ketauhidan (Tuhan Yang Maha Esa). Ia benar-benar patuh kepada monoteisme. Ia percaya bahawa Tuhan itu adalah satu, dan unik dalam sifatNya. Dalam Al-Qur’an, Tuhan sering merujuk kepada diriNya menggunakan perkataan ‘Kami’. Tetapi ini tidak bermakna Islam meyakini kewujudan itu lebih daripada ketauhidan.
Dua Jenis Majmuk
Dalam beberapa bahasa, terdapat dua jenis majmuk (plurals), pertama adalah Kemajmukan Nombor (plural of quantity)-iaitu kemajmukan yang merujuk kepada sesuatu yang berlaku melebihi satu kuantiti. Manakala, kedua adalah Kemajmukan Diraja (plural of royalty).
a. Dalam Bahasa Inggeris, Ratu England merujuk kepada dirinya sebagai ‘Kami’ daripada ‘Saya’. Ini adalah diketahui sebagai ‘Kemajmukan Diraja’ (plural of royalty).
b. Rajiv Gandhi, bekas Perdana Menteri India biasanya menggunakan kata dalam Bahasa Hindi “Dengungan dekhna chahte hain”. “Kami ingin berjumpa.” ‘Hum’ bermaksud ‘Kami’ yang sekali lagi ialah satu kemajmukan diraja dalam Bahasa Hindi.
c. Begitu juga dalam Bahasa Arab, apabila Allah (swt) merujuk kepada diriNya di dalam Al-Qur’an, Dia sering menggunakan perkataan Arab ‘Nahnu’ bermakna ‘Kami’. Ia tidak menunjukkan kemajmukan jumlah tetapi Kemajmukan Diraja (plural of royalty).
Tauhid atau monoteisme adalah satu daripada tiang-tiang bagi agama Islam. Kewujudan dan keunikan satu-satunya ketauhidan disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an. Misalnya di dalam Surah Ikhlas, Allah s.w.t berfirman:
“Katakan lah Dia Allah adalah satu (Maha Esa)”
[Al-Qur'an 112:1]
Kalau masih nabi atau manusia kata kami masih bisa bermakna jamak ,karena kalau kena masalah misal :menyinggung umat lain dengan kata kami kemudian umat lain gak terima terus di serang . pasti walau ratu inggris atau mahatma gandi mengatas namakan sendiri pasti pengikut nya membelanya .ya kan ? ini artinya pengikut nya merasa bahwa kami yang di pakai atas nama sendiri ,tapi kenapa pengikutnya merasa menjadi bagian dari kami yang satu itu.Jadi kata kami itu pasti masih ada makna yang lain nya yang harus kita cermati ‘ sekarang coba renungkan kalau Allah aja karena melibat kan malaikat dan melibatkan manusia dalam penciptaan berikutnya , andaikata Allah pakai aku pastilah gak ada masalah karena Dia adalah sang pencipta,tapi kenyataanya pakai kami, ini artinya Allah menginginkan kita untuk menafsir yang lebih dalam lagi. seperti yang anda jelaskan bahwa makna kami yang di pakai adalah kemajemukan deraja’ . saya gak tau pasti apa yang dimaksud deraja di sini derajat (tingkat kesetaraan ) andai kata demikian ini akan lebih meyakinkan saya bahwa ada makna atau maksud yang lebih yang harus kita tafsirkan kata kami tersebut. misal kalau saya berkunjung ke rumah pak Rw membawa kucing kesayanganku ,sampai di rumah Pak RW di tanya : sama siapa kamu kesini ? jawab saya : Kami berdua pak . tentu saja pak Rw kaget karena tidak melihat orang lain selain kucing di sampingku , kucing itu yang selalu membantu ku dalam rangka pengobatan karena ramuan obat saya akan manjur setelah di cium kucing.setelah mendengar penjelasanku Pak RW membatalkan untuk berobat kepadaku karena di kira aku setres ,masa .. saya dan kucing bisa jadi kami berdua, Padahal pak RW sudah saya jelaskan kucing juga makluk Allah ,tetapi tetap aja manusia dan kucing tidak sederajad karena itu pak Rw menganggap aku setress. Cerita di atas adalah analog yang artinya bahwa manusia dan kucing itu tidak sederajad walaupun kucing juga bukan ciptaan manusia. sedang saya menganggap karena bantuan kucing itu saya dapat mengobati orang, dan saya dan kucinga hanyalah sama sama makluk Allah.kemudian yang menjadi pertanyaan adalah : Kenapa para pemikir pemikir agama islam tidak mau menafsir yang lebih dalam lagi tentang kata kami tsb ,karena jelas jelas malaikat dan manusia itu ciptaan ALLah,TETAPI ALLAH SENDIRI BERKENAN MENGGUNAKAN KATA KAMI . Jelas kan Allah tidak sederajad dengan apa yang di ciptakan ? tetapi mengapa kita semua yakin kalau kata kami adalah karena keterlibatan malaikat dan manusia ,padahal kalau di lihat derajadnya manusia gak ada apa apanya denanNYA sedangkan kita sendiri tidak mau di dekat kan dengan hewan kemudian di katakan kami ,karena kita merasa derajadnya lebih tinggi. Jadi kesimpulannya Alquran tidak salah .1000% benar tapi menafsirkannya kurang dalam. ada hal lain lagi : Anda pasti setuju kalau ada pernyataan ULAMA bahwa siapapun yang menyerupakan sifat tuhan (ALLAH) DENGAN MAKLUKNYA sama saja sudah melecehkan tuhan. saya juga setuju karena itu pernyataan ulama . tapi bila ada manusia bi sa menciptakan pesawat terbang dan itu juga karena karunia dari tuhan di beri kejeniussan,Jadi manusia itu juga berilmu ,hidup ,berbicara ,mendengar ,melihat , pengasih ,penyayang ,. Nah kalau kita mau berpikir lebih dalam kan sebenarnya manusia itu mempunyai sifat yang serupa dengan tuhan . hanya saja yang membedakan adalah sifat tuhan itu adalah YANG MAHA. sedangkan manusia sifat sifatnya sangat terbatas dan tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan sifat tuhan. Jadi kadang kadang penyataan apapun yang sudah kita anggab benar harus kita pahami lagi agar tidak ada keraguan lagi terhadab ke esaan tuhan.Jadi sifat sifat manusia yang di berikan oleh tuhan sehingga serupa tapi tidak sama itu tadi bisa untuk menjawab kebuntuan kebuntuan termasuk kata KAMI dalam Alquran.sehingga tidak ada lagi misionaris yang memojokkan dengan kata kami dan aku tsb dan justru mengakuinya .namun karena waktu saya terbatas lain kali akan saya lanjutkan.
Al-Quran sebagai Mu’jizat.
1. I’jazul Quran
Arti i`jaz ialah perlemahan. Yaitu lemah orang buat meniru atau menyamai Al-Quran, apatah lagi menandingi dan melebihinya. Sebab itu ulama-ulama ahli bahasa dan sastera sam-sama berpendapat, bahawasanya Al-Quran ini adalah Mu’jizat bagi Nabi Muhammad (saw). Sebagaimana bagi Nabi Musa (as) ada mu’jizat membelah laut dengan tongkat, bagi Nabi Isa (as) ada mu’jizat menyembuhkan orang sakit lepra hanya semata-mata dengan menjamah.
2. Mengapa Al-Quran sebagai mu’jizat?
Maka timbullah pertanyaan orang, mengapa mu’jizat Nabi Muhammad (saw) hanya Al-Quran yang dibaca, atau satu kitab yang dipelajari, bukan sebagai mu’jizat yang mengagumkan akal? Mengapa tidak tongkat sebagai yang ada pada Nabi Musa (as)? Mengapa tidak api yang menghangusi sebagai mu’jizat Nabi Ibrahim (as)? Atau sebagaimana Nabi Isa (as) menyembuhkan orang buta dan orang sakit lepra itu?
Di zaman kita inipun masih ada orang yang bertanya-tanya demikian, dan orang-orang musyirikin di Makkah dahulupun pernah meminta supaya Nabi Muhammad (saw) menunjukkan suatu mu’jizat, misalnya Bukit Shafa menjadi emas, atau beliau sendiri mempunyai sebuah rumah dari emas, dan beberapa permintaan yang lain, sebagaimana tersebut di dalam Surah Al-Isra’ (surah ke-17), ayat 93 dan beberapa ayat pada surah lain. Tetapi permintaan mereka itu tidak dikabulkan Allah atau tidak memandang itu lebih penting daripada mu’jizat Al-Quran.
Beberapa Hadis yang sahih telah diriwayatkan (direkodkan) oleh sahabat-sahabat beliau, bahawa beliaupun pernah mempertunjukkan mu’jizat yang aneh-aneh, misalnya keluar air yang diminum oleh 1,200 orang dari dalam timba beliau yang kecil di Hudaibiyah, atau hujan lebat di sekitar khemah tentera sahaja dan tidak turun di tempat lain sehingga dapat semuanya menampung air, yang banyaknya 30,000 orang dalam perjalanan ke peperangan Tabuk dan beberapa mu’jizat yang lain. Tetapi mu’jizat-mu’jizat yang demikian tidaklah beliau jadikan tentangan kepada kaum musyirikin. Beliau menentang lawan hanyalah dengan mu’jizat Al-Quran. Dengan Al-Quran beliau mengokohkan risalahnya dan dengan Al-quran beliau menambah iman pengikut-pengikut beliau, kaum yang beriman, sampai hari kiamat.
3. Mu’jizat disesuaikan dengan zaman hidup Rasul
Mu’jizat seorang Rasul ataupun seorang Nabi selalu di sesuaikan Tuhan dengan zaman hidup Rasul atau Nabi itu sendiri, dan harus sesuai pula dengan bermacam-ragam risalah yang dibawanya. Apabila risalahnya itu adalah merata untuk seluruh manusia, yang kekal dan tidak akan berubah lagi sampai selama-lamanya, hendaklah mu’jizatnya itu yang kekal dan merata pula, yang kian mendalam orang berfikir, kian mengaku akan mu’jizat itu. Mu’jizat itu sekali-kali tidak akan kekal, kalau dia hanya merupakan suatu kejadian yang dapat dilihat mata disuatu masa. Sebab apabila Rasul yang membawa mu’jizat itu telah pulang ke Rahmatullah (meninggal/wafat), mu’jizat itu tidak akan bertemu lagi.
Dan ada pula suatu kejadian yang dipandang mu’jizat di zaman hidup nabi yang bersangkutan, namun setelah beberapa abad kehadapan, keangkeran (keistimewaan) mu’jizat itu tidak ada lagi kerana kemajuan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, orang Yogi yang kuat mengadakan pertapaan sudah boleh berjalan di atas api yang tengah menyala, sehingga mu’jizat Nabi Ibrahim sudah hampir disamai. Kemajuan ilmu kedoktoran di zaman kita ini telah memungkinkan sembuhnya penyakit-penyakit kronik sebagai yang telah disembuhkan oleh jamahan tangan Nabi Isa. Selain itu kemajuan teknologi dalam bidang kejuruteraan juga telah membolehkan kita menyeberangi lautan yang dalam dan luas melalui pembinaan jambatan sebagaimana mu’jizat Nabi Musa membelah laut untuk menyeberanginya
4. Al-Quran merupakan mu’jizat yang sesuai pada seluruh masa dan bangsa
Lantaran itu dapatlah kita berkata bahawasanya mu’jizat segala Nabi dan Rasul, dan mu’jizat Nabi Muhammad (saw) yang selain daripada Al-Quran, adalah hal kenyataan yang dapat dilihat dengan mata, yang habis dengan sendirinya setelah lewat zamannya. Tetapi mu’jizat Nabi Muhammad (saw) yang bernama Al-Quran ini adalah mu’jizat yang sesuai untuk seluruh masa dan bangsa, yang datang setelah akal dan kecerdasan manusia sudah lebih tinggi dari zaman purbakala.
5. Pengakuan al-Walid bin al-Mughirah terhadap Al-Quran.
Seorang ahli bahasa yang besar, sasterawan terkemuka di zaman Nabi, yaitu al-Walid bin al-Mughirah seketika diminta oleh Abu Jahal, bagaimana kesannya tentang susun kata Al-Quran telah meyatakan: “Demi Allah! Tidak ada di kalangan kita yang sepintar saya menilai syair-syair, yang mengenal Rajaznya dan Khadhidnya. Demi Allah! Apa yang diucapkan oleh Muhammad itu tidak dapat diserupakan dengan sebarang syairpun. Demi Allah! Kata-katanya ini manis didengar, indah diucapkan, puncaknya menimbulkan buah, dasarnya memancarkan kesuburan. Perkataan ini selalu di atas dan tidak dapat di atasi, dan yang di bawahnya mesti hancur dibuatnya.”
Al-walid tidak masuk Islam, dia tetap dalam kufur. Tetapi inti kebenaran dalam keistimewaan Al-Quran tidak dapat dibantahnya. Dia tidak dapat memutar belit kenyataan. Sebab itu Al-Quran juga mempengaruhi orang yang memusuhinya sebagaimana mempengaruhi orang yang beriman kepadanya.
6. Al-Quran bukan syair
Susunan Al-Quran bukan susunan syair dengan susun rangkaikata menurut suku-kata bilangan tertentu, dan bukan dia puisi dan bukan dia prosa dan bukan dia sajak, tetapi dia berdiri sendiri melebihi syair, nashar dan nazham, yang belum pernah sebelumnya turun serta orang Arab belum pernah mengenal kata seperti itu. Demikianlah terpesona orang-orang Arab itu, lebih terpesona pemuka-pemuka mereka sendiri seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, al-Walid bin al-Mughirah dan lain-lain.
Tidak ada kata lain yang mereka pilih untuk menilainya, sehingga mereka katakan saja bahawa Al-Quran itu adalah sihir. Seorang pendusunan dari Bani Ghifar, bernama Anis, yaitu saudara dari Abu Zar al-Ghafiri berkata kepada Abu Zar “Saya bertemu di Makkah seorang laki-laki memeluk agamamu ini, dia mengatakan bahawa dia utusan Tuhan Allah.” Lalu Abu Zar berkata: “Apa kata orang tentang dirinya?”
Anis menjawab: “Ada orang yang mengatakan bahawa dia itu seorang ahli syair, kata orang yang lain dia itu kahin (tukang tenun) dan kata yang lain lagi dia itu ahli sihir.” Lalu Abu Zar bertanya kepada Anis, kerana dia (Anis) seorang penyair. “Engkau sendiri bagaimana pendapatmu tentang dia?” Anis menjawab: “Aku telah pernah mendengar perkataan kahin, namun ini bukan kata-kata ahli kahin. Aku sudah perbandingkan kata-katanya ini dengan syair-syair ahli syair, maka tidak ada samasekali persamaan kata-katanya ini dengar syair. Pendeknya, demi Allah, dia adalah benar. Dan penyair adalah bohong.”
7. Kisah pandai besi dari Rum
Satu hal yang lucu telah kejadian. Di Makkah ada tinggal seorang pandai besi berasal dari negeri Rum, menerima upah membuat pedang. Orang itu tidak berapa fasih berbasa Arab, dan bukanlah dia seorang failasuf atau guru, meskipun berasal dari Romawi. Kepandaiannya hanyalah semata-mata menempa besi. Nabi Muhammad (saw) pernah datang dua tiga kali ke bengkel tempat orang itu bekerja. Mungkin tertarik melihat kepandaiannya membuat pedang. Maka disebarkan berita oleh musuh-musuhnya ketika itu berita bahawa Nabi Muhammad (saw) belajar kepada orang Rum pandai besi itu. Berita inilah yang dibantah oleh Al-Quran dengan cara berfikir yang teratur di dalam Surah An-Nahl (Surah ke-16) ayat 103.
“Dan demi sesungguhnya Kami mengetahui, bahawa mereka yang musyrik itu berkata: ” Sebenarnya dia diajar oleh seorang manusia”. (Padahal) bahasa orang yang mereka sandarkan tuduhan kepadanya itu ialah bahasa asing, sedang Al-Quran ini berbahasa Arab yang fasih nyata.”
[Al-Quran 16:103]
Sesungguhnya Tuhan mengetahui apa yang mereka tuduhkan itu, yaitu bahawa Muhammad diajar oleh manusia, bukan wahyu dari Tuhan. Manusia itu ialah pandai besi Rumi. Padahal lidah Rumi itu ialah lidah ajami (bukan Arab), sedang wahyu yang turun ini adalah lidah atau bahasa Arab yang terang, yang jelas lagi fasih.
Cobalah fikir dengan akal yang teratur, adakah mungkin di akal seorang Rumi yang tidak fasih berbahasa Arab mengajar Nabi tentang wahyu dengan bahasa Arab yang sangat indah, di atas segala keindahan. Sedang pemuka-pemuka Quraisy yang ahli dalam bahasa, selama ini tidak mengenal sedikitpun tentang pandai besi Rumi itu lain dari langganan yang baik dalam pembikinan pedang.
Sumber: Tafsir Al-Azhar Jilid 1
Saya mualaf,
hari ini saya ditanya teman yang nasrani, seorang sarjana Bahasa Indonesia. Mengapa di Alquran di tulis Kami jika Allah itu Esa? Karena Kami artinya jamak, itu artinya Allah dalam Islam tdk satu?
Assalamualikum..
Alhamdulillah kita sodara sesama muslim.dan semoga kelak mbk nisha mjd muslimah yg di ridhoi Allah ta’ala..
Mbk nisa..jika sdh berada dalam jalan Allah SWT,janganlah pernah ragu dan bimbang atas apaa yg sdh mbk yakini.mungkin mbk masih ad rs sdikit ragu.sy ykin it mngkin krn mbk nisa duluY bragama “itu” yg notabenY ajaranY melenceng dr ap yg d’ajarkan Allah SWT.tp yakinlah dgn “islam”Allah SWT ini..memang benar adaY.hanya saja mgkin pemahaman mbk trhdp islam bserta isiY masih dlm proses.sy yakin betul..jika mbk nisa mau blajar lbh dalam lg tntg islam,Alquran,(bs jg berkmnikasi dg yg ahli agama)kelak mb nisa akan bs mnjawabi brbagai prtnyaan “mreka non-muslim” yg meragukan ajaran islam yg sesungguhnya tdk ad yg prlu diragukan ini.dan dpt pula mnjadikan mb nisa muslimah yg lbh taat.aminn..:)
Wssalamualaikum
Assalaamu’alaykum
Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan kepada kita semua.
Saya pernah mendengar jawaban dari seorang ustadz ketika ditanya masalah ini. Berikut kira-kira jawaban beliau yang saya nyatakan dengan bahasa saya:
Menurut beliau hafidhahullah, Allah jalla wa a’la berfirman dalam surat asy-Syu’araa’ ayat 192-195 yang artinya
“Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”
Oleh karena al-Qur’aan diturunkan dalam bahasa arab yang jelas maka untuk menjawabnya kita harus kembalikan kepada uslub dan kaidah bahasa arab.
Menurut uslub bahasa arab penyebutan “Kami” untuk kata tunggal merupakan hal yang ma’ruf atau dikenal dalam kaidah bahasa arab. Sebagaimana kita sering mengucapkan “Antum” untuk makna tunggal.
Jadi bagi orang Arab tidak akan jadi “masalah” kita menyebut “Kami” untuk makna tunggal. Hal tersebut diperkuat oleh fakta sejarah, bahwa tidak ada satupun kaum kafir Quraisy pada waktu itu di Makkah yang membantah da’wah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam dengan menggunakan dalih tersebut, padahal betapa mereka sangat menentang da’wah tauhid yang diemban oleh Rosulullah.
Mengapa Abu Lahab, Abu Jahal dan konco-konconya tidak menggunakan dalih tersebut dalam membantah da’wah Nabi, padahal cukup rasional dan kuat bukan???!
Jawabnya: karena mereka sangat paham dengan bahasa Arab.
Permasalahan tersebut baru banyak ditanyakan ketika Islam sudah menyebar sampai ke negeri ‘ajam (di luar Arab). Karena banyak diantara penduduk non Arab yang tidak memahami kaidah bahasa Arab.
Wallahu’alaam
Assalaamu’alaykum
Pemahaman kata Aku atau kami jangan terlalu di persoalkan karena hal tersebut adalah salah satu bentuk dari pada keindahan, kerahasiaan dan daya tarik dari kandungan Al Quran sehingga bagi kaum Muslim sendiri hal tersebut dapat menjadikan pemicu untuk menelaah dan mencermati kemukjizatan Al Quran adapun orang – orang non muslim yang sengaja mencari – cari celah untuk menghancurkan akidah umat muslim kita biarkan saja….., toh dalam Al Quran sudah jelas tersurat ” Lakum dinukum waliyadi ” ” Bagiku Agamaku bagimu agamamu ”
Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui segala – galanya Maha Benar Firman Allah !!!
@ Joko : kan dia bilang tadi perumpamaan/Misalkan….??
nih baca….
“Misalnya, seorang presiden dari negara arab mengatakan begini,”
dia yg bego apa mata lu yg Buta,,,?? Apa hati lo yg Munafik….???
wassalam,
Sekian terima kasih
Shalomo eleikhem… (Yohanes 20:26)
-Respect, Peace and Love-
Sungguh agama yg I berkahi Allah SWT ini mencintai kesederhanaan dan kedamaian tanpa hal-hal yg onar.
Begitu banyaknya skarang para non-muslim mengakui kebenaran ajaran islam bserta kandunganya.dan sedikit mreka dr klangan tinggi dlm (agamaY)terdhulu.Misal,pendeta,pastor,dll..ygnotabenY anti islam.semoga semakin tuaY usia bumi ini semakin byk yg sadar akan ajaran Allah SWT yg memang benar adaY.
Wallahhualam :)
DIJUAL MURAH CUMA 900 RB “KITAB SAHIH TAFSIR IBNU KATSIR” UTK LEBIH RINCINYA SILAHKAN DI LIHAT DI http://tokoonlineaku.blogspot.com/2010/09/shahih-tafsir-ibnu-katsir.html ATAU HUB ID YM DESASALAF ATAU EMAIL DESASALAF@YAHOO.COM
kk : surat alfatihah mempunyai banyak faedah antara lain ;
Al Fatihah sebagai obat dengan izin Allah suhanahu wata’ala. Al Imam Al Bukhari meriiwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu tentang kisah kepala kampung yang tersengat kalajengking. Lalu beberapa shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam meruqyahnya dengan membacakan surat Al Fatihah kepadanya. Dengan sebab itu Allah suhanahu wata’ala menyembuhkan penyakit kepala kampung itu.
Terkait dengan shalat sebagai rukun Islam yang kedua, Al Fatihah merupakan unsur terpenting dalam ibadah itu.
jd turunya surat alfatihah itu sebagai petunjuk bgmn cara seorang hamba memohon kepd alloh swt
Buat KK terima kasih atas Copy Pastenya, ada semakin memantapkan Aqidah Saya dalam ISLAM.
[...] Kata Aku dan Kami dalam Al Quran [...]
to Joko
penuhi dulu ilmu pengetahuanmu, setelah itu silahkan nulis coment
bismillah, ijin share yaa akh..jazakallahu khair
maksih aku suka itu…
Assalamualaikum
izin copy , jazakallahu khairan
[...] Sumber : http://adiabdullah.wordpress.com/2008/12/02/kata-aku-dan-kami-dalam-al-quran [...]
[...] : http://adiabdullah.wordpress.com/2008/12/02/kata-aku-dan-kami-dalam-al-quran/ Artikel dari : [...]
Subhanallah…
Uraian yang bagus sekali dan benar-benar bermanfaat.
Izin share yah.. bagus nh..
Masukkan lah seluruh air laut di bumi ke dalam sebuah ember jika kalian bisa!! Begitu juga dengan otak manusia, kalian tidak bisa memasukkan seluruh pengetahuan mengenai Tuhan ke dalam otak. Apabila kalian sama tahunya atau bahkan melebihi Tuhan akan pengetahuan mengenai apa, siapa, bagaimana, seperti apa itu Tuhan maka kalian sama saja dengan menghujat Tuhan. Apa yang mustahil bagi manusia tidaklah mustahil bagi Tuhan. Hanya orang-orang yang cerdas dan terbuka yang dapat berpikiran bahwa dia bukanlah apa-apa dan siapa-siapa dalam mendeskripsikan sosok Tuhan. Itulah sebabnya, seluruh kitab agama di dunia kecuali Al-quran, tidak ada yang tahu mengenai pendeskripsian Tuhan, karna itu adalah misteri yang manusia tidak mengetahuinya karna Tuhan itu MAHATAHU. Jika Tuhan ingin menjadi sehelai daun untuk semenit saja, siapakah yang tahu dan siapakah yang dapat menolak-Nya??TAK SEORANGPUN….Itu lah kehendak Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jangan men-judge dari hal-hal yang tidak pasti, tetapi buktikanlah! Itu lah pengetahuan yang paling kuat bagi manusia, sebuah pembuktian. Dan kita tahu kita tidak dapat menghadirkan Tuhan untuk menjadi bukti, tetapi hanya kehendak-Nya sajalah. Itu artinya pengetahuan kita terbatas….Jika kalian semua masih tidak paham maka kalian sama saja dengan orang-orang Yahudi. Yahudi tidak mengakui kebenaran di luar ajaran Taurat dan kemudian datang ajaran yang menyangkalnya. Kalian juga seperti itu, maka suatu saat akan ada ajaran yang menyangkal juga (sekarang sudah banyak dan kalian menyebutnya ajaran sesat di era modern ini). Mereka (ajaran yg dikatakan sesat) berkata bahwa mereka mendapat wahyu dari Tuhan sedangkan kalian juga berkata demikian. Siapakah yang dapat dipercaya? Ajaran yang dapat dipercaya kini adalah ajaran yang Tuhan sendiri yang menyampaikannya, bukan melalui perantaraan. Perantara bisa saja berkata lain, tetapi Tuhan adalah perkataan yang pasti. Siapa yang dapat melarang Tuhan datang langsung kepada manusia??sekali lagi, TAK SEORANGPUN!!
Alhamdullilah. Terima kasih atas penjelasan makna Kami & Aku
Aku berlindung kepada Allah dari segala godaan setan yg terkutuk
dengan nama Allah yg Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah
dan aku bersaksi bahwa Muhammad saw adalah pesuruh Allah.
25 Nabi beragama Islam hanya menyebah Allah
Kitab orang Islam adalah Zabur, Taurat dan Injil dalam Al Qur’an
Agama yang diridhoi oleh Allah hanya Islam
Allah
1. Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.
2. Allah adalah tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
Reff:
http://www.media-islam.or.id
Tauhid: Mengesakan Allah
Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan
kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan
menyembah sembahan lainnya selain Allah:
Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid,
yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan menyembah sembahan
lainnya selain Allah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti
kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan Yang Esa”.
Seorang Muslim wajib beriman atau mempercayai bahwa Tuhan itu ada.
Sebagaimana TV, Mobil, Kulkas, dan lain-lain yang tidak mungkin terjadi
dengan sendirinya tanpa ada pembuatnya, begitu pula langit, bumi,
bintang, matahari, manusia, dan lain-lain. Tentu ada yang membuatnya,
yaitu Allah!
“Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap
dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari
tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang
laki-laki yang sempurna?” [Al Kahfi:37]
“Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap
dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari
tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang
laki-laki yang sempurna?” [Al Kahfi:37]“Allah menciptakan langit
dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mu’min.” [Al
'Ankabuut:44]
Setelah mempercayai keberadaan Tuhan, ummat Islam wajib beriman bahwa
Tuhan itu satu.
Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan
kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan
menyembah sembahan lainnya selain Allah:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti
kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan
Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.” [Al
Kahfi:110]
Nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim juga mengajarkan tauhid
kepada ummatnya, yaitu agar hanya menyembah satu Tuhan, yaitu: Allah,
dan tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan
teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia
termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” [An Nahl:120]
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim
seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.” [An Nahl:123]
Luqman yang saleh pun dalam Al Qur’an diceritakan menasehati agar
anaknya tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia
memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah
benar-benar kezaliman yang besar”.” [Luqman:13]
Seharusnya setiap orang tua mencontoh Luqman untuk menanamkan ajaran
Tauhid kepada setiap anaknya.
Dalam Islam, mengesakan Allah adalah rukun yang pertama. Jika seorang
masuk Islam, dia harus menyatakan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah
dan Muhammad adalah utusannya:
“Hadis Ibnu Umar r.a: Nabi s.a.w telah bersabda: Islam ditegakkan di
atas lima perkara yaitu mengesakan Allah, mendirikan sembahyang,
mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan Haji
” [HR Bukhori-Muslim]
Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku
bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [Al
An'aam:79]
“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan
mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir
mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” [Al An'aam:1]
Jika ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah, misalnya
berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sia-sia, karena berhala itu
bukanlah Tuhan yang Maha Pencipta. Justru berhala itulah yang dibuat
oleh manusia:
“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang
tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri
buatan orang.” [Al A'raaf:191]
“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu
yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi
manfa`at?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
[Al Maa-idah:76]
Menyembah Yesus atau Isa sebagai Tuhan adalah dosa yang amat besar.
Tuhan adalah Pencipta alam semesta, sedang Yesus atau Isa bukanlah
pencipta alam semesta. Yesus atau Isa adalah seorang manusia yang
dilahirkan dari rahim ibunya, Siti Maryam:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya
Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri)
berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” [Al
Maa-idah:72]
Sesungguhnya, kafirlah orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu bisa
beranak dan dilahirkan layaknya manusia, sehingga ada lebih dari 1
Tuhan seperti Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Bagaimana Allah bisa punya
anak, padahal dia tidak punya istri? Adakah (na’udzubillah min
dzalik!) mereka mengira bahwa Tuhan berzina dengan Maryam sehingga
punya anak di luar nikah? Allah SWT membantah kebohongan itu:
“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal
Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia
mengetahui segala sesuatu.” [Al An'aam:101]
Dalam surat Al Ikhlas ditegaskan:
“Katakanlah: Allah itu Satu
Allah tempat meminta
Dia tidak beranak dan tidak diperanakan
Dan tak ada satu pun yang setara dengannya” [Al Ikhlas 1-4]
Q belum mengerti tu tentang kami dan saya …..????????,,,,,
bagus, bagus sekali uraian di atas. sungguh ada kawan (tp dia jg muslim) bertanya ttg hal ikhwal “kami” akan surah-surah di Al Quran. Sbtlnya saya juga sdh memiliki jawababnnya, namun krn kurang yakin, jadilah googling mencari ilham.
eh, ketemulah ini jawaban. sebagai referensi daripada jawaban yg akan saya berikan. jadi semata bkn berasal dari sumber, melainkan dari sumber pelengkap yg menyertai.
iya, klo punya facebook, silakan add FB saya, di FB namanya “adjiebond inutaisho”
Terima kasih banyak sebelumnya.
[...] Pada zaman Rasulullah, banyak para sahabat yang menghafal Al-Qur’an dan banyak juga yang menuliskannya di kain, batu, dan lainnya. Tanpa adanya asbab pikir dari para sahabat, niscaya sampai sekarang kita tidak akan bisa membaca Al-Qur’an. Sekarang begitu mudahnya kita mendapatkan Al-Qur’an. Dalam firman Allah SWT: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya“ (QS. Al-Hijr:9) Kata “Nahnu” atau “Kami” maksudnya adalah Allah beserta makhluk ciptaan-Nya berperan dalam menjaga Al-Qur’an. Untuk lebih jelasnnya tentang kata Aku dan Kami dalam Al-Qur’an, silakan di klik http://adiabdullah.wordpress.com/2008/12/02/kata-aku-dan-kami-dalam-al-quran/ [...]
joko dari nama aja lu dah nama kebanyakan…di makassar banyak warung mas joko…jadi otakmu dlam menganalisa kalimat juga standar kalau tdak mau dibilang dungu….kencingi air zam-zam maka kamu akan terkenal…nah itu cara lo mncuri prhatian…:)
Saya ingin menanggapi PENDAPAT saudara kk di atas.
Pertama Saya mengakui kejelian saudara kk dalam mencermati Ayat-ayat Alquran, karena memang beginilah seharus nya kita dalam mengkaji Alquran, bukan hanya dibaca-baca bahasa arabnya saja, tanpa mengerti makananya.
Pendapat saudara kk adalah pendapat yang setaraf dengan ilmu yang dimilikinya. Kalau saudara kk terus belajar lebih dalam dalam memahami Alquran, nanti akan dapat jawaban yang sebenarnya.
Coba perhatikan ayat berikut;
”Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisaa’ : 82).
Sebenarnya, kalau kita mau jujur pada diri sendiri, banyak kita lihat dalam Alquran ayat-ayat yang bertentangan ” bunyinya “. Namun sebenarnya ayat-ayat itu tidaklah bertentangan maknanya, tapi karena ilmu kita untuk memahami Alquran masih dangkal, kita dengan cepat menganggapnya begitu.
Sebenarnya telah dinyatakan dalam Alquan itu bahwa hanya orang-orang yang MENDALAM ILMUNYA saja yang akan yakin kepada kebenaran Alquran.
seperti pada ayat berikut:
Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Allah Rabb kami”. (QS. Aali Imran : 7).
Kalau boleh saya beri contoh yang lebih jelas adalah;
Adakah saudara kk sudah mengetahui makna ayat-ayat yang sering kita temukan dalam Alquran seperti :
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” (QS. Nuh: 15.)
Mana itu tujuh langit ?, banyak yang bilang itu lapisan atmosfier bumi, jelas ini tidak tepat karena lapisan- lapisan atmosfier bumi itu baru ditemukan sekarang dengan alat technologi modern, bagaimana dengan orang yang 1400 tahun dulu memahami tujuh langit ini ?.
Hanya orang yang mendalam ilmunya yang memahaminya.
Contoh ayat lain.
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan. dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). (QS. Almu’minun; 17.)
Sekarang, mana itu tujuh jalan, kalau Tuhan memberi kita jalan, kan untuk kita tempuh, jadi kalau kita tak tau mana itu tujuh jalan berarti kita orang yang merugi.
Karena itu sekali lagi saya tekankan kita sebenarnnya BELUM MENYENTUH makna yang sebenar nya dari ayat-ayat Alquran. Kita baru membaca yang tersuratnya dan belum paham yang tersirat.
Kenapa saya bilang bahwa kita BELUM MENYENTUH makna sebenarnya?
Coba perhatikan ayat berikut:
“tidak menyentuhnya (Alquran) kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS.AL-Waqiah; 79)
Kalau kita mau sedikit berpikir, ayat diatas sebenarnya bukan berarti menyentuh kiatab atau buku Alquran, akan tetapi, menyentuh makna atau hakikat yang terkandung dalam Alquran.
Karena kalau yang dimaksud hanya menyentuh kitab/buku Alquran, maka ayat ini tidak tepat karena pada zaman nabi dulu Alquran ini belum dibukukan, tetapi dihafal oleh para sahabat. Jadi jelas disini kalau kita ingin menyentuh makna sebenarnya dari Alquran, maka kita mesti belajar menyuci diri dulu, tapi bukan hanya dengan berwuduk yang zahir, tetapi yang lebih utama adalah menyuci yang batin.
Sekali lagi HANYA ORANG YANG MENDALAM ILMUNYA YANG PAHAM.
Maka marilah kita sama sama MENGKAJI bukan lagi mengaji tapi MENGKAJI makna tersimpan dalam Alquran.
Mohon ma’af dan Wassalam
NB: Lapangkan dada dan pertajam pikiran dalam mendalami perkara yang penting yaitu perkara selamat dunia sampai akhirat. Jangan cuma ikut ikut, tetapi beramallah dengan ilmu.
KATA “KAMI” DALAM AL QUR’AN
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Allah SWT Maha Esa, berarti Dia itu satu, bukan dua atau tiga. Maha Suci Allah dari sifat lebih dari satu.
Allah SWT itu bukan manusia dan bukan pula makhluk hidup dengan jenis kelamin. Maka Dia bukan laki-laki dan juga bukan perempuan, bukan pula banci (na’udzubillah minta dzalik).
Adapun bahasa arab, memang punya 14 dhamir atau kata ganti orang. Mulai dari huwa sampai nahnu. Huwa adalah kata ganti untuk orang ketiga, tunggal dan laki-laki.
Di dalam Al-Quran, penggunaan kata ganti orang ini sering juga diterapkan untuk lafadz Allah SWT. Al-Quran membahasakan Allah dengan kata ganti Dia (huwa). Di mana makna aslinya adalah dia laki-laki satu orang. Tetapi kita tahu bahwa Allah SWT bukan laki-laki dan juga bukan perempuan atau banci.
Kalau ternyata Al-Quran menggunakan kata ganti Allah dengan lafadz huwa, dan bukan hiya (untuk perempuan), sama sekali tidak berarti bahwa Allah itu laki-laki.
Penggunaan kata ganti huwa (yang sebenarnya untuk laki-laki) adalah ragam keistimewaan bahasa arab yang tidak ada seorang pun meragukannya.
Maka demikian pula dengan penggunaan kata nahnu, yang meski secara penggunaan asal katanya untukkata ganti orang pertama, jamak (lebih dari satu), baik laki-laki maupun perempuan, namun sama sekali tidak berarti Allah itu berjumlah banyak.
Orang arab sendiri akan terpingkal-pingkal kalau melihat cara orang Indonesia berusaha menyesatkan orang lain lewat logika aneh bin ajaib seperti ini, yaitu mengatakan Allah itu banyak hanya lantaran di Al-Quran Allah seringkali menggunakan kata ganti kami (nahnu). Betapa kerdilnya logika yang dikembangkan, niatnya mau sok tahu dengan bahasa arab, sementara orang arab sendiri mafhum bahwa bahasa mereka istimewa.
Tidak semua kata nahnu (kami) selalu berarti pelakunya banyak. Memang benar secara umum kata nahnu menunjukkan jumlah yang banyak, tetapi orang yang bodoh dengan bahasa arab terkecoh besar dengan ungkapan ini. Sebenarnya kata kami tidak selalu menunjukkan jumlah yang banyak, tetapi juga menunjukkan kebesaran orang yang menggunakannya.
Misalnya, seorang presiden dari negara arab mengatakan begini, “Kami menyampaikan salam kepada kalian”, apakah berarti jumlah presiden negara itu ada lima orang? Tentu saja tidak. Sebab kata “kami” yang digunakannya menggambarkan kebesaran negara dan bangsanya, bukan menunjukkan jumlah presidennya.
Tukang becak di pinggir jalan pun tahu bahwa yang namanya presiden di semua negara pastilah jumlahnya cuma satu, tidak mungkin ada lima. Hanya orang bodoh saja yang mengatakan presiden ada lima. Dan hanya orang bodoh tidak pernah makan sekolahan saja yang mengatakan bahwa Allah itu ada banyak, hanya gara-gara Dia menyebut dirinya dengan lafadz KAMI.
Ini adalah logika paling gila yang pernah diucapkan oleh hewan yang merayap di muka bumi yang mengaku bernama manusia. Dan sayangnya, dengan logika jungkir balik tidak karuan seperti ini, masih saja ada orang yang mau melahapnya mentah-mentah. Masih saja jatuh korban kesesatan tidak lucu dari massa mengambang muslim.
Dan sayangnya, masih saja ada yang bertanya seperti ini di situs Eramuslim, cukup aneh dan tidak jelas apa motivanya.
Wallahu a’alm bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
MEMBANTAH FITNAH KEJI ATAS DIRI MUHAMMAD SAW.
Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Penghinaan atas diri pribadi nabi Muhammad SAW sudah terjadi sejak lama, bahkan saat beliau masih hidup, berulang kali hinaan, cacian, makian dan sumpah serapah telah beliau terima.
Terkadang masih ditambah lagi dengan tekanan pisik yang amat pedih. Pukulan, hantaman, lemparan batu bahkan percobaan pembunuhan oleh konspirasi perwakilan semua kabilah Quraisy.
Kalau kita perhatikan, semua bentuk penghinaan dan tekanan itu terjadi pada saat orang-orang kafir gagal membantah kebenaran agama Islam. Tuduhan bahwa nabi Muhammad SAW itu gila yang pernah mereka lontarkan, tidak terbukti. Sebab semua orang tahu bahwa beliau tidak gila. Tuduhan bahwa beliau penyihir, juga tidak terbukti, sebab sama sekali tidak ada kemiripan dengan penyihir.
Tuduhan bahwa Muhammad SAW adalah penyair, lagi-lagi tidak bisa terbukti. Sebab beliau bukan ahli syi”ir dan Al-Quran sangat berbeda dengan semua bentuk syi”ir arab.
Akhirnya, karena secara ilmiyah tidak bisa membantah kebenaran agama Islam dan kenabian beliau, orang-orang kafir itu mulai melakukan apa saja dengan segala cara, asalkan bisa membuat orang berpaling dari agama Islam.
Maka mulailah pelecehan mereka berpindah kepada hal-hal yang bersifat pribadi. Tapi karena ciri fisik beliau terlalu sempurna, maka dicari lagi sisi-sisi negatif lainnya. Syetan lalu membisikkan hati orang-orang kafir dan memberi ide segar, yaitu lewat pernikahan nabi SAW dengan beberapa wanita.
Celah sempit inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang hatinya penuh penyakit. Tidak peduli dengan fakta sejarah, buat mereka, apapun karangan, asalkan bisa memojokkan dan membuat berpandangan negatif terhadap pribadi beliau SAW, jadilah.
Padahal semua wanita yang beliau nikahi tidak lain adalah para janda, yang tidak bisa dikatakan muda, apalagi cantik. Satu-satunya isteri yang dinikahi dalam keadaan perawan hanyalah Aisyah ra. Meski pada usia yang masih muda, tapi ukuran usia nikah di semua peradaban dunia ini tidak bisa disamakan.
Misalnya, di Yaman kita sering mendengar pernikahan antara suami yang berusia 10 tahun dan isteri yang berusia 8 tahun. Ini adalah tradisi dan kebiasaan yang berkembang di suatu tempat. Mungkin berbeda dengan yang ada di tempat lain. Tetapi tidak bisa dijadika sebagai bahan untuk melecehkan pribadi orang yang dilahirkan dan dibesarkan di tempat tersebut.
Adapun nabi Muhammad SAW beristri banyak, bukan hal yang aneh. Kalau kita membaca sejarah para raja dan orang di masa lalu, tidak perlu jauh-jauh, seratusan tahun yang lalu pun, kita masih sering mendapati poligami. Bahkan tidak jarang mereka punya isteri sampai seratus.
Hanya di masa sekarang ini saja poligami menjadi tidak lazim, akibat penetrasi kebudayaan barat yang mengindung kepada kebudayaan Romawi kuno, yang konon kurang menyukai poligami.
Tentunya, amat tidak logis menghina nabi Muhammad SAW dengan hinaan-hinaan yang demikian, padahal umat manusia di masa lalu melakukannya, bahkan menjadikannya bagian dari kelaziman kehidupan.
Kalau nabi Muhammad umpamanya pernah melakukan pencurian, pemerkosaan, atau pembunuhan massal, ini hanya umpama, mungkin bolehlah dihina. Tapi kalau belaiu melakukan hal yang lazim di tengah suatu peradaban, bahan mayoritas bangsa-bangsa melakukannya, tidak mungkin kita menghinanya. Dan atas dasar apa?
Nabi Muhammad SAW tidak pernah melakukan hal-hal yang universal ditentang oleh etika kemanusiaan. Beliau hanya melakukan hal-hal yang di masanya sangat lazim. Karena itu para pemuka Quraisy tidak pernah menghina nabi dengan tuduhan seksmaniak hanya lantaran beliau beristri lebih dari satu. Mengapa? Karena poligami di masa itu merupakan suatu kelaziman.
Mengapa orang-orang kafir di masa sekarang ini tidak menghina Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, Syu”bah dan lainnya? Padahal mereka pun seks maniak juga karena punya isteri lebih dari satu?
Mengapa tidak menghina para raja dari Inggris, Spanyol, Portugal, Belanda dan lainnya yang juga berpoligami? Mengapa hanya Muhammad yang dihina?
Semua menunjukkan bahwa intinya mereka hanya tidak suka pada agama Islam, tapi kesulitan mencari titik lemahnya. Maka jadilah apapun bentuk penghinaan dilontarkan, meski salah alamat.
Wallahu a”lam bishshawab, wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc. (wi)
BACK TO ISLAM.
to Ahmad Rizal S
Di Arab tidak ada presiden, adanya raja… penuhi dulu ilmu pengetahuanmu, setelah itu silahkan menghina orang
@ Joko dan kaumnya
jangan selalu mencari celah yang gak penting untuk mengktirik orang apalagi mengkritik Islam.
MISAL = UMPAMA
Ngapain juga harus bingung dengan kata “misalnya presiden…..” atau “misalnya Raja…..”, gw aja paham maksud Ahmad Rizal.
Semua menunjukkan mereka hanya tidak suka pada agama Islam, tapi kesulitan mencari titik lemahnya. Maka jadilah apapun bentuk penghinaan dilontarkan, meski salah alamat.
@ Ahmad Rizal
Terima kasih banyak atas pencerahannya.