Alhamdulillah…… setelah sekian lama perselisihan antara Al ustadz ja’far Umar Thalib dengan kalangan salafiyin, akhirnya beliau menyatakan ruju’ atas beberapa kesalahan beliau, dan berikut beberapa perkataan beliau…..
Dalam hal dzikir jama’ah yang mengundang kontroversi dikalangan Salafiyyin beliau berkata…
Maka dalam hal pandangan mafsadah (kerusakan) yang ditimbulkan oleh kehadiran saya di majlis itu, saya setuju dengan segenap yang hadir di rumah As-Syaikh Muhammad, dan saya nyatakan bahwa Ja’far Umar Thalib tidak sepantasnya untuk mendatangi majlis dzikir Arifin Ilham meskipun untuk berceramah padanya. Maka dengan tulisan ini sekaligus saya nyatakan bahwa mulai sekarang Ja’far Umar Thalib tidak akan hadir di majlis dzikir Arifin Ilham dan sekaligus juga Ja’far Umar Thalib menyatakan keluar dari Dewan Syari’ah Majlis Adz-Dzikra Arifin Ilham.
Kemudian dalam hal penghalalan musik beliau berkata….
Adapun permasalahan pandangan saya tentang halalnya musik berdasarkan bacaan saya dari buku karya Abdullah bin Yusuf Al-Judai’, maka para mahasiswa Indonesia itu memberi tahu saya bahwa telah terbit buku bantahan terhadapnya yang ditulis oleh As-Syaikh Abdullah Ramadhan bin Musa yang diterbitkan oleh Darul Mu’ayyid –Riyadh Saudi Arabia. Merekapun memberikan kepada saya buku bantahan tersebut sebagai hadiah untukku berupa kitab yang tebalnya 620 halaman. Saya dengan senang hati menerima hadiah tersebut yang sangat berharga bagi saya dan langsung saya pelajari sampai artikel ini saya terbitkan. Saya belum selesai mempelajarinya dan untuk sementara saya nyatakan disini bahwa saya mencabut peredaran fatwaku tentang musik ini. Dan saya terus mempelajari tentang masalah tersebut.
Kemudian dalam hal memberikan gelaran yang buruk kepada sesama Ahlus Sunnah wal Jama’ah beliau berkata….
Dan dalam rangka menjalankan apa yang dinasehatkan oleh As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali kepadaku, maka dalam tulisan ini saya lengkapi pernyataan taubatku kepada Allah dari tindakanku menggelari Salafiyyin di Indonesia dengan gelar Ahlul Fitnah wal Khiyanah (artinya tukang fitnah dan tukang khianat). Saya nyatakan bahwa saya telah bersalah dengan menggelari mereka seperti itu, dan dengan demikian saya cabut pernyataanku yang demikian itu. Maka dengan kerendahan hati saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap Salafiyyin atas kesalahan dan kedhalimanku terhadap hak kehormatan mereka.
Sebelum pernyataan tersebut Asy Syeikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali telah menasehati beliau, berikut nasehat beliau…..
………Maka dengan Pertolongan Allah Ta’ala dan kemudian dengan pertolongan beberapa ikhwan Salafiyyin di kota Jeddah, akhirnya pada tanggal 10 Mei 2008 saya bertemu As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali di rumah kediaman beliau di komplek perumahan Awali Makkah. Tampak beliau lebih tua dibanding pertemuan saya dengannya tujuh tahun yang lalu. Setelah salam dan saling menanyakan kabar, langsung saja teman Salafi yang membawa kami dari Jeddah (yaitu As-Syaikh Ahmad Al-Ghamidi), memperkenalkan kami dengan beliau. Dan tampaknya beliau telah lupa dengan saya sehingga beliau baru ingat kalau saya adalah Ja’far Umar Thalib yang memimpin Jihad Fi Sabilillah di Maluku dan di Poso.
Begitu beliau mengetahui bahwa yang datang ini adalah orang yang selalu diberitakan dan dilaporkan kepada beliau, langsung saja beliau bertanya kepada saya: “Apa yang kamu inginkan dari saya?”
Maka sayapun langsung menjawab: “Saya ingin mempertanyakan apa yang antum nyatakan tentang saya bahwa saya telah antum hukumi keluar dari manhaj Salaf.”
Demi mendengar pernyataan saya itu langsung beliau nyatakan: “Saya tidak akan memutuskan apa yang kalian perselisihkan kecuali kalau kedua belah pihak dari kalian telah berkumpul di hadapan saya. Hanya saja saya nasehatkan kamu untuk kembali bergabung dengan salafiyyin di Indonesia. Bukan sebagai pemimpin mereka, akan tetapi kamu menjadi sebagian dari mereka.”
Nasehat beliau langsung saya sambut dengan pernyataan: ‘Wahai Syaikh Rabi’, sesungguhnya sekarang ini tidak ada lagi perkara kepemimpinan. Namun saya ingin mendapat keterangan dan nasehat dari antum tentang mengapa saya dianggap keluar dari manhaj Salaf dan apa nasehat antum untuk saya agar saya dapat memperbaiki kekeliruan saya?”
As-Syaikh Rabi’ langsung menjawab: “Saya menganggap kamu keluar dari manhaj Salaf, karena kamu:
1. Menulis surat bantahan terhadap nasehat yang telah saya berikan berkenaan dengan kekeliruan kamu dalam memimpin jihad. Dari suratmu itu saya mendapati bahwa kamu bukanlah Ja’far Umar Thalib yang dulu. Karena tampak dari suratmu itu bahwa kamu telah bersikap tidak sopan kepada Ulama’.
2. Kamu memutuskan hubungan dengan Ulama’.
3. Kamu menggelari saudara-saudara kamu dari kalangan Salafiyyin dengan gelar yang jelek.
Karena itu saya nasehatkan kepadamu agar kamu meninggalkan arena politik praktis. Sebab dengan terlibat dalam arena politik itu kamu terlalaikan dari kemestian da’wah Salafiyah. As-Syaikh Al-Allamah Muhammad Amin As-Syanqithi rahimahullah menyatakan: “Politik gaya demokratisme itu adalah anak perempuannya anjing. Maka jangan kamu memasuki arena politik praktis itu.” Juga saya nasehatkan kepadamu untuk kamu bertaqwa kepada Allah dalam menjalankan kegiatan Da’wah dan ikhlaskanlah amalanmu itu hanya untuk Allah. Saya nasehatkan kepadamu agar engkau menulis berbagai kesalahanmu untuk kemudian kamu bertaubat kepada Allah Ta’ala dari berbagai kesalahan itu. Saya menasehatkan kepadamu agar kamu berupaya sungguh-sungguh untuk membangun semangat saling mencinta di antara kamu dengan saudara-saudaramu kalangan Salafiyyin. Upayakanlah untuk kamu kembali dalam suasana saling tolong menolong dengan mereka dalam rangka kebaikan dan ketaqwaan. Jauhkanlah berbagai sebab yang mengarah kepada perselisihan dan perpecahan di kalangan kalian. Karena perpecahan dan permusuhan diantara kalian itu telah melemahkan Da’wah Salafiyah di Indonesia. Allah Ta’ala berfirman:
Dan janganlah kalian bertikai di antara kalian, karena pertikaian itu akan menjadikan kalian kalah dari musuh kalian dan akan menghilangkan kekuatan kalian.” (Al-Anfal: 46)
Demikian As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah menasehati saya bagaikan Bapak yang menasehati anaknya. Beliau menahan saya di rumahnya agar saya makan malam bersama beliau. Namun karena As-Syaikh Ahmad Al-Ghamidi harus pulang ke Jeddah setelah shalat Isya’ maka kami memohon maaf kepada As-Syaikh Rabi’ dan beliaupun mengantarkan kami pulang sampai ke pintu keluar sambil terus menasehati saya untuk dapat kembali hidup rukun dengan ikhwan Salafiyyin di Indonesia sebagaimana dulu.
Allahu ‘alam…….Walhamdulillah Rabbul ‘alamin….
dinukil dari …
http://alghuroba.org/index.php?read=142










Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://agama.infogue.com/rujunya_al_ustadz_jafar_umar_thalib
Afwan, bisa tlg jelaskan makna perkataan As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah :
“Politik gaya demokratisme itu adalah anak perempuannya anjing.”
Jazakallah Khoir atas penjelasaanya & tulisannya ga kekecilan tuh (he..he..)
Shubhanallah! Alangkah indahnya nasehat As Syeikh Rabi’ demikian pula firman Allah dalam Surat Al Anfal 46 tersebut. ALANGKAH INDAHNYA ISLAM dalam saling menasehati, Alhamdulillah jika pernyataan Ja’far Umar Thalib memang ada dan benar adanya? mudah-mudahan diikuti oleh kelompok yang lain yang selama ini, ayo ormas dan umat Islam bersatu dalam Ukhuwah Islamiyah atau apa namanya…. yang penting Islam tidak terpecah belah yang membawa kerusakan…
Shubhanallah! Alangkah indahnya nasehat As Syeikh Rabi’ demikian pula firman Allah dalam Surat Al Anfal 46 tersebut. ALANGKAH INDAHNYA ISLAM dalam saling menasehati, Alhamdulillah jika pernyataan Ja’far Umar Thalib memang ada dan benar adanya? mudah-mudahan diikuti oleh kelompok yang lain yang selama ini, ayo ormas dan umat Islam bersatu dalam Ukhuwah Islamiyah atau apa namanya…. yang penting Islam tidak terpecah belah yang membawa kerusakan… Amien
Allahhuakbar……………
Melihat kondisi sekarang, sedih rasa hati ini.
Saya setuju dengan pernyataan ini (cuplik) : “Dan janganlah kalian bertikai di antara kalian, karena pertikaian itu akan menjadikan kalian kalah dari musuh kalian dan akan menghilangkan kekuatan kalian.” (Al-Anfal: 46)”
salam
Alhamdulillah smg Alloh mengekalkan hidayah kpd kita utk memegang manhaj salaf ini sampe akhir hayat ……& diteruskan oleh keturunan2 kita…….amin ya Alloh……..sungguh ini berita gembira buat salafiyin di Indonesia, smg dawah salaf makin kuat & bersatu padu…….
Jazakallah atas infonya,,,,
Kalau benar berita itu mari kita ucapkan hamdalah ….
Semoga Allah selalu menjaga beliau dan salafiyun di Indonesia dari perpecahan, amin….
============================================
http://serviceprinter.wordpress.com
by.: Abu Zulfa Alqudamah
Mosok ulama yang dihormati kok ya bilang gak sopan . . . . “Politik gaya demokratisme itu adalah anak perempuannya anjing . . . akh yang bener aja
Bagus laporannya. Lihat juga http://ruslihasbi.com untuk berbagai fatwa seroang ulama Indonesia lainnya.
sudah saatnya umat Islam harus bersatu.
salam ukhuwah.
sayang, pengakuannya tidak sesuai dengan perbuatannya…..
sayang, pengakuannya hanya di mulut…………….
terbukti, perbuatannya masih saja sama dengan yang dulu…..
kalau dia memang rujuk, mengapa tidak kumpul dengan asatidzah salafi….
kalau dia memang rujuk, mengapa masih saja duduk bermajlis dengan orang-orang yang tidak pantas dijadikan teman duduk….
Pengakuan tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan perbuatan…..
semoga Allah memberimu hidayah wahai saudara Ja’far Umar Thalib…..
Kita berpisah karena Allah……………
karena tidak akan mungkin kita bersatu sementara aqidah dan manhaj kita berbeda.
barakallahu fiina jami’an
alhamdulillah……
ana sangat berharap berita ini benar,
serasa ingin menetes air mata ini membaca artikel ruju’nya ustadz ja’far.
semoga Allah azza wajalla memberikan kelembutan dalam hati kita dan menyatukan kita,dengan persatuan yang haq.
Alhamdulillah, segala puji hanyalah bagi Allah Rabbul Alamin. Akhirnya, keluar juga pernyataan resmi dari Al-Ustadz Ja’far Umar Thalib tentang ruju’nya beliau dari beberapa kesalahan yang telah beliau lalukan dahulu. Dan apa yang beliau sampaikan dalam pernyataan ini, alhamdulillah SAMA dengan apa yang diberitakan oleh Al-Ustadz Abdullah bin Taslim, Lc. kepada ana, ketika Ustadz Taslim ziaroh ke Bandung akhir Juli 2008 lalu. bahkan ust. Taslim sempat menjamu/ mengundang ust. Ja’far dikediamannya di Madinah waktu itu. Dan kita mengambil zhahir dari penyataan ust. Ja’far tentang ruju’nya beliau dari kesalahan-kesalahannya. semoga Allah senantiasa memberkahi dakwah Ahlu Sunnah di Nusantara ini, memberikan hidayahnya kepada kita semua, juga mengampuni segala kesalahan kita.
Kita berdo’a kepada Allah, semoga hal ini menjadi salah satu sebab terjadinya persatuan di kalangan Salafiyin Indonesia seperti dahulu kala. Amin.
Alhamdulillah, dengan ruju’nya Ja’far Umar Tholib kepada manhaj salaf semoga semakin menguatkan dakwah salaf di indonesia.
alhamdulillah semoga semoga Allah meridhoi kita semua
boleh ana publikasikan???
Innalilahi wainaillaihi roji’un
Saya posting di beberapa milis antara lain
assunnah@yahoogroups.com
salafi_indonesia@yahoogroups.com
salafiyyin/messages@yahoogroups.com
semuanya menolak untuk dipampangkan
sedangkan milis islam-jamaah@yahoogroups.com
justeru moderatornya meloloskan untuk ditampilkan
Ada apa kira2 ya?????(tanda tanya besar)
Abah C.O
alhamdulillah
Semoga apa yg diucapkan benar, tapi dalam hal ini kita harus melihat perbuatannya sesuai tdk dgn apa yg diucapkan,biasa seseorang didepan Ulama tdk bisa berbuat apa2 setelah jauh dari ulama kembali lagi dengan perbuatannya wallahu A’alam Bishowab
wallahul musta’an…….
<blockquote>
Ini peryataan rujuk dari apa menuju mana ?
- Kalo rujuk dari hizbi menuju hizbi yang lain namanya bukan rujuk!
- Kalo rujuk dari hizbi menuju sururi namanya juga bukan rujuk!
- Kalo rujuk dari hizbi menuju salafy ini baru disebut rujuk!
Truz kalo memang rujuk :
- Koq saat daurah nasional (awal agustus 2008) dimana ulama ahlus sunnah datang Indonesia koq tidak bersegera mendatangi majelisnya beliau?
- Koq saat para asatidz salafy dan salafiyyin berkumpul di Jogja beliau tidak ada ?
- Belum ada bukti perbuatan yang beliau tunjukan di hadapan Ulama juga beliau lakukan di Indonesia.
Bagi yang rujuk tentu akan mendatangi, meminta maaf, dan berkumpul, seperti yang dinasehatkan Syaikh Rabi’ Hafidzahullah kepada saudaranya yang pernah dikatakan sebagai Ahlul Fitnah wal Khiyanah. Terutama sekali terhadap ustadz-ustadz yang menasehati langsung beliau dikala itu, semoga dengan demikian hilanglah sifat tinggi hati.
Semoga Allah membukakan hati beliau untuk benar-benar rujuk dan tunduk menerima kebenaran dengan hati ikhlas, pasrah, dan merendah.
Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yg sejalan dg sunnah maka ia terpuji, dan yg tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dg ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yg dimaksud adalah hal hal yg tidak sejalan dg Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yg baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yg buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yg baru adalah Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah sesat”, sungguh yg dimaksudkan adalah hal baru yg buruk dan Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib, Bid’ah yg mandub, bid’ah yg mubah, bid’ah yg makruh dan bid’ah yg haram.
Bid’ah yg wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yg menentang kemungkaran, contoh bid’ah yg mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yg Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yg umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yg umum yg ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yg Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yg bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yg disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yg tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?
assalamu’alaikum
salafy USU Medan
tukeran link yukk..
http://www.syabaabussunnah.wordpress.com
Barakallohufik
Jazakullohu khoir
alhamdulillah semoga Alloh memberkahi ustad ja;far, sebaik-baik orang yang salah adalah orang yang brtaubat kepada Alloh.selanjutnya semoga ustad dapat berbuat lebih baik lagi.kapan ustad bisa ziarah lagi ke surabaya, khususnya di manukan. ikhwan kangen ustad.jazakumulloh khoiron
Dalam tayangan acara majelis dzikir di TVRI baru-baru ini kerjasama dengan BRI…disitu Ustad Jafar tampil sebagai muwajih disana….menurut saya latar belakang beliau yang seorang ikhwani…akan tetap abadi. Sehingga tiada akan pernah seinchi pun akan berubah akhi….
saya rasa antum harus jeli dalam tabayun akhi jangan asal posting saja….
Assalamualaikum,
Ya Akhi, Dahulu ketika seorang baduy pada masa Rasulullah Mengucapkan Syahadat, kemudian shalat 5 waktu, tidak mengurangi dan tidak menambahnya, maka Ia masuk Surga.
Sekarang Ya Akhi, sudah banyak racun2 pemikiran yang merasuki kita secara sadar atau tidak sadar yang berakibat kepada berubahnya cara berfikir dan berpendapat kita, baik itu kita sadari atau tidak.
Ya Akhi, Jika beliau telah menyatakan tobat, maka janganlah berprasangka dengan prasangka yang banyak.
Ya Akhi, jauhilah dari kebanyakan prasangka.
Tentang urusan hati beliau, kita serahkan kepada Allah.
Wallahu A’lam
Kalau berita ini benar Alhamdulillah. Tapi para asatizd juga harus tetap waspada.Yang penting sekarang kita lihat sesuai nggak ucapan beliau Ust.Ja’far dengan perbuatannya. Ana yang berada jauh di pedalaman Kaltim berharap kepada Ust.Ja’far agar bertobat dengan sesungguhnya ke manhaj yang haq ini.Berdakwah seperti dulu saat sebelum menyimpang,ana akan muliakan Ust.Ja’far walaupun dengan dakwah ini menjadi miskin.
kita tunggu aja, yaaachh..mudah2an kedepannya da’wah salaf ini tidak tercoreng lagi …
Ruju’ dr mn k mn??Klo dari hizby ke surury,ya gak beda jauh..Ya moga bner2 ke salafy yg bner2 salafy
Assalaamu’alaykum Cah mbelink & ikhwah skalian,
Yg bner2 salafy tuh yg mana sih…?
Trus yg surury itu yg mana ya…?
Surury itu apa yah…?
‘Afwan
Akhi Muttaqin..semoga Antum dan kita bener2 menjadi ornag yg bertaqwa…
komen antum: “menurut saya latar belakang beliau yang seorang ikhwani…akan tetap abadi. Sehingga tiada akan pernah seinchi pun akan berubah akhi…. ” apakah antum ingin mendahului Allah? apakah antum mengetahui ttg hal yag Ghaib? ittaqillah ya akhi…. yang membolak-balikkan hati seseorang hanya lah Allah…! sangat mudah bagi Allah membolak-balikkan hati manusia dari baik ke buruk, dan dari buruk ke baik…
“ya muqollibal quluub tsabit qolby ‘ala diinik…’
[...] atau http://img126.imageshack.us/img126/6259/turotsiabdullahtaslimgeph0.jpg [15] http://adiabdullah.wordpress.com/2008/08/20/rujunya-al-ustadz-jafar-umar-thalib/ [16] [...]
Bismillah,
Ustadz satu ini dari dulu cepat sekali berubah pikiran tidak istiqomah, seperti bantahan thd Al-qordhowiy , Tapi mudah-mudahan apa yang diucapkan kali ini akan seperti yang di perbuat. dan jangan lagi berubah pikiran setelahnya.
Assalamu’alaikum,
Sungguh Nasehat yang sangat Baik dari As Syaikh Rabi terhadap ustdz jafar, Inilah apabila Seorang yang berIlmu ditanya Insya Allah akan dijawab dengan haq sesuai dengan pemahaman yang haq pula Dari Kitabullah dan sunnah Rasullullah…
Adapaun ru’junya ust jafar di pahami dengan prasangka baik dan kita sebaiknya memohonkan kepada Allah agar diberikan Pertolongan dan diselamatkan dari Kesesatan dan keteguhan hati untuk Istiqamah dalam beragama ini….
Pelanz.pelanz ya akhi ana berharap dan memohon kepada Allah agar ustd Jafar melakukan apa yang di nasehatkan oleh As Syaikh Ra’bi dengan Ke-Ikhlasan dan memahami kesalahan serta Ruju secepatnya,
wallahua’allam
Asssalamualaikum Wr.Wb
Sebelumya saya minta izin dulu sama mas Adi untuk copy-paste artikel ini ke blog saya. Saya suka sekali dengan artikel ini yang mana selama ini udah menjadi kontroversi bagi ikwan2 salaf terutama saya sendiri yang berada di Padang. Harapan saya dakwah salaf terus berkembang dan tidak terpecah-pecah lagi dan kepada Ust Jafar semoga beliau tetap istiqamah berpegang teguh pada manhaj yang lurus ini.
Barakallahufik,
pro aktif donk….. ya ustadz jafarnya atau salafiyin yang lainnya. Yang duluan silaturrahim itu yang masuk surga duluan……. remember it.
Assalamu’alaykum akhi..
Postingan yang sangat bagus.. sungguh barusan (beberapa hari yang lalu) ada yang tanya ana tentang perihal ini..
tentang detail yang ana jawab, mungkin kalo antum mau tahu antum bisa tanya langsung ke Yasser (di group Ahlus sunnah wal jama’ah FS), karena na takut salah..
tapi sungguh sebenarnya ada tersirat dalam benak ana, agar menyarankan yasser untuk tanya langsung ke antum..
insya Allah link ini yang akan ana berikan ke Yasser..
Barokallohu fik. semoga terus dimudahkan dalam rangka berdakwah.
akhi Alhamdulillah, semoga dalam hal ini kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) baarakallahu fiikum
bismillah ana berharap saudaraku salafiyyun tidak lancang berkomentar sebelum ada fatwa dari ulama kibaar, kita ini hanya orang awam jadi jangan berkomentar semau kita. ilmu kita ini tidak seberapa dibandingkan mereka yang banyak meluangkan waktu untuk tholabul ilmi. semoga alloh menjaga kita semua. tetaplah menuntut ilmu sampai karena barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka alloh akan mudahkan baginya jalan menuju surga barokallohu fiikum.
ust kita semua sayang kamong.. tolong buktikan rujukmu
dengan kumpul dengan asatidzah salafyin
Bismillah..
Akh ana mo tanya sebelum komentar, ko’ ana check link ini pada link kumpulan situs sunnah : http://situs.assunnah.web.id/category/aqidah-manhaj-2/ (Larangan Mencaci sahabat) itu dari Yazid Bin Abdul Qadir Jawas ya… Kalo dia sendiri manhaj nya apa ya?? Kan dia orang yayasan Al Sofwah ya?? yang dulu namanya yayasan Al Muntada kan? yang sama dengan Al muntada yg di London yg adalah yayasan Muhammad surur kan?? Bukan hanya sama namanya , kan mereka juga mengedarkan majalah sururi dari Al Muntada di Indonesia dulu kan? Kalo dia (Yazid) udah merubah nama yayasan menjadi Al Sofwah, bukan lagi Al Muntada, lalu dia rubah Manhajnya, apakah ada pernyataan dari Yazid yg menyatakan dia ga ada kaitan dgn mereka, bertobat dari kesalahan karna dulu bergabung dengan mereka??.
Anggaplah Ja’far benar2 Ruju’, Lalu nasehat dari Syaikh Rabi’ buat Ja’far tuk kembali berkumpul dgn Ikhwan2 Salafy di Indonesia, itu Ikhwan yg di maksud syaikh yang mana ikhwannya ya?? yg Salafy beneran atau yg sururi ya?? soalnya yg Sururi pun sekarang ga ngaku Sururi, mereka senang syaikh menasehati Ja’far tuk kembali, tapi mereka tau ga ya akh pandangan Syaikh Rabi’ tentang Yayasan Ut Turrots?? yg udah di tahdzir rame2 bukan hanya Syaikh Rabi’.. Lalu kira2 nasehat Syaikh Rabi’ itu di arahkan ke salafy yg mana ya yg harus ja’far kembali????????? Atau Ja’far bertujuan menipu syaikh (nauju billah minjalik. Cukuplah Allah menjadi saksi)…
Lalu, dia (Ja’far) bertobat dari menjuluki asatizah2 salafy yg dia juluki ahlul fitnah itu asatidzah yg mana ya??
Dulu yg dia maksud asatidzah yg memfitnah dia siapa?? yg dulu menasehati dia siapa?? yg kemudian dalam serangkaian edisi majalah Salafy (eh.. Salafty : Salaf demokraty) dia mencerca mereka?? Padahal kalo ga salah (pasti deh benar) itu semua murid2nya dia yg pernah dia sanjung ketika dia kunjungi mereka di Yaman lalu berkata : “mereka mantan murid2ku, namun sekarang ilmu mereka sudah lebih dari ilmuku, sehingga aku pun kini belajar dari mereka.” Itu ya Asatidzah yg di maksud.. Karna kalo ga salah (pasti bener deh).. Mereka itu deh yg di rekomendasikan oleh Syaikh rabi’,. Jadi kalo Jafar tidak Ruju’ tuk kembali bersama “mantan murid2nya itu, dia kembali kepada siapa ya?? apa dia kembali kepada ahlul turotsiy?? kalo begitu Mungkin dia salah alamat dalam menafsirkan nasehat Syaikh.. Inna lillahi wa inna ilahi rojiun..
Atau mungkin dia lupa kalo dulu Abdurrahman Abdul Kholik berkunjung ke Indonesia itu atas prakarsa siapa ya?? Yazid, Ainurrofik Gufron, Yusuf Utsman Ba’isa atau siapa ya?? Dia tau ga ya apa mereka (Yazid, Ainurrofik Gufron, Yusuf Utsman Ba’isa) dah bertobat blom ya dari kegiatan itu?? kalo belum bertobat, dia tau ga ya apa manhaj mereka ber tiga??…
Baiknya kita semua mengoreksi diri… Siapa yg dimaksud untuk ruju’ ke siapa.. apa ke Sururi, atau salafy.. Soalnya yg sururi juga ga mau di bilang sururi sih.. dah ngaku2 Salafy, dah pake acara nerangin apa itu sururi, bikin keruh arena da’wah.. Tapi kita semua berlindung kepada Allah, karna selihai apapun mereka, Allah akan perlihatkan makar2 mereka.. Waliyajubillah..
Apa ga sebaiknya kita perhatikan dulu manhajnya Yazid bin Abdul Qodir Jawas?? yah ini juga sebagai rasa sayang kita terhadap dia…, kalo dia salah kita nasehati, Mbo ya bertobat, kalo dia sydah tau kebenaran kita tanyain kenapa ko’ terus mengamalkan i’tikad bid’ah (i’tikad loh bukan amalan seperti shalat, puasa, maulid, dzikir. soalnya yg kaya gitu sih ngikutin salaf, tapi yg terjemahin shahih bukhari bareng Hidayat Nur Wahid ga banyak yg tau, hidayat itu yg suka ulas tafsir Fidzilalil Qur’an.. Apa ya pendapat Syaikh Rabi’ tentang Tafsir karya Sayyid Qutubh itu.. Trus gmn pandangan Syaikh Bin Baz, Utsaimin, Albani tentang sayyid Qutbh..) Jadi kalo ngumpul ama orang kaya Hidayat Nur Wahid itu sangsi ga ya kita dgn manhaj nya ?? atau mungkin ada ga ya pernyataan Yazid dari hal itu?? kalo ada dimana ya???
Kalo gitu, kita kan barengan nih ngaku salafy, kita coba check ke kitab2 bagaimana perlakuan para salaf terhadap orang yg sudah di cap ahlul bid’ah (bukan pelaku bid’ah loh, jadi ini capnya jelas dari ulama, bukan dari fulan bin fulan yg ga jelas manhajnya)..
Kalo salaf bersikap tegas terhadap ahlul bid’ah, trus kita ngaku salafy (yg katanya menyandarkan pada kaum slafushaleh, ko bermesra2an ama ahlul bid’ah ya?? mingkin ga kita di sebut Salafy?? atau masih memegang paham “tolong-menolong dalam apa yg kiita sepakati(sama), kita hormat-menghormati dalam apa yg kita berbeda..
Jadi cobalah di check lagi kemana Ja’far pergi, ke salafy yg dimaksud Syaikh Rabi’ atau bukan.. Kalo iya berarti dia ruju’ kalo bukan berarti dia terperosok, cuman kali ini beda kolam.. Kalo kemarin ke kolam tikus, kali ini malah lebih dahsyat, ke kolam buaya… hiiii serem….
Semoga kita semuanya diberi rahmat dan hidayah oleh Allah.. Dan Ja’far yg kita cintai karna Allah, dan kita benci juga karna Allah juga diberi hidayah kepada slafy yg benar…
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.
(Qs Al Qashash : 56)
Wallahu ‘alam
dunia belom berakhir, fastabiqul khairot ,kita tunggu keputusan Allah
apa iya…kayaknya belum rujuk tuh setau ana….
masak Jamarto menyerukan untuk mgirim pasukan jihad ke palestine
kayak yang punya agama syaik robi aja.
Bersatulah sahabat, hancurlah ahli bid’ah… hidupkan Sunnah… jangan mau diadu domba!!! hati2 banyak kaum munafikun dikalangan ahlus sunnah wal jama’ah…
bingung aku baca situs ini, ngalor ngiduol wae, jadi puyeng aku, podo wae critane, ngapunten